Diduga, Sapi Ternak Di Tebo Terjangkit Virus Jembrana

- 12:07:00
advertise here
PORTALTEBO.com - Pemkab Tebo mengaku jika hewan ternak di wilayah Tebo diduga terindikasi virus jembrana. Hal ini disampaikan oleh Joko Kabid Peternakan di Dinas Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kabupaten Tebo.

Diakuinya, sejauh ini sudah ada petani hewan ternak seperti sapi yang menyampaikan keluhan soal dugaan adanya virus jembrana tersebut. Namun dari laporan warga itu, pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah ternak warga tersebut terjangkit virus jembrana atau tidak.

"Pas sampai lokasi, sapinya sudah mati. Katanya langsung dipotong. Jadi kita belum mengetahui apakah sapinya kena virus atau tidak," ujar Joko, Jumat (18/8/2017)

Padahal lanjut Joko, jika sapinya masih ada pihaknya bakal mengambil beberapa sampel untuk dilakukan pemeriksaan di laboratirium. "Harus diperiksa dulu biar tahu apa penyebabnya," katanya.

Sejauh ini, lanjut Joko, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan provinsi. Bahkan beberapa kali telah menggelar rapat seluruh kabupaten kota untuk menindaklanjuti adanya laporan warga terkait maraknya virus jembrana.

"Mereka kemarin sudah ada turun. Tapi karena sampelnya tidak ada jadi tidak bisa mengetahui penyebabnya," tutupnya.

Diketahui, dikutip dari liputan6.com, sejumlah peternak sapi di Provinsi Jambi tengah dilanda galau. Penyebabnya adalah serangan virus jembrana yang menjangkiti ternak mereka. Dari keterangan warga, virus itu menyerang sapi di Kabupaten Batanghari dan Muarojambi.

Di Kabupaten Muarojambi saja, virus tersebut diketahui sudah menyebar di sejumlah kecamatan. Seperti Kecamatan Mestong, Sungai Bahar, Sungai Gelam dan Kecamatan Muarosebo. Virus ini diketahui mirip dengan virus HIV pada manusia.

"Info dari teman-teman peternak, virus jembrana juga menyerang sapi peternak di Batanghari," ujar Hendra (45), salah seorang peternak sapi di Kecamatan Sungai Bahar, Sabtu (12/8/2017).

Menurut Hendra, sebagian besar sapi yang ada di Muarojambi adalah jenis sapi Bali. Sapi jenis ini memang rentan terjangkit virus jembrana. Salah satu gejala virus ini adalah keluarnya cairan dari hidung sapi, ada bercak darah di tubuh sapi, serta diare yang disertai darah. Kemudian suhu badan sapi tinggi atau meningkat hingga kematian mendadak pada sapi.

Hendra mengaku memiliki 10 ekor sapi. Dua di antaranya memiliki gejala mirip virus jembrana. Ia bersama peternak lainnya langsung melaporkan kejadian tersebut kepada dinas peternakan setempat.

"Ada beberapa peternak memilih segera memotong sapinya karena takut mati mendadak. Mudah-mudahan virus ini cepat hilang, apalagi ini mau Idul Adha," ujar Hendra.

Sementara itu dokter hewan dari Dinas Peternakan Muarojambi, drh. Rikianto menyebutkan, selama periode Januari hingga Juli 2017, setidaknya ada 500 ekor sapi di Muarojambi yang terjangkit virus jembrana.

Menurut dokter Riki, cukup banyak laporan akan virus tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah turun langsung ke lapangan untuk pengecekan. Sapi-sapi yang belum terjangkit virus langsung diberikan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh.

"Peternak juga diimbau lebih waspada dalam menjaga ternaknya. Secepatnya melapor apabila ada gejala-gejala penyakit pada sapi," ujar Riki.


Berasal dari Bali

Virus jembrana pada sapi bali berasal dari virus retroviridae, sub-famili lentivirinae. Virus ini merupakan virus baru dan satu kelompok dengan virus HIV pada manusia. Penularan virus ini pada sapi bali biasanya melalui gigitan lalat yang menghisap darah.

Dokter Riki menjelaskan, virus ini awalnya berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali sekitar tahun 1964. Sapi-sapi di daerah ini tiba-tiba terjangkit penyakit dengan gejala tertentu hingga kemudian dinamakan penyakit jembrana.

Setelah itu, penyakit ini kemudian menyebar ke beberapa daerah lain di Indonesia. Seperti Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

Beberapa tips dalam mencegah virus jembrana ini adalah melakukan karantina selama beberapa hari antara sapi yang baru datang dari daerah atau lingkungan baru dengan sapi lama. Isolasi sapi yang sedang sakit, melakukan vaksinasi rutin, memberikan makanan dan vitamin yang cukup. Terakhir adalah menjaga kebersihan kandang dengan penyemprotan cairan khusus serangga agar lalat tidak bersarang di kandang sapi.

Jika sapi sudah positif terkena virus jembrana, upaya penyembuhannya adalah dengan memberikan vaksin inaktif yang berfungsi untuk mengurangi gejala dari penyakit jembrana tersebut.

Setelah itu, sapi biasanya akan sembuh setelah melewati masa klinis sekitar lima minggu setelah infeksi. (red/p01)