MENYEDERHANAKAN PERAYAAN IDUL FITRI

- 12:29:00
advertise here
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Nilai dan maknanya harus diistimewakan tapi perayaannya sebisa mungkin dilaksanakan dengan cara-cara yang sederhana. Disadari atau tidak, ada prilaku yang kontradiktif antara ‘pendidikan’ selama Ramadhan dengan perayaan Idul Fitri. Di bulan suci Ramadhan diajarkan untuk merasakan tidak enaknya lapar dan dahaga, ketika Idul Fitri ‘jor-joran’ tak terbendung. Seolah-olah pendidikan Ramadhan tak berbekas sama sekali.

Salah satu inti penting pelajaran yang diambil dari Ramadhan adalah hidup secara sederhana. Ummat muslim diingatkan bahwa mereka harus mampu menahan hawa nafsu. Jangankan dari yang haram, yang halal pun pada siang hari harus dihindari. Makanan dan minuman yang tersedia di meja makan anda sesungguhnya halal, tapi tidak boleh disantap di siang hari.

Pengajaran ini harusnya menjadi benteng yang kokoh untuk melawan godaan hawa nafsu di bulan-bulan berikutnya. Tapi faktanya tidak demikian. Lihat saja perayaan Idul Fitri yang dipersiapkan. Jauh dari nilai-nilai kesederhanaan itu. Sebagaian dari kita menjadi konsumtif, boros dan cenderung mubazir. Hal ini dapat dilihat dari pakaian hingga makanan dan minuman yang disiapkan.

Contoh kecil saja, masing-masing keluarga saat ini menyiapkan minuman kaleng berbagai merek. Coba perhatikan dengan cara saksama, minuman-minuman yang disuguhkan itu tidak pernah benar-benar diminum sampai habis. Sebagian besar bersisa dan dibuang. Berapa banyak minuman yang kemudian terbuang begitu saja. Bukankah kegiatan mubazir itu sahabatnya setan? Al-Quran menegaskan, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS Al Isra : 27).

Hayo, mengapa setelah sebulan penuh ikut ‘training’ untuk patuh dan tunduk pada Allah, ketika keluar malah menghamba pada setan yang jelas-jelas ingkar pada tuhannya? Sadarkah?

Begitu juga dengan makanan-makanan yang disediakan. Sebagian besar makanan-makanan itu bukan lagi untuk kebutuhan tetapi sudah masuk wilayah gengsi dan prestise. Makanan atau kue-kue yang terhidang di atas meja menjadi simbol-simbol kesombongan. Melalui kue yang terpajang di dalam toples, orang akan memberikan penilaian terhadap si empunya rumah. Semakin mahal kue yang disediakan semakin bergengsi pula. Tamu pun mulai menilai-nilai dan menakar-nakar harga.

Hal yang sama juga terjadi pada pakain yang dikenakan pada saat berhari raya. Memang Rosulullah megisyaratkan kepada ummatnya untuk mengenakan pakaian terbaik untuk menyambut dan merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Tapi bukan berarti pula harus berlebihan. Bahkan Rosul melarang kaum pria untuk mengenakan sutera. Sekali lagi, yang diingatkan oleh Rosul adalah prilaku yang berlebih-lebihan.

Maka pada konteks ini, makna perayaan kemenangan itu sesungguhnya tidak semata-mata terlihat dari hal-hal yang sifatnya fisik (kasat mata), tetapi kondisi mental (spiritual). Pemenang sejati yang merayakan Idul Fitri itu adalah jiwa-jiwa yang telah berhasil mengalahkan berbagai bentuk ‘kejahatan’ nafsu manusia dengan memperkecil porsi kecintaan pada dunia dan berorientasi akhirat. Itu artinya, jika perayaan Idul Fitri dilakukan dengan mengikuti hawa nafsu duniawi, itu sama saja merayakan kekalahan.

Dengan konsep kesederhanaan ini pula kita semua akan dapat merayakan kemenangan Idul Fitri itu dengan penuh hikmat dan bermakna. Merayakan idul Fitri tidak seharusnya mengabaikan nilai-nilai yang telah ditempa oleh Ramadahan. Jiwa-jiwa yang telah bersih disucikan saat Ramadhan tidak sepantasnya dikotori dengan nilai-nilai kesombongan dan keangkuhan.

Akhirnya, makna kemenangan Idul Fitri adalah terbentuknya jiwa-jiwa yang suci dan menghamba hanya kepada Allah. Perayaan yang dilakukan secara berlebihan hanya akan membentuk sifat-sifat riya, sum'ah, ujub dan takabur pada diri dan hati. Jika ini yang terjadi, maka sia-sialah pendidikan ramahadhan yang berlalu. Maka dari itu, mari kita rayakan kemenangan ini dengan nilai-nilai keserhanaan oleh jiwa-jiwa yang suci dan istimewa. #BNODOC17323062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi