JALAN LUMPUH; TITIK NADIR ASA RAKYAT

- 10:34:00
advertise here
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Curah hujan yang terjadi di sebagian besar Indonesia beberapa minggu terakhir tidak hanya menyebabkan banjir tapi juga merusak infrastruktur seperti jalan dan bangungan. Begitu juga halnya yang terjadi di Provinsi Jambi. Beberapa kabupaten yang notabenenya memiliki jalan yang masih belum tersentuh oleh aspal, ketika dilanda hujan sedikit saja maka jalan tersebut akan berubah menjadi danau (kubangan) lumpur.

Kabupaten Tebo agaknya salah satu kabupaten yang terdampak paling parah. Perhatikanlah cuplikan berita berikut ini. “Akses jalan menuju empat desa di Kecamatan Tebo Ilir, rusak parah. Bahkan jika turun hujan, kondisi jalan tidak bisa dilalui kendaraan karena hancur dan berlumpur. Akibatnya, aktivitas warga terganggu” (portaltebo.com: 5/7/2017). Begitu juga halnya Jalan Padang Lamo yang selalu saja luput dari perhatian pemerintah walaupun masyarakat di sepanjang pinggiran Batang Hari itu setiap hari ‘menjerit’ hingga ke langit. Ketika hujan turun, maka masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana yang jalan dan mana yang danau atau kubangan tempat kerbau mandi.

 Jika sudah begini keadaannya, warga hanya bisa mengeluh dan meratapi nasib. "Kalau musim hujan seperti saat ini, kondisinya seperti kubangan kerbau saja. Ini bisa terjadi 2 sampai 4 minggu," keluh keseh Darul,  salah seorang warga empat desa yang terdampak kerusakan jalan parah di  Desa Dusun Tuo Ilir, Desa Teluk Rendah Pasar, Desa Teluk Rendah Ilir dan Desa Teluk Rendah Ulu, Kab. Tebo.

Rasanya juga tidak perlu pula diuraikan bagaimana pentingnya infrastruktur jalan untuk menunjang  kehidupan masyarakat. Siapa pun pasti sudah tahu bahwa jalan menjadi urat nadi perekonomian rakyat. Jika jalan hancur maka sudah dapat dipastikan ekonomi akan lumpuh. Hasil pertanian dan perkebunan terkendala sampai ke pasar bahkan untuk komuditi tertentu tidak jarang busuk di jalan. Harga rendah dan masyarakat merugi.

Masyarakat sebenarnya sudah kehabisan cara. Cara-cara politis tentu sudah dilakukan. Mereka memilih pemimpin yang diyakini dapat membantu mereka. Namun apa yang terjadi kemudian mereka bagai bermimpi di siang bolong. Mimpi yang yang tak pernah menemukan kenyataan. Akhirnya masyarakat juga jenuh menanti janji-janji politik para pemimpin. Jamak berlaku di negeri ini penderitaan rakyat hanya dijadikan barang ‘jualan’ (komuditi) yang dari masa ke masa di perdagangkan. Diiming-imingi kemudian dilupakan.

Swadaya sudah mereka lakukan. Gotong royong juga sudah pula mereka laksanakan. Tapi seberapalah kemampuan masyarakat untuk mengatasi masalah yang sesungguhnya memang menjadi tanggung jawab pemerintah di berbagai level. Mengekspos berita dan foto-foto kondisi terkini jalan yang rusak di berbagai media juga sudah sangat sering dilakukan baik melalui media mainstream maupun media sosial. Tapi semua tidak membuahkan hasil.

Lantas apa lagi yang bisa diperbuat oleh masyarakat saat ini? Jika sudah begini, ketika masyarakat sudah kehabisan cara, itu artinya mereka sudah sampai pada titik nadir. Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama, khawatir rakyat akan marah dan murka.

Wiji Thukul, seorang aktivis yang sampai saat ini tidak pernah tahu di mana rimbanya, pernah memberi peringatan melalui puisinya.

PERINGATAN

Oleh: Wiji Thukul

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Akhirnya, artikel ini hanya sekedar ingin sama-sama mengingatkan kepada para penguasa di level mana pun untuk tidak terlalu lama membiarkan masyarakat menderita dengan kondisi infrastruktur jalan seperti saat ini. Jika tidak mampu melihatnya dengan ‘mata’ politik dan kebijakan maka cobalah sekali-kali  melihatnya dengan mata hati. Rasakanlah dengan hati nurani kesulitan-kesulitan meraka. Tidak hanya persoalan ekonomi, tapi anak-anak mereka juga kesulitan menuju sekolah. Jangan ajari rakyat melawan pada pemimpinnya! #BNODOC18505072017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi