Monday, 16 October 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Di beberapa titik ruas jalan di Kota Jambi saat ini digunakan oleh sekelompok anak muda sebagai ‘sirkuit’ balapan liar pada malam-malam tertentu, atau bahkan setiap malam. Sebut saja misalnya, depan kantor gubernur, depan kantor wali kota, dekat bandara, dan beberapa titik lainnya. Tentu saja, tidak hanya sekedar kebut-kebutan, tapi juga menurut info yang berkembang, kegiatan ini merupakan ajang perjudian.

Terlepas apa pun motifnya, kegiatan adu nyali di jalan raya seperti ini tentu saja sangat berbahaya. Tidak hanya mengancam keselamatan pembalab sendiri tetapi juga para pengguna jalan lainnya. Tidak jarang beberapa diantara mereka yang harus berurusan dengan rumah sakin, dan pernah juga ada yang bahkan meninggal dunia. Balapan maut!

Tentu saja, balapan sepeda motor yang mereka lakukan ini tidak memiliki standar keselamatan sabagaimana balapan resmi di sirkuit. Semua ‘bodong’, dari kendaraan yang digunakan hingga perlengkapan keselamatan yang mereka kenakan. Biasanya, hal yang paling mengganggu adalah knalpot motor mereka memekakkan kuping. Rata-rata knalpot yang digunakan tidak standar dan mengeluarkan suara yang sangat bising. Bahkan, mungkin ada yang tidak menggunakan knalpol sama sekali. Brum..!

Belum lagi bicara keselamatan ‘penonton’. Saya beri tanda kutif kata ‘penonton’ untuk mempertegas bahwa acara balapan ini juga ada penontonnya, tapi tentu saja penonton illegal. Seharusnya, acara-acara illegal semacam ini tidak boleh ada penontontonya. Justru, karena ada penonton kadang-kadang para ‘racer’ ini makin semangat memacu kendaraan mereka. Apalagi jika diberi tepuk tangan. Makin menjadi-jadi. Tapi tanpa disadari suatu waktu penonton pun bisa jadi korban.

Karena kegiatan ini dapat mengganggu ketertiban umum, khususnya para pengguna jalan pada titik-titik balapan liar tersebut digelar, maka seharusnya event seperti ini harus mendapat perhatian dari para penegak hukum dan pengambil kebijakan di Kota Jambi. Ada beberapa hal yang memungkin dapat disarankan.

Pertama, penertiban dengan razia. Ini langkah jangka pendek yang dapat ditempuh. Saya yakin Polisi sudah sangat tahu titik-titik yang memungkinkan dijadikan balapan liar di Kota Jambi. Maka sudah saatnya dilakukan penertiban dengan melakukan razia. Tangkap dan beri hukuman.

Tanpa bermaksud mengajari buaya berenang, pihak kepolisian harus pula ‘ngetem’ dilokasi tanpa menggunakan atribut polisi. Bisa juga dengan ‘ikut’ kebut-kebutan untuk menyapu bersih motor-motor yang ‘gentayangan’. Jika razia ini serius dilakuan, maka saya yakin aktivitas ini akan bisa diatasi. Tapi polisi yang dilapangan juga harus ‘tegak lurus’ sehingga tidak boleh main ‘86’.

Kedua, pemerintah menyediakan sirkuit untuk para pembalap ini. Jika dikaji dari sisi ini, sebebarnya tidak bisa 100% menyalahkan anak-anak muda yang menjadikan jalan raya sebagai sirkuit karena memang pemerintah tidak menyediakan tempat untuk mereka. Mereka sangat perlu fasilitas untuk menyalurkan hobi di bidang pacu kuda besi ini.
Berpikiran positif saja, jangan-jangan para pembalap malam ini memiliki potensi yang besar untuk dijadikan atlit balap perwakilan Provinsi Jambi. Logikanya sederhana, tanpa pelatihan, pengamanan yang standar, motor yang ‘seadanya’, mereka berani adu nyali sedemikian rupa. Artinya mereka sudah memiliki modal utama yaitu keberanian. Potensi ini seharusnya diolah sehingga menjadi asset kebanggaan daerah.

Akhirnya, balapan liar yang saat ini terjadi di beberapa titik jalan dalam Kota Jambi harus ‘dijinakkan’ dan ‘didaur ulang’ sehingga tidak terus menerus meresahkan masyarakat pengguna jalan. Langkah tercepat dapat dilakukan dengan razia secara serius oleh pihak kepolisian, dan langakah yang paling baik adalah dengan menyediakan ‘arena’ mereka-mereka yang bernyali tinggi ini. #BNODOC28816102017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement