Sunday, 25 June 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Jangan pernah sedikit pun mengira bahwa takbir yang kau kumandangkan itu untuk Tuhanmu. Jangan pula berpikir takbirmu akan menambah kebesaran dan keagungan Allah. Sama sekali tidak. Tidak pun kau takbir, Allah memang sudah besar dan agung. Allah maha perkasa dengan segala kekuasaanNYA. Takbir itu sesungguhnya untuk dirimu sendiri.

"Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar, Allaahu akbar walillaahil hamd” (Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah"). Kalimat-kalimat ini sesungguhnya kalimat tauhid yang berfungsi membakar segala bentuk kesombongan dan keangkuhan diri manusia. Semakin sering mengumandangkan kalimat-kalimat ini maka jiwa dan raga manusia seharusnya akan menyadari betapa dirinya semakin kecil dan tak berarti dihadapan Allah.

Mengakui kebesaran Allah dengan sendirinya akan menyadari kekerdilan diri. Semakin kalimat-kalimat ini dikumandangkan semakin hanguslah segala bentuk kehebatan diri. Itulah mengapa kalimat ini dikumandangkan sedemikian meriahnya di hari nan fitri ini untuk mengingatkan kepada manusia bahwa dirinya tak berdaya sedikit pun di hadapan Allah. Allah-lah yang maha besar, maha kuasa, maha hebat, dan maha segalanya. Lantas apa yang harus disombongkan di muka bumi ini? Harta, pangkat, jabatan, kekuasaan dan sebagainya tidak kan sebanding dengan apa yang Allah miliki.

Tidak ada satu hal pun yang patut dibanggakan di muka bumi ini. Sebesar atom pun tidak ada kuasa manusia dibanding kuasanya Allah. Kembali fitri (suci) itu artinya bathin dan jiwa manusia dikembalikan kepada khitohnya sebagai manusia, mahluk yang lemah dan dhoib. Jiwanya dibersihkan dari segala macam penyakit hati seperti iri, dengki, ujub, riya, congkak dan sebagainya. Belumlah disebut suci jika sifat-sifat ini masih bercokol di dalam diri manusia. Percumalah mengucap takbir jika hanya di bibir.

Di sinilah fungsi kalimat takbir yang dikumandangkan. Ia menjadi ‘pembersih’ jiwa-jiwa yang kotor. Kemenangan Hari Raya Idul Fitri hari ini harus dimaknai sebagai hari pembersihan diri dari segala sifat-sifat kotor pada hati dan jiwa manusia. Maka terbentuklah paling tidak dua dimensi hubungan yang baik; hubungan kepada Allah (hablumminallah) dan hubungan kepada sesama manusia (hablumminannas). Hubungan dengan manusia inilah kemudian menjadi budaya kita saling memaafkan. Gema takbir yang diiringi dengan saling memaafkan sesungguhnya satu paket yang tidak terpisah. Kepada Allah meminta ampun dan kepada manusia meminta maaf.

Hubungan dengan Allah harus terjaga dengan mengkerdilkan diri di hadapanNya (menghamba), hubungan dengan manusia harus pula terpelihara dengan tetap mejaga silaturrahim. Maka takbir yang hadir tidak boleh dikotori dengan permusuhan dan kedengkian.

Akhirnya, takbir menggema pertanda jiwa-jiwa suci (fitri) sedang bertebaran di muka bumi ini untuk mengharapkan ridho Ilahi. Menyebut nama Allah yang Maha Besar bukan untuk membesarkan Allah tapi jauh lebih untuk mengkerdilkan diri. Takbir kemudian menjadi pembakar penyakit hati manusia. Semakin ia marasa kerdil di hadapan Allah, maka semakin tunduk akan segala ketentuanNya. Ia tidak akan bergantung pada apa pun kecuali Allah. Takbirlah untuk menambah kesadaranmu akan kerdilnya diri di hadapan Allah. Takbirmu untukmu, Allahuakbar, walillahilhamd. Selamat Idul Fitei 1348 H, mohon maaf lahir dan bathin. #BNODOC17525062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement