Monday, 24 July 2017

author photo
Kalau ditarik garis lurus tak sampai 1 KM Desa Mangun Jayo ini sudah dapat dikunjungi. Ujung tanjung Kota Muara Tebo terlihat jelas dari Dusun Mangun Jayo. Jadi sebenarnyo Ujung Tanjung Muara Tebo hampir berseberangan langsung dengan Desa Mangun Jayo.

Berperahu dari dan ke Ujung Tanjung atau Mangun Jayo tak sampai 15 menit. Warga dusun Mangun Jayo bila hari pasaran banyak yang menggunakan perahu untuk berbelanja atau menjual hasil kebunnya ke pasar tradisonal Muara Tebo.

Pada masa  jayanya jalan Padang Lamo, Ujung Tanjung merupakan areal terminal yang ramai bagi angkutan barang dan orang dari Jambi ke Padang/Bukit tingggi dan sebaliknya. Kendaraan-kendaraan bis setelah melakukan penyeberangan atau akan menyeberang di Sungai Batanghari untuk ke Padang atau ke Jambi singgah terlebih dahulu ke terminal atau pasar yang berada di Ujung Tanjung. Ujung Tanjung dapat dikatakan sebagai pusat keramaian, pusat pemerintahan dan pusat pemukiman yang cukup ramai sampai fungsi lalu lintas Padang Lamo diambil alih oleh jalan lintas Sumatera, Tebo/Bungo, Dharmasraya/ Padang Dan Bukit Tinggi.

Posisi Ujung Tanjung Muara Tebo memang sangat strategis. Sejak abad ke 17 Muara Tebo sudah menjadi pusat pemerintahan kesultanan Jambi bagian hulu. Kemudian dimasa kolonial Belanda menjadi ibu kota kewedanaan dan sekaligus base camp tentara Belanda. Pahlawan nasional Sultan Thaha dimakamkan di Muara Tebo. Tinggalan kolonial Belanda yang tampak adalah makam Kolonial Belanda, eks Asrama Belanda yang menjadi asrama TNI, Rumah-rumah pejabat kontrolir Belanda masih ada dan beberapa darinya sudah dipugar menjadi rumah camat, kantor camat, kantor pos. Sebelum Kabupaten Tebo memiliki kantor sendiri pejabatnya berkantor di kantor camat Muara Tebo. Lapangan tinggalan masa kolonial masih dapat digunakan samapai sekarang untuk berbagai kepentingan bersifat masal seperti upacara, pameran, arena MTQ dan sebagainya.

Ketika terjadi campur tangan VOC Belanda dikerajaan sultan Jambi abad ke 17, Belanda memainkan peran dengan mengintimidasi sultan yang dirasa berlawanan dan bertentangan serta tidak mendukung kebijakan pemerintah kolonial melalui berbagai ikatan perjanjian. Sultan Jambi Sri Ingologo di tuduh terlibat dalam pembunuhan SYNBRANDT. VOC menuntut tanggung jawab sultan atas pembunuhan tokoh VOC Belanda tersebut. Sultan menolak tuduhan dan belanda pun mengirim pasukan ke TANAH PILIH JAMBI akibat serangan tersebut sultan mundur ke Muara Tebo dan akhirnya Belanda berhasil membuang sultan ke Batavia pada TAHUN 1688.

Terbunuhnya SYNBRANDT sebenarnya adalah kelanjutan dari pertikaian monopoli pihak VOC yang menekan masyarakat Jambi, para pedagang dan bangsawan dengan merampas dan membakar perahu-perahu pengangkut komoditi perdagangan masyarakat.

Akibat peristiwa itu kantor dagang VOC di Jambi di tutup tahun 1697 dan VOC menobatkan pangeran Cakranegara sebagai sultan dengan gelar Sultan Kyai Gede. Lingkungan istana tidak setuju karena Raden Jaelat sebagai putra mahkota pemegang gelar pangeran ratu yang lebih berhak menggantikan ayahnya yang dibuang oleh belanda ke Batavia. Perlawanan Raden Jaelat dilakukan dari Muara Tebo dengan memobilisasi penduduk VII Koto dan IX Koto. Dengan dukungan masyarakat yang memang mengetahui silsilah Sultan Sri Inggologo dan pangeran Jaelat dan adiknya pangeran Singopati dan terlebih lagi dengan dukungan dan pengakuan Raja Pagarruyung Raden Jaelat diakui sebagai Sultan Jambi dengan Gelar Sri Maharaja Batu yang berkedudukan di Mangun Jayo.

Di Mangun Jayo inilah tempat sultan dan ayahnya membangun basis pertahanan menentang VOC. Kata Mangun Jaya dalam bahasa daerah “MANGUN” adalah membangun, menegakkan kembali, menumbuh kembangkan dari ada menjadi lebih ada. Kata “JAYO” sama artinya dengan jaya. Mangun Jayo mengandung arti dan wujud tempat sultan kembali membangun kejayaannya. Dengan adanya kesultanan di Mangun Jayo dengan rajanya Sri Maharaja Batu, berarti dimasa itu ada dua pemegang gelar sultan di kesultanan Jambi. Katakanlah kesultanan Jambi Ilir berkedudukan di Istana Tanah Pilih Jambi yang rajanya diangkat dan direstui oleh VOC Belanda dan di Mangun Jayo Pangeran Jaelat menjadi sultan dengan gelar Sri Maharaja Batu.

Pergolakan politik pemerintahan dikesultanan Jambi akhirnya setelah 29 tahun kembali menempatkan putra mahkota pangeran Ratu Raden Jaelat yang telah dinobatkan sebagai Sri Maharaja Batu di Mangun Jayo kembali ke Jambi dan menjadi raja dengan Gelar Sultan Suto Ingologo. Dengan kembalinya sultan yang sah menurut sistem pemerintah kesultanan masa itu maka Mangun Jayo tidak lagi menjadi pusat pemerintahan. Keluarga sultan dan kerabat sultan Sri Maharaja Batu serta banyak masyarakat yang ikut ke Jambi dan ada beberapa tetap tinggal di Mangun Jayo. Perkembangan Mangun Jayo sendiri melambat tidak sebanding dengan posisi ujung tanjung sebagai pusat keramaian. Untuk kedesa Mangun Jayo terasa jauh karena harus mengitari bantaran Sungai Batanghari, kemudian menyeberang dan kembali ke hulu melalui jalan pada bantaran Sungai Batanghari. Total dari ujung tanjung ke MANGUN Jayo lewat jalan darat hampir 8 km padahal dengan berperahu kurang dari 15 menit.

Tinggalan-tinggalan kesultanan di Mangun Jayo dapat dikatakan tidak ada dan tidak membekas. Posisi Ujung Tanjung tampaknya menjadi dominan setelah masa kesultanan Jambi dekade akhir dipegang sultan Thaha. Pihak Belanda dalam pengejaran dan pengepungan kedudukan Sultan Thaha di Tanah Garo, Betung Bedarah selama 46 Tahun telah menempatkan Muara Tebo khususnya Ujung Tanjung sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan Belanda dikawasan uluan Jambi. Konsentrasi yang demikian strategis menyebabkan kondisi dan perkembangan Ujung Tanjung sebagai bagian kota Muara Tebo lebih tampak dibanding Mangun Jayo. (*)

Link Artikel : explorejambi.com

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement