Monday, 18 September 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Pihak PTPN VI Rimbo Kabupaten Tebo akui jika asap dari aktivitas Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik mereka diatas ambang batas. Hal ini dikatakan Aliudin Sirait Manager gudang PTPN VI Rimbo.

Dijelaskannya, sejak Agustus lalu mesin broiler pengolah kelapa sawit miliknya sedang rusak. Akibatnya hasil pembuangan asap yang keluar dari mesin tersebut melebihi ambang batas.

Dikauinya, jika saat ini pihak manajemen tengah memperbaiki kerusakan mesin tersebut,"Memang mesin yang biasa beroperasi sedang rusak. Saat ini sedang kami perbaiki," ujarnya dikonfirmasi PORTALTEBO.com, Senin (18/9/2017).

Dijelaskannya, jika alat pengering cangkang sawit untuk penganti bahan bakar juga mengalami kerusakan. Pasalnya jika mesin pengering tersebut berfungsi proses pengolahan sawit yang biasa beroperasi bakal meminimalisir keluarnya asap hitam.

"Mesin cyclun (pengering,red) kita pun juga rusak. Cangkang sawit yang basah tadilah yang mengakibatkan asap pabrik hitam pekat," sebutnya meyakini.

Untuk itu pihaknya meminta waktu dalam dua minggu kedepan bakal memperbaiki mesin operasi kelapa sawit. Sementara ini aktifitas PKS dipabrikpun sedikit dikurangi, pihaknya menekan tingginya polusi asap dengan menganti bahan bakar cangkang dengan fiber. "Nunggu mesing pengering bagus, bahan bakar sekarang pakai fiber dulu," ujarnya.

Tekait air sumur warga diduga tercemar oleh kolam limbah pabrik sawit, Aliudin menipis, "Kalau tercemar tentu masyarakat tersebut sudah terserang gatal-gatal. Buktinya sampai sekarang tidak ada yang gatal-gatal, "kata dia.

Terkait air sumur warga yang berasa asam, Aliudin mengatakan jika rata-rata diwilayah disekitar PKS adalah rawa yang kadar asam airnya tinggi. "Jika dibandingkan kadar asam air kolam limbah kita lebih rendah dibandingkan kadar asam air sumur warga. Kita saja disana juga pakai air sumur, "jelas dia.

Disinggung terkait adanya warga yang meninggal terkait asap dari aktivitas pks, "Kita belum dengar kalo ada warga yang meninggal. Baru Jumat kemarin kita sudah rapat sama warga, warga hanya minta pelayanan kesehatan dan itu dalam waktu dekat akan kita gelar acara pengobatan untuk masyarakat sekitar, "tutupnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, derita yang bertahun - tahun dirasakan oleh warga dua desa di Kecamatan Rimbo Bujang yang bermukim disekitar Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PTPN VI Rimbo Bujang Unit Usaha Kebun Rimbo Dua. Pasalnya, keberadaan PKS milik BUMN tersebut diduga telah mencemari lingkungan sekitar.

Pemukiman masyarakat yang paling dekat radiusnya atau berdampingan langsung dengan PKS adalah warga jalan Randu II desa Tirta Kencana dan warga jalan Camar desa Sapta Mulia. Mereka sepertinya sudah pasrah dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang tercemar akibat limbah pabrik yang mengolah buah sawit hasil kebun milik PTPN VI Rimbo Bujang tersebut.

Pasalnya, warga setempat sudah berulang kali mengadu ke pihak manajemen PTPN VI Rimbo Bujang maupun ke Pemerintah. Namun, tindak lanjutnya tidak ada sama sekali. Mereka seperti sudah tidak punya harapan lagi untuk hidup dengan lingkungan yang sehat dan bersih dari pencemaran.

Suwandi, Ketua RT 32 jalan Camar desa Sapta Mulia mengungkapkan bahwa, udara dimana ia bertempat tinggal sudah tidak sehat lagi karena terkena polusi udara yang berasal dari PKS PTPN VI Rimbo Bujang Unit Usaha Kebun Rimbo Dua dan sangat mengancam keselamatan warga.

Hal yang lebih mengejutkan lagi diungkapkan oleh Suwandi, sudah ada korban 3 orang warga jalan Camar yang meninggal dunia diduga akibat penyakit sesak nafas karena menghirup udara yang tercemar oleh asap PKS PTPN VI Rimbo Bujang yang berwarna hitam pekat dan bau busuk tersebut.

"Ya memang kalau meninggal dunia itu urusan takdir, tapi 3 Orang warga jalan Camar ini meninggal karena sesak nafas, karena udara disini (Di jalan Camar_red) kena asap Pabrik (PKS). Asapnya hitam - hitam besar kalau dilihat, bagaimana kalau dihirup pakai hidung, kan bisa sesak nafas," ujar RT Suwandi ini.

Suwandi menambahkan, saat 3 Orang warga yang meninggal itu masih mengalami sakit, kalau dibawa jauh dari rumahnya yang dekat PKS ini, sesak nafasnya sembuh. Tapi kalau dibawa pulang lagi ke rumah, sesak nafasnya kambuh lagi. Karena rumahnya hanya ada didekat PKS ini mau tak mau tetap tinggal di rumah.

Sementara itu, warga lainnya yakni Herman mengaku bahwa smurnya sebagai tempat sumber air bersih terasa asam rasanya karena tercemar air limbah PKS seperti sumur milik warga lainnya. Rumahnya ini hanya berjarak kurang lebih sekitar 200 meter dari Kolam penampungan Limbah PKS yang hanya dibatasi oleh pagar dan jalan umum.

"Air sumur saya tidak bisa dikomsumsi karena rasanya asam, terpaksa saya beli air bersih untuk keperluan masak, air sumur cuma untuk mandi walaupun pertama dulu dipakai untuk mandi badan jadi gatal," aku Herman mantan Ketua RT ini.

Ia berharap Kepada pihak Pemerintah agar secepatnya mencarikan solusi agar warga bebas dari pencemaran limbah PKS PTPN VI Rimbo Bujang. Karwna, tidak hanya warga jalan Randu II dan warga jalan Camar, warga diluar itupun terkena juga dampaknya dan jangan sampai ada lagi korban berikutnya. (p01) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement