Tuesday, 7 November 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Ibarat api dalam sekam itulah situasi dilapangan paska pembakaran pondok petani yang berada di Desa Sungai Lalang, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin.

Dampak api tak jelas ini (aksi anarkis) begitu saja meluas ke petani yang ada di Lembah Masurai. Selain itu kabarnya juga meluas ke kecamatan di.sekitarnya seperti Jangkat dan Jangkat Timur, serta kecamatan yang lainnya.

Api yang dipantik aksi brutal ratusan orang dihari kamis kemarin (2/11) telah memusnahkan tiga buah pondok atau rumah dengan cara menyerbu lalu membakarnya. Masalahnya, Ratusan pelaku paska itu seolah ikut musnah pula.

Semua mendadak bungkam dan sejauh ini tak satupun yang merasa paling bertanggung jawab. Terasa dekat tapi tersamar-samar.

Masalah berikutnya bagaimana dengan nasib petani yang jadi korban atau pondoknya yang dibakar itu? Dan ribuan petani  lainnya yang berada dalam satu hamparan?

Pondok petani disini sama halnya rumah yang menjadi tempat berteduh dan setiap saat tempat berkumpul bagi anggota keluarga.

Beda dengan pondok umumnya yang ada di kebun sawit, karet, duku, duren, yang berfungsi sekedar pelepas penat.

"Pagi itu, Kamis (2/11) sekitar jam 10 pagi tiba-tiba datang serombongan orang dari belakang sembari melempari atap dengan batu, memukul dinding dan tiang pondok" ujar Wansah (37), salah seorang korban yang pondoknya dibakar ratusan massa berkisah.

Perlawanan dan komunikasi tak ada sama sekali pokoknya mereka memaksa pergi dari lokasi karena kata mereka di lahan tersebut terlarang untuk berkebun.

Saya kemudian mohon untuk mengeluarkan isi pondok seperti alat masak, kasur dan sebagainya. Setelah itu pondok langsung di bakar.

"Jumlah rombongan seratus lebih dan baru ini ada aksi pembakaran seperti itu disitu, karena sebelumnya aman-aman saja!" tutur Korban.

Terpisah, Alharis, selaku Bupati Merangin mengaku belum tahu soal adanya pembakaran terhadap pondok-pondok petani tersebut. Namun menyikapi hal itu dirinya berencana akan meninjau ke desa.

"Saya belum mengetahui informasi adanya pembakaran pondok tapi besok saya akan ke desa," ujar Alharis, ketika di konfirmasi saat menghadiri acara pengukuhan Himpunan Pelajar Mahasiswa Merangin di Kota Jambi (3/11/2017).

Menurut Pendi, kepala dusun Sungai Tebal, Desa Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, yang warganya menjadi korban di kamis itu. Sikap pembakaran tersebut menurutnya, tetap harus dituntut karena tidak manusiawi lagi.

"Biarkan hukum yang bicara. Itu pandangan saya karena hal itu sudah dianggap tindakan yang tidak wajar," jelasnya saat menjawab pertanyaan media ini (6/11/2017)

"Harusnya kan duduk bersama dulu sebelum bertindak fatal seperti itu, makanya saya prihatin kenapa aksi pembakaran yang mesti ditempuh seolah tak ada jalan yang lain lagi," ujarnya bernada lirih.

Ia sangat mendukung agar kasus ini di proses secepatnya. Menurut Info katanya pak Bupati mau turun tapi sampai hari ini belum kelihatan.

"Kami disini resah sebab perasaan kita inikan sama apalagi sama-sama petani, sama-sama cari makan disini, kalau tidak cepat ditangani takut melebar ke masalah lain," ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, Mat Aji, warga Sungai Tebal yang juga dipercaya sebagai pimpinan organisasi tani di Merangin, menyampaikan rasa ke prihatinan yang mendalam atas aksi brutal yang menghanguskan tiga pondok atau rumah petani tersebut.

Kami sangat kooporatif dan menghormati proses hukum makanya hari ini (6/11) kami lakukan anjuran kepolisian untuk melaporkan tindakan anarkis ini ke Mapolres di Bangko.

"Hari ini proses laporan sudah dilakukan dengan LP/B-264/XI/2017/Res Merangin. Tadi saya ikut langsung menemani para saksi dan korban," ujar Mat Aji.

Sikap kooporatif ini menurutnya ada batasnya juga. Maksudnya jika proses hukum tak ada progres tiga hari ini dirinya sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.

"Emosi warga ini dari hari kehari terus bertambah sebab sudah tiga hari paska kejadian masih belum ada titik terang siapa pelaku dan apa motivasi aksi anarkis tersebut. Saya khawatir pihak korban khilaf kemudian mencari pelaku dengan caranya sendiri dan itu sangat bahaya," terang Mat Aji.

Yang penting dipahami lanjut Mat Aji masalah ini dipicu oleh aksi gerombolan massa yang bertindak anarkis dan provokatif seperti menginginkan kerusuhan.

"Jika besok terjadi kerusuhan artinya Bupati atau Pemkab bisa dibilang telah melakukan pembiaran. Mereka  tidak peduli," kata Seknas Petani Jokowi ini.

"Rumah terbakar saja kita stres apalagi rumah yang dibakar ratusan orang" tandasnya mengakhiri.

Sementara itu Kabag Ops Polres Merangin, Kompol Wirmanto mengakui bahwa perwakilan warga yang pondoknya dibakar telah melaporkan secara resmi ke Polres Merangin hari ini (6/11/2017).

"Saat ini kami masih memintai keterangan korban. Kita akan bekerja keras untuk mengusut kasus ini," katanya saat dihubungi. (Tim)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement