GENTALA TAK BERTUAN

- 18:50:00
advertise here
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Menyaksikan postingan media sosial Facebook salah seorang warga Jambi yang juga fotografer terkenal, Sakti Alam Watir, dengan judul ‘Gentala Arasy Nyaris Roboh?, hampir  tidak percaya melihat kondisi Gentala Arasy saat ini. Postingan yang disertai beberapa foto ini pun kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Jambi. Dapat dipastikan, siapa pun masyarakat Jambi akan bersedih, terenyuh, iba dan marah melihat ‘landmark’ kebanggaan mereka ini diabaikan begitu saja, tidak terawat, dan memprihatinkan. Jadilah kini Gentala tak bertuan!

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab? Awalnya saya mengira mudah saja untuk mencari jawaban pertanyaan ini. Paling tidak saya memiliki beberapa abang dan ayuk (kakak) di beberapa dinas terkait. Mereka sebagian besar adalah para pengambil kebijakan. Saya mencoba menggunakan berbagai pendekatan untuk mendapatkan informasi akurat tentang instansi apa dan bagaimana sesungguhnya mekanisme  pengelolaan Gentala Arasy tersebut? Dugaan saya salah. Tidak semudah itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani dengan ‘jantan’ berkata “Itu tanggungjawab instansi saya!’

Dari ‘fenomena’ ini wajarlah kemudian jika kondisi Gentala saat ini ‘sekarat’. Analogi berpikirnya sederhana, ada anak yang sedang sakit tapi tidak ada satu pun orang tua, sanak saudara, atau siapa pun yang peduli untuk memberinya obat. Minimal ada yang mengantarnya ke ‘rumah sakit’. Maka, dapat dipastikan penyakitnya semakin parah dari hari ke hari. Agaknya, itulah yang terjadi saat ini terhadap Gentala nan menjulang itu. Tubuhnya ringkih dan sedang menunggu ‘sakaratul maut’. Roboh!

Ketika di dunia ‘nyata’ saya tidak dapat menemukan apa-apa, saya coba pula mencari apa-apa yang terserak di dunia maya. Beberapa warta cukup menjadi ‘fakta’. “Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jambi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata beberapa hari lalu dan akan segera diserahkan. "Sudah dikoordinasikan, nanti pengelolaan diserahterimakan dulu dari kita Dinas PU ke Sekda sebagai pengguna barang daerah menunjukan pengelolaanya. Mereka (Disbudpar, red) hanya mengelola. Misalkan ada membuat suatu even. Sementara untuk perbaikan jika ada kerusakan tetap Dinas PU yang bertanggung jawab,” jelasnya.” (metrojambi.com, 28/11/16).

Ini adalah salah satu berita yang paling tidak memberikan titik terang siapa sebenarnya yang bertanggungjawab terhadap ‘icon’ Jambi tersebut yaitu Dinas PU dan Dinas Pariwisata. Jika sekarang yang menjadi diskusi ‘hangat’ di tengah masyarakat adalah rusaknya beberapa bangunan fisik, maka Dinas PU-lah sebenarnya yang berada di lini depan. Deal!

Selesai? Tunggu dulu. Coba perhatikan petikan berita berikut ini. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, mengatakan, "Kita nanti minta PU yang menanggulanginya. Hanya perbaikan kecil-kecilan dapat kita lakukan,". Pihaknya sudah beberapa kali mengirimkan surat, tetapi belum ditanggapi oleh Dinas PU. "Belum ditanggapi oleh PU, ya mudah-mudahan dalam waktu dekat," tandasnya. (www.imcnews.id, 23 November 2016).  Bayangkan, ini beberapa berita tahun lalu, tapi agaknya sampai saat ini pun belum ada pembenahan. Sampai kapan hal-hal semacam ini terus terjadi? Sampai Menara Gentala itu roboh?

Terkesan saling lempar tanggungjawab dan yang menjadi korban adalah Gentala Arasy. Itulah yang sering saya katakan bahwa pemerintah kita hanya bisa membangun tapi belum mampu memelihara. Uang negara milyaran rupiah yang digunakan untuk membangun aset ini menjadi tak berarti dan dibiarkan ’mati’.

Untuk mengatasi masalah ini, sudah saatnya Gubernur Jambi sebagai pimpinan tertinggi di daerah ini ambil bagian dalam mencarikan solusi. Jangan pula ada kesan yang muncul bahwa Gentala adalah ‘karya’ gubernur sebelumnya, jadi tidak perlu mendapat perhatian. Saya rasa itu bukan hal yang bijaksana. Mau tidak mau, suka atau terpaksa Gentala telah berdiri dan menjadi milik ‘orang Jambi’.

Gentala bukan pula ‘icon’ politik tapi telah menjadi ‘landmark’ kekayaan Jambi secara utuh. Ia kemudian menyatu padu dalam bagian yang tidak terpisahkan dari kata ‘Jambi’ itu sendiri.

Saatnya menyelamatkan Gentala sebelum ia roboh dan hanyut bersama arus Sungai Batang Hari. Masing-masing pihak harus melapangkan dada untuk melihat persoalan ini dengan bijaksana. Para pemimpin dan berbagai pihak yang terkait sudah saatnya duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Masyarakat pasti berharap Gentala dapat terurus dan terpelihara sebagaimana mestinya.

Akhirnya, jangan biarkan Gentala Arasy terlalu lama tidak bertuan. Harus ada dan secepatnya instansi terkait yang dengan ‘jantan’ berani berkata ‘sayalah bapaknya!’. Jika tidak, jangan salahkan kemudian ia akan hanyut dan bertemu Datuk Paduka Berhala di hilir sana! #BNODOC18030062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi