Thursday, 13 July 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Sekolah itu seharusnya menjadi salah satu institusi pendidikan yang berfungsi untuk menjadikan peserta didik dari tidak tahu jadi tahu atau dari bodoh menjadi pintar. Catat satu kata ‘menjadikan’. Jika logika ini yang dipakai, maka ada paradigma yang salah terhadap pendidikan kita selama ini yang menerima peserta didik berdasarkan nilai tertinggi. Artinya, nilai yang tinggi tersebut adalah indikator peserta didik yang memang sudah pintar. Peserta didik yang memiliki nilai rendah ‘disingkirkan’ alias tidak diterima di sekolah tersebut.

Paradigmanya harus dibalik. Melalui artikel ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat dengan jernih sebuah paradigma yang selama ini dianut. Saya ingin tegaskan bahwa sekolah yang hebat (favorit) itu bukan sekolah yang berhasil mengumpulkan peserta didik yang pintar dengan nilai yang bagus-bagus, tetapi sekolah yang berhasil menjadikan peserta didiknya pintar. Sekolah yang mampu meninggikan nilai yang rendah, memintarkan yang bodoh, membuat rajin yang pemalas, menjadikan juara para pecundang, dan lain sebagainya. Top!

Itu baru pantas disebut sekolah favorit. Tapi apa yang terjadi selama ini, sekolah favorit adalah sekolah yang berhasil menghimpun peserta didik yang memang sudah pintar dengan menetapkan nilai penerimaan yang tinggi. Persoalannya, bagaimana dengan peserta didik yang memiliki nilai tidak tinggi sehingga ditolak di sekolah-sekilah ‘favorit’ tersebut?

Paradigma ini sudah seharusnya dikaji ulang dengan cermat dan teliti. Dampaknya sangat jelas. Paling tidak, pertama, tidak adanya pemerataan. Lihat saja saat ini saat penerimaan siswa baru), sekolah-sekolah tertentu mendapat peminat yang sangat besar, tapi ada sekolah lain yang sepi peminat. Peserta didik yang tergolong pintar dan cerdas numpuk di beberapa sekolah saja, sementara sekolah lain hanya menerima ‘sisa’ atau ‘buangan’ dari sekolah-sekolah tersebut. Tidak terjadi pemerataan kuantitas dan kualitas.

Ketidakmerataan ini memberi dampak yang sangat komplek. Guru-guru kemudian berlomba-lomba mengajukan pindah ke sekolah ‘favorit’ akhirnya guru-guru yang berprestasi pun numpuk di sana. Fasilitas-fasilitas sekolah cenderung lebih banyak diarahkan kepada sekolah-sekolah ini. Dan ketika diadakan lomba-lomba antar sekolah, yang menjadi juara adalah sekolah itu lagi, itu lagi.  Ketimpangan pun terjadi.

Kedua, psikologi belajar mengajar. Guru-guru yang mengajar di sekolah ‘favorit’ memiliki semangat yang tinggi untuk mengajar karena peserta didik mereka pintar-pintar dan cerdas. Sementara di sekolah-sekolah yang tidak ‘favorit’ guru sering kewalahan menghadapi peserta didiknya yang ‘lemah’ dan cenderung nakal. Begitu juga para peserta didik yang ‘dikumpulkan’ sesama ber-IQ rendah; tambah lemah. Padahal, andai saja mereka berkumpul dengan kawan-kawan yang pintar akan bisa saling mengisi dan memotivasi.

Bagaimana mengatasi masalah ini? Menurut saya, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah menerapkan pemerataan dengan sistem prosentase. Maksudnya, setiap sekolah atau seluruh sekolah wajib menerima peserta didik dengan beragam kemampuan akademik. Misalnya, setiap sekolah wajib menerima 30% siswa dengan nilai rata-rata 70 s/d 90,  70% siswa yang memiliki nilai rata-rata 60 ke bawah. Dengan model ini, siswa-siswa pintar akan tersebar di seluruh sekolah paling tidak sebanyak 30%. Siswa yang 30 % inilah nanti diharapkan mampu memotivasi kawan-kawan lainnya. Jadi tidak terjadi penumpukan siswa berprestasi di beberapa sekolah tertentu saja.

Dengan skema ini pula dapat mengurangi segala bentuk kecurangan dalam penerimaan siswa baru karena tidak ada lagi istilah sekolah ‘favorit’. Semua sekolah sama. Di setiap sekolah ada anak pintar dan ada yang kurang pintar. Di setiap sekolah ada guru berprestasi dan kurang berprestasi. Fasilitas sekolah sama. Dan seterusnya.

Akhirnya, saatnya kembali ke jalan yang benar dengan merubah paradigma yang tepat. Catat baik-baik, sekolah untuk semua peserta didik tanpa diskriminasi apa pun. Tidak boleh ada yang mencoba mengkotakkan atau memberi label bahwa sekolah X hanya untuk anak-anak pintar dan orang tua – orang tua kaya dan berpangkat. Tidak boleh! #BNODOC19413072017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement