Wednesday, 7 June 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Berikut ini adalah salah satu hadits yang dijadikan pegangan untuk berpakaian terbaik saat hari raya, “Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata : “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual dipasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar: “sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian (akhirat)”. (HR. Al Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa Rosulullah dan para sahabat memakai pakaian terbaik dan berhias saat hari raya serta memakai wewangian kecuali yang berbahan sutra.

Oke, kita sepakati bahwa hari raya itu boleh dirayakan dengan memakai pakaian terbaik dan wewangian (berhias). Namun yang perlu dipertanyakan adalah, apakah yang terbaik itu harus baru? Trus, apakah yang baru itu harus pula dibeli saat akan lebaran? Ini wilayah budaya dan mindset yang rasanya  boleh didiskusikan dan jika perlu mindset ini ‘didaur ulang’.

Terbaik tidak harus baru. Baru belum tentu yang terbaik. Jika kita telusuri Rasulullah dan para sahabat juga tidak selalu membeli pakaian baru untuk merayakan hari raya, baik hari raya  idul fitri, idul adha atau hari Jumat (hari rayanya orang mukmin). Namun yang pasti adalah yang terbaik. Lantas apa dasar yang terbaik itu?

Al-Quran menegaskan, “Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutup aurat kalian dan perhiasan bagi kalian. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka ingat.” (QS: al-A’raf: 26). Itu artinya pakaian yang terbaik bagi ummat Islam itu adalah yang menutup aurat dan berlandaskan ketaqwaan. Pakaian ketaqwaan itu tentunya adalah ‘pakaian’ yang melindungi dirinya dari segala kedurhakaan kepada Allah. Tidak lain dan tidak bukan ‘pakaian’ itu adalah Al-Quran dan Sunnah Rosullullah.

Secara lahiriah, tentu saja pakaian yang baik itu adalah pakaian yang menutup aurat, bersih dari najis, dan indah dilihat. Jika ini landasan berpikirnya, maka tidak perlu berlomba-lomba untuk membeli pakaian baru, apalagi jika kita masih memiliki pakaian terbaik untuk dikenakan di hari raya.

Jika pun ternyata tidak lagi memiliki pakaian yang terbaik dan diputuskan untuk membeli yang baru, mengapa harus dibeli sesaat sebelum lebaran? Bukankah ada sebelas bulan untuk mempersiapkannya. Inilah wilayah budaya yang perlu dikonstruk ulang. Budaya yang menjadikan pakaian lebaran sebagai ‘wajib’ tahunan. Bahkan, hanya karena berburu baju lebaran, sampai-sampai pula harus meninggalkan shalat wajib dan tarawih. Ini berarti sudah kebolak balik.

Lihat saja sepuluh hari terakhir menjelang lebaran. Mall dan toko pakaian dipadati oleh pembeli. Maka, dengan budaya ini pula telah banyak mendatang beberapa dampak sosial yang negatif, seperti budaya konsumtif dan hedonisme. Berbagai penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa terjadi lonjakan pembelanjaan masyarakat saat menghadapi lebaran. Prof. Dr. Azyumardi Azra pernah mencatat bahwa ‘masyarakat berbelanja lebih banyak selama Ramadhan, khususnya makanan dan pakaian. Menurut statistik, indeks penjualan eceran dalam kategori ini rata-rata meningkat sekitar 30 persen” (www.uinjkat.ac.id).

Budaya konsumtif seperti ini tentu tidak perlu terjadi jika ummat Islam berpegang teguh pada pola pikir memakai pakaian ‘terbaik’, tidak harus yang ‘terbaru’. Budaya konsumtif juga dikhawatirkan akan membawa ummat Islam pada gaya hidup hedon dan bermewah-mewah secara berlebihan. Lebih memprihatinkan, banyak masyarakat yang memaksakan diri hanya untuk membeli baju lebaran. Sampai-sampai harus hutang dan menempuh jalan-jalan yang tidak dirdihoi oleh Allah.

Akhirnya, sudah saatnya kita merekonstruksi pola pikir tentang ‘baju lebaran’. Landasannya adalah ‘pakaian terbaik’ bukan yang terbaru. Pakaian terbaik itu adalah taqwa, itu artinya memakai Al-Quran dan Sunnah Rosulullah dalam kehidupan sehari-harinya termasuk hari raya. Percuma memakai pakaian baru jika tidak menutup aurat atau prilaku kehidupan yang tidak mencerminkan ketaqwaan. Jadi yang harus dierbaharui dan ditingkatkan kualitasnya setiap tahun itu sesungguhnya adalah ketaqwaan kepada Allah. Tidak hanya baju baru! #BNODOC15707062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement