SIDAK ATAU SIRNA?

- 12:51:00
advertise here
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Salah satu kunci sukses diri dan organisasi itu adalah disiplin. Sepakat. Tapi banyak orang lupa bahwa disiplin itu adalah budaya yang terbentuk secara konsinsten dan terus menerus. Disiplin yang sesungguhnya datang dari diri dan dengan penuh kesedaran untuk melakukannya. Jika tidak, ia akan hanya menjadi sebuah keterpaksaan atau hanya sebuah kamuflase saja (dibaca: pencitraan). Dan sesuatu yang tidak mengakar akan mudah tercabut dari umbinya. Jadilah disiplin musiman.

Apa yang ingin saya diskusikan melalui artikel singkat ini adalah dalam rangka menanggapi ramainya para pimpinan instansi pemerintahan melakukan sidak (inspeksi mendadak) terhadap para staf mereka. Sidak dilakukan untuk memastikan bahwa para staf sudah masuk kerja setelah sekian lama diberi waktu untuk menikmati libur Hari Raya Idul Fitri 1438H/2017. Ada asumsi yang dikembangkan bahwa kedisiplinan suatu instansi dilihat dari absen hari pertama kerja setelah libur.

Tidak salah. Boleh jadi masuk hari pertama setelah libur adalah salah satu indikator kedisiplinan para pegawai. Tapi tidak boleh terjebak dengan pola pikir semacam ini. Disiplin itu tidak ditentukan oleh musim-musim tertentu; tapi berlaku sepanjang masa. Disiplin itu mengakar dan membudaya pada diri dan organisasi.

Alangkah celakanya jika pola pikir yang ditanamkan bahwa orang dianggap disiplin jika sudah masuk pada hari pertama kerja setelah libur walaupun pada hari-hari selanjutnya dia tidak pernah melaksanakan tugas dengan baik. Apa lagi, sidak yang dilakukan saat ini bukan lagi disebut sidak karena sudah terencana dan diketahui semua orang. Sidak yang sebenarnya itu tidak ditentukan waktunya dan tidak diketahui oleh yang disidak. Lebih hebat lagi, jadwal sidak sudah diumumkan di surat kabar sebelumnya agar diliput. Sebaiknya ganti nama saja menjadi ‘sirna’ (inspekSI teRencaNA), hehehe.

Jika disiplin itu adalah sebuah budaya, maka dapat dipastikan prosesnya memerlukan waktu yang panjang dan berkesinambungan. Maka kedisiplinan diri seorang staf harus pula dilihat secara konpehensif dan utuh. Tidak adil minsalnya, dengan alasan tertentu, ada staf yang tidak hadir hari pertama setelah libur diberi sanksi namun ada pegawai yang tidak pernah hadir hari-hari lain tapi hadir di hari pertama masuk kerja tidak disanksi. Jika ada pimpinan yang melakukan hal ini, itu namanya sebuah kezoliman.

Helmi (1996: 34) menjelaskan bahwa paling tidak terdapat beberapa indikator dari disiplin kerja yang meliputi: (a) disiplin kerja, taat terhadap penggunaan jam kerja saja, misalnya datang dan pulang sesuai dengan jadwal, tidak mangkir jika bekerja, dan tidak mencuri-curi waktu; (b) upaya dalam mentaati peraturan tidak didasarkan adanya perasaan takut, atau terpaksa; (c) komitmen dan loyal pada organisasi yaitu tercermin dari bagaimana sikap dalam bekerja. (thoerydisipliin.blogspot.co.id). Itu artinya, ada satu kesatuan yang utuh antara kepatuhan terhadap jam kerja dengan sikap lain seperti loyalitas, komitmen, prestasi kerja, dan lain-lain.

Akhirnya, tidak ada yang salah dengan sidak. Silahkan saja. Tapi harus diingat bahwa disiplin pegawai tidak hanya dilihat satu hari di hari pertama kerja saja tetapi hari-hari lain. Hal terpenting, disiplin pegawai tidak hanya dilihat dari absen tapi juga harus dilihat hal lain seperti komitmen, loyalitas, prestasi kerja, dan lain sebagainya. #BNODOC18404072017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi