Friday, 17 November 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Mendengar nama mereka dibawa-bawa oleh suku anak dalam (SAD) yang mengemis di Kota Jambi, membuat para pihak termasuk SAD Bukit 12 akhirnya angkat bicara.

Menosur Tampung, salah seorang pemuda Bukit 12 menilai, Ibu-ibu SAD yang mengemis di kota jambi yang mengaku dari Bukit 12 itu tidaklah benar.

Sebab, menurutnya, pengakuan tersebut hanya mencatut nama saja karena aslinya dari wilayah lain.

"Mereka itu bukan dari bukit 12 tapi dari singkut," ujarnya saat menanggapi laman istagram yang dirilis (15/11/2017) tentang pengakuan ibu Suku Anak Dalam yang mengaku dari Bukit 12 ketika diwawancara saat mengemis dikawasan Tugu Juang, Kota Jambi, Rabu (15/11) malam.

Hal senada juga disampaikan  Penangguk Sunting, Orang Rimba Bukit 12 lainnya yang secara eksplisit membenarkan apa yang dikatakan Menosur Tampung.

Selain kedua pemuda rimba Bukit 12 yang menanggapi maraknya SAD atau Orang Rimba yang mengemis ke Kota Jambi. Ade Candra, selaku staf senior di Komunitas Konservasi Indonesia - Warung Informasi Konservasi (KKI-WARSI), atau lembaga yang selama ini konsern terhadap Orang Rimba juga memberikan tanggapannya.

Menurut Ade, yang dimaksud Orang Singkut oleh kedua pemuda rimba diatas adalah kelompok SAD yang nakal atau yang kerap menyetop mobil untuk meminta uang.

Keberadaan atau sebaran kelompok SAD ini, lanjut Ade, ada disepanjang lintas sumatera mulai dari wilayah singkut hingga Kabupaten Bungo.

"Makna penyebutan 'orang singkut' itu menurut Orang Rimba Bukit 12 adalah kelompok SAD yang degil karena kerap meminta uang kepada masyarakat," jelas Ade, ketika dihubungi media ini (17/11/2017).

Ade tidak menampik jika kelompok ibu-ibu yang kerap mendatangi Kota Jambi ini tujuannya memang untuk mengemis. Hal tersebut menurut Ade, kemungkinan kuat didasari karena keenakan mendapatkan uang dengan cara begitu.

Ketika ditanya apakah yang dilakukan kelompok SAD yang kerap mengemis di kota ini ada yang mengorganisir? Ade cuma  menjawab tidak menutup kemungkinan ada indikasi kearah itu. "Namun kelompok SAD ini kerap menutup diri," ujarnya menimpali.

"Kadang mereka menggunakan motor ke kota karena kendaraan umum banyak yang tidak mau menumpangi mereka," Namun begitu, lanjut Ade, dirinya juga menekankan, bahwa hal tersebut  baru sebatas dugaan karena pihaknya belum melakukan pendataan intensif terhadap SAD yang dimaksud.

"Beberapa kelompok SAD Bukit 12 rasanya juga pernah seperti itu diantaranya kelompok Jelitai dan kelompok Ngamal, yang berasal dari wilayah Kejasung besar dan  kecil, Kabupaten Batanghari," ujar pendamping senior di KKI-Warsi ini mengakhiri.

Sebelumnya, rabu (15/11) sekitar tiga orang ibu-ibu SAD terlihat dikawasan kota Jambi untuk mengemis sambil mengendong bayi atau anak-anaknya.

Dari pengamatan beberapa pihak termasuk Warsi, kelompok ini ketika mengemis memang tidak terlihat bersama laki-laki atau suami yang ikut mendampingi.

Ketika ditanya warga kota tentang alasan mengemis ke kota Jambi, ibu-ibu ini hanya menjawab bahwa tanaman mereka sudah habis digusur perusahaan.

"Malam itu saya ketemu langsung dengan mereka di kawasan Tugu Juang, Sipin, Kota Jambi. Mereka waktu itu minta uang (mengemis), saya ikut memberi karena memang kasihan," ujar Aidil, salah seorang warga kota jambi, yang bertemu langsung dengan SAD di malam itu (15/11/2017).

Aidil sempat ngobrol intinya hanya bertanya asal mereka dari mana dan alasanya apa, kemudian secara gamblang ibu tersebut mengaku dari Bukit 12 dan datang ke kota oleh kehendaknya sendiri.

"Tanaman jernang dan manau mereka habis dirusak perusahaan dan mengaku sudah tak punya pemimpin lagi," ujar Adil menirukan jawaban Ibu SAD seperti yang terekam di video yang sudah beredar di medsos. (p11) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement