Wednesday, 11 October 2017

author photo
Kabupaten Tebo telah memasuki usia delapan belas tahun. Banyak cerita mengawali berdirinya Kabupaten Tebo yang dikenal dengan sebutan Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung.

Sejarah panjang Kabupaten Tebo tidak terlepas dari sejarah Provinsi Jambi. Nama Tebo sejatinya sudah ada sejak abad ke tiga dengan nama Tchupo dan tercantum dalam Pupuh Negara Kertagama dengan sebutan tupo yang di indikasikan memiliki arti Tebo.

Namun, sangat disayangkan warisan sejarah yang begitu besar masih tersembunyi seiring berkembangnya Kabupaten Tebo.

Saat ini, Kabupaten Tebo terus bersolek dengan gencar melaksanakan pembangunan untuk menunjang perekonomian. Dibawah panji kepemimpinan Bupati H. Sukandar, S,Kom., M.Si dan Wakil Bupati Syahlan, SH dengan visinya yaitu Tebo Imtek 2022 (Infrastruktur Maju, Masyarakat Yang Takwa, dan Ekonomi Kerakyatan) yang diharapkan mampu terealisasi hingga tahun 2022.

Permasalahan Kabupaten Tebo sangatlah komplek dari masalah infrastruktur, ekonomi menurun, kemiskinan, adat dan budaya, agraria, penegakan hukum, lapangan kerja serta kepemudaan. Tentunya tidak semua permasalahan mampu diselesaikan dengan cepat dan ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai generasi penerus bangsa untuk lebih berperan aktif dalam perkembangan Kabupaten Tebo kedepannya.

Peranan pemerintah disini harus lebih strategis dimana Kabupaten Tebo akan memasuki era bonus demografi dimana usia produktif lebih banyak dibanding penduduk usia produktif. Bonus demografi satu sisi menjadi keuntungan namun satu sisi menjadi permasalahan yang kompleks di masa yang akan datang.

Dari proyeksi penduduk menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Tebo tahun 2014 penduduk usia produktif usia 15 – 50 tahun mencapai 209.346 Jiwa atau 64,43% dari total penduduk Kabupaten Tebo mencapai 324.919 jiwa. Namun akhir akhir ini tingkat kemiskinan terus meningkat serta pelemahan ekonomi sehingga dikhawatirkan akan melahirkan pengangguran akan tetapi ini belum terlambat untuk diperbaiki.

Masalah Tebo Perlu Belajar Dari Di Kedai Kopi

Yah, ini adalah sekedar gambaran dimana permasalahan yang kompleks kadang perlu diselesaikan dengan melihat dari sudut pandang yang ringan. Kadangkala kita patut bertanya “Kenapa Kita Lebih Suka Ngopi di Kedai Kopi dibanding Dirumah”.

Tentunya kita memiliki pendapat berbeda namun pada umumnya alasanya karena karena ngopi diluar lebih nyaman untuk bercanda bersama teman – teman, dekorasinya tempatnya bagus, kualitas kopinya bagus, baristanya cantik atau ganteng ramah lagi dan ada wi-fi gratis. Lalu apa kaitannya dengan permasalahan di Kabupaten Tebo?

Dengan banyaknya permasalahan di Kabupaten Tebo masyarakat tentunya membutuhkan tempat dan wadah untuk menyalurkan unek – uneknya seperti halnya kita dengan teman kita dalam hal ini fungsi dan peranan Legislatif sangat diperlukan apabila permasalahan yang dituangkan dalam Musrenbang belum dapat disalurkan dengan baik karena pada intinya permasalahan akan terus berkembang.

Disamping itu, perlunya tatanan dekorasi atau pengemasan aspirasi yang tepat guna mewujudkan dan menunjang kemaslahatan masyarakat Kabupaten Tebo nah disini perlu adanya permudahan sarana diskusi, pemetaan masalah sehingga mampu menghasilkan kebijakan yang tepat dan terarah.

Sementara itu, dalam merealisasikan aspirasi masyarakat tentunya harus dibarengi dengan kualitas yang baik, baik SDMnya maupun pelaksanaanya. Sehingga, tidak menimbulkan kegaduhan dikemudian hari yang akan berdampak pada pelayanan publik serta timbulnya penilaian negative dari luar.

Nah, salah satu untuk memberikan pelayanan yang baik tentunya kita harus memosisikan diri sesuai dengan tempatnya, apabila ada keluhan masyarakat sebisa mungkin untuk menanggapinya dengan ramah serta menerima seluruh pengunjung walaupun status social mereka berbeda karena ketika masyarakat complain ia membutuhkan tanggapan dan jawaban yang tepat agar tingkat kepuasan masyarakat meningkat.

Wifi gratis dalam kedai kopi memiliki manfaat yang besar untuk menarik perhatian pengunjung selain itu juga dengan mudah pengunjung dapat mengakses informasi sesuai dengan apa yang di inginkan. Nah disinilah perlunya untuk pemerintah memberikan saluran yang tepat untuk keterbukaan informasi terhadap public.

Oleh karena itu, Kita perlu mengingat tugas dan peranan kita masing – masing memang permasalahan Kabupaten Tebo tidaklah sama dengan Kedai Kopi namun tidak ada salahnya kita perlu belajar dari alam sesual dengan pepatah Alam Takambang Jadi Guru. Setiap kedai kopi tentu ada pemiliknya termasuk Kabupaten Tebo juga ada pemiliknya, pemiliknya hanyalah Tuhan yang Maha Esa yang telah diberikan kepada kita Masyarakat Kabupaten Tebo.

Ditulis Oleh : Slamet Setya Budi, Mahasiswa Universitas Muara Bungo
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement