Saturday, 10 June 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA


“Tali, tali apa yang sopan?”. Jawab, “tali-makasih”.
“Lele, lele apa yang bisa terbang?”. Jawab, “Lele-lawar”
“Buah, buah apa yang dibenci wanita?”. Jawab, “Buah-ya darat”.

Ini adalah beberapa contoh pertanyaan quiz yang muncul di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Memanfaatkan momentum Ramadhan, hampir semua televisi lokal dan nasional  menyuguhkan acara yang berorientasi menghibur masyarakat Indonesia terutama pada saat menanti berbuka puasa  dan sahur. Salah satu bagian acaranya adalah dengan menciptakan quiz ‘lucu’ yang diyakini mengundang tawa.

Jika tujuan acara semacam ini adalah ‘hanya’ untuk mengundang tawa nan penuh canda, tentu sudah tercapai. Lihat saja, siapa pun yang menonton acara tersebut dapat dipastikan akan terpingkal-pingkal. Tidak hanya pertanyaannya yang lucu, tapi para pemain yang berlakon di depan kamera pun penuh dengan kejenakaan. Tujuan lucu tercapai.

Namun demikian, apakah acara yang ditonton semua kalangan itu hanya mengedepankan satu unsur, dan kemudian boleh mengenyampingkan unsur lain? Maksud saya, asal lucu, boleh mengatakan apa saja, atau melakukan apa saja; termasuk mem-bully orang lain. Hal ini agaknya yang perlu menjadi perhatian kita semua. Tidak salahnya kita mulai mempertanyakan acara-acara semacam ini. Bagaimana mungkin, untuk menciptakan kelucuan tetapi dengan mengabaikan kaidah-kaidah bahasa, kepatutan, kemanusiaan, dan cenderung merupakan tindakan pembodohan.

Harus diingat, telivisi banyak sedikitnya akan memberikan pengaruh terhadap pola pikir penontonnya, terutama anak-anak. Lebih-lebih jika acara semacam ini ditonton anak-anak tanpa didampingi oleh orang dewasa. Tanpa ada penjelasan lebih jauh mengenai apa yang mereka saksikan (visualisasi) dan dengar. Jika hal ini masuk ke alam bawah sadar mereka (subconsciousness) mereka maka informasi ini juga akan menjadi ‘kebenaran’. Sesuatu yang jelas-jelas salah kemudian mereka anggap benar.

Anak umur 2 hingga 4 tahun minsalnya. Tidak akan mungkin mereka mempertanyakan mengapa ‘ikan lele bisa terbang’. Dengan sederhana mereka akan berpikir bagaimana menemukan ikan yang namanya ‘lele-lawar’. Sementara ‘lele-lawar’ itu tidak pernah ada. Kata ini hanya pelesetan dari kata ‘kelelawar’. Siapa yang kemudian mampu menjelaskan kepada anak-anak yang menonton bahwa yang bisa terbang itu bukan lele tapi kelelawar. Itu artinya, quiz ini sudah jelas-jelas berkontribusi terhadap pola pikir anak Indonesia atas pemberian informasi yang salah.

Sementara itu, “Jumlah jam anak menonton siaran televisi cukup tinggi, bahkan dalam setahun lebih tinggi dari jam sekolah, kata Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Eski Tri Rejeki Suyanto. Berdasarkan penelitian, kegiatan anak menonton siaran televisi sehari sekitar empat hingga lima jam atau seminggu 30 hingga 35 jam sehingga dalam setahun mencapai 1.600 jam. Untuk Jam sekolah setahun hanya 740 jam.”(kommpas.com). Wow!

Jelas sudah bahwa televisi telah menjadi ‘guru’ buat anak-anak Indonesia dan mengajari mereka secara terus menerus selama berjam-jam setiap hari. Celakanya, ‘guru’ mereka ini menyampaikan informasi yang salah.  Karena informasikan itu disampaikan oleh ‘guru’, maka informasi apa pun mereka anggap benar. Sampai kapan anak-anak Indonesia menerima pembodohan semacam ini? Alangkah kasihannya kita melihat anak-anak Indonesia meyakini ada ‘buah-ya darat’, ‘lele-lawar’, atau ‘tali-makasih’. Sudahlah bahasanya tidak sesuai kaidah penggunaan Bahasa Indonesia  yang baik dan benar, informasinya pun salah total. Itulah pembodohan.

Bolehlah anda membantahnya dengan, “Ah, itu kan cuma hiburan”. Tapi saya hanya mengingatkan betapa informasi yang sampai ke alam bawah sadar seseorang akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir yang pada akhirnya juga mempengaruhi pola tutur dan pola tidak.

Akhirnya, seyogyanyalah televisi kita memperhatikan acara-acara yang disuguhkan kepada masyarakat. Pihak-pihak yang telah ditunjuk pemerintah untuk mengawasi pertelevisian Indonesia sudah saatnya memeberikan perhatiannya lebih bserius. Jangan sampai, hanya karena ingin menghibur, kita melupakan unsur-unsur lain yang berdampak negatif terhadap para penonton, terutama anak-anak bangsa ini. Hentikan quiz-quiz yang cenderung melakukan pembodohan! #BNODOC16010062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial, Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement