Wednesday, 11 July 2018

author photo
Kades Maspuad bersama Direktur BUMDes, Patarun Alim
PORTALTEBO - Beberapa warga Desa Tuo Sumay kecamatan Sumay, Tebo, selasa (10/7/2018) menggelar aksi demo dikantor Bupati Tebo. Mereka menuntut pembubaran Kepengurusan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Mempertanyakan Dana BUMDes yang habis untuk membeli alat transportasi air dan mempertanyakan pembelian alat transportasi air second (bekas).

Menanggapi tuntutan segelintir pendemo tersebut Kepala Desa (Kades) Tuo Sumay, Maspuad hanya tersenyum, walau sebenarnya aksi demo yang dipimpin Akmal Sekretaris BPD Tuo Sumay itu telah meresahkan dan merugikan nama baik Kepala Desa.

Maspuad menjawab semua tuntutan warga yang mengatasnamakan perwakilan Desa Tuo Sumay. Kepada portaltebo.com, Maspuad yang didampingi Direktur BUMDes, Fatarun Alim dan beberapa pengurus BUMDes menjelaskan dari awal pembentukan BUMDes.
Bukti hasil rapat yang dihadiri Camat Sunay

Saat pembentukan BUMDes sekitar akhir bulan Desember 2017, digelar rapat musyawarah mengundang semua warga desa dan perangkat desa termasuk mengundang BPD, namun Akmal tidak hadir. Rapat tersebut juga dihadiri oleh Camat Sumay dan Dinas terkait. Hasil rapat ditunjuklah Patarun Alim sebagai Direktur BUMDes, Ilham Alimaduddin sebagai Sekretaris dan Nur Asmira sebagai Bendahara.

Bukan hanya itu, hasil rapat juga mempercayai, A Zuni, Saparuddin dan Sari Ningsih sebagai Pengawas BUMDes. Mereka yang ditunjuk dan dipercaya dari hasil rapat ini memang sebagian masih ada hubungan keluarga dengan Kades, karena memang satu desa itu hampir semuanya berkaitan tali darah.

"Saat pembentukan, kita gelar musyawarah, dan yang menunjuk pengurus BUMDes adalah anggota rapat, tidak ada interpensi dari saya,"ungkap Maspuad pada portaltebo.com.

Kades sangat menyayangkan bahwa beberapa orang dari pendemo tersebut bukan warga Tuo Sumay, namun, Kades tetap berprasangka baik dengan para pendemo yang sebagian masih ada hubungan keluarga dekat.

“Sebagian dari pendemo itu, masih keluarga dekat, bahkan ada sepupu kontan saya yang ikut demo, tapi dak tahu apa yang didemo,”terang Maspuad.

Sementara itu, Direktut BUMDes Patarun Alim, menyampaikan hal yang sama dengan apa yang disampaikan Kades. Alim sapaan akrab Direktur BUMDes ini membantah kalau dirinya dipercaya sebagai Direktur BUMDes tanpa melalui rapat musyawarah.

"Kami punya data bahwa kami pernah melakukan musyawarah dalam pembentukan BUMDes, camat juga hadir waktu itu. Bahkan, berita acara pembentukan BUMDes kami juga punya," terang Alim.

Terkait pembelian alat penyebrangan air (Ketek) dirinya mengaku bahwa ketek tersebut bekas, namun alat penyebrangan itu masih layak pakai bahkan usianya masih berusia 8 bulan sampai 1 tahun.

"Dari pada kita buat ketek yang baru pembuatan jalan dan Dermaga dengan 600 juta, lebih baik kita beli yang bekas tapi layak digunakan dengan harga 350 juta termasuk dermaga dan jalan sepanjang 140 meter," katanya lagi.  

Untuk pembelian alat transportasi air tersebut, lanjutnya, pihaknya juga sudah melakukan analisis dan survei ke lapangan. Bahwa Ketek lebih layak di buat kegiatan BUMDES untuk pendapatan asli desa, dari pada buat pangkalan Gas LPJ, Pom Bensin Mini, Simpan Pinjam dan DO buah kelapa sawit.

"Untuk unit usaha, transportasi air lebih layak untuk pemasukan di desa. Dan keputusan itu juga sudah kita musyawarahkan dengan masyarakat,"pungkas Patarun Alim. (P05)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement