Thursday, 11 May 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Secara gamblang, pengertian tersesat itu adalah salah jalan. Tersesat merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan kerena jalan yang ditempuh bukan yang direncanakan atau tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Mana ada tersesat yang enak dan indah. Benarkah begitu?

Coba lihat diri anda saat ini. Coba pelajari masa lalu anda. Coba ingat-ingat apa yang anda inginkan dalam hidup ini. Pertanyaannya sederhana, benarkah ‘skenario’ hidup yang anda jalani saat ini sesuai dengan ‘naskah’ yang anda tulis? Cocok dengan rute yang anda rencanakan? Saya berkeyakinan sebagian besar dari anda menjawab “tidak”. Jika begitu, “Anda tersesat!”

Jamak kita mendengar mahasiswa salah jurusan. Banyak orang ‘salah’ pekerjaan (titel tidak sesuai pekerjaan yang ditekuni). Bahkan ada yang ‘salah’ menikahi pasangan hidupnya. Kata-kata yang sering diucapan “Wah, gak nyangka ya, nikahnya sama Si Pulan”.  Ada pula yang ‘terdampar’ di daerah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan hidup dan tinggal di sana. Serasa ‘tiba-tiba’ saja anda sudah berada di sana.

Ada dua kondisi logis terhadap kondisi ini. Pertama, terjadinya pemberontakan. Tidak terima dengan keadaan dan mencoba untuk melakukan perlawanan. Pemberontakan yang paling sering dilakukan adalah dengan menyalahkan segala sesuatu di luar dirinya. Mencoba mencari penyebabnya. Ada pihak lain yang harus bertanggungjawab atas keadaan yang sedang ia hadapi. Biasanya, tidak puas dengan menyalahkan orang lain, alam, sistem, dan lain sebagainya, Tuhan pun ikut ditudingnya.

Dengan pemberontakan ini, hidupnya semakin terbebani dan biasanya selalu dalam keadaan tertekan. Dia tidak terima atas segala yang ia hadapi saat ini dan berharap pihak lain pula akan merubahnya. Ada? Allah pun sudah mengatakan “Kami tidak akan merubah nasip suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri merubah dirinya” (QS Ar-ra'd ayat: 11). Jika Sang Pemilik jagat raya ini sudah menegaskan demikian, maka pilihannya cuma satu, merubah diri sendiri.

Kedua, berdamai dengan keadaan. Sesaat mengetahui bahwa dirinya sedang ‘tersesat’, langkah utama yang dilakukan adalah menentukan pilihan; ‘melanjutkan perjalanan’ atau ‘kembali ke pangkal jalan’. Semua ada konsekuensi yang harus diterima. Tidak ada dalam hidup ini yang minus resiko. Tinggal lagi siap atau tidak dengan resiko yang dihadapi.

Cara paling tepat untuk berdamai dengan ‘kesesatan’ yang dialami dalam hidup ini adalah dengan mengungkap rahasia Allah untuk diri kita. Dengan cara ini, kita akan mengetahui bahwa tidak semua yang kita inginkan ternyata yang terbaik untuk hidup kita. Dan sebaliknya, tidak semua yang tidak kita inginkan itu buruk.  Keputusan terbaik adalah apa-apa yang datang dari Sang Pencipta.

Persoalannya hanya terletak pada pola pikir (mindset) dan sikap terhadap keadaan yang dihadapi. Tidak mudah menerima apa yang tidak disuka. Tidak gampang untuk mengatakan tidak terhadap yang diinginkan. Cara terbaik untuk berdamai dengan keadaan semacam ini adalah dengan menanamkan optimisme. Situasi seperti ini pula yang akan memperlihatkan beda antara orang-orang yang optimis dan pesimis.

Martin E. P. "Marty" Seligman, seorang psikolog Amerika yang telah banyak menulis buku tentang optimis, merumuskan aspek-aspek bagaimana seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri terhadap masalah yang ada. Sebagaimana di kutip oleh wikipedia.com, untuk mengetahui optimis tidaknya seseorang, dapat dilihat cara berpikir dia terhadap penyebab terjadinya suatu peristiwa. Seligman menamakan cara atau gaya yang menjadi kebiasaan individu dalam menjelaskan kepada diri sendiri mengapa suatu peristiwa terjadi sebagai gaya penjelasan (explanatory style).

Menurut Seligman (1991), gaya penjelasan seseorang terdiri dari tiga aspek yaitu, pertama Permanensi, yang merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan dengan waktu; temporer dan permanen.  Kedua, Pervasivitas, adalah gaya penjelasan yang berkaitan dengan dimensi ruang lingkup, dibedakan menjadi spesifik dan universal, orang yang pesimis akan mengungkap pola pikir dalam menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan dengan cara universal. Ketiga, Personalisasi, yaitu gaya penjelasan yang berkaitan dengan sumber penyebab, internal dan eksternal.

Inilah yang membedakan Si Pesimis dan Si Optimis. Kata Seligman, orang yang pesimis akan menjelaskan kegagalan atau kejadian yang menekan dengan cara menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan dengan kata-kata "selalu", dan "tidak pernah", sebaliknya orang yang optimis akan melihat peristiwa yang tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang terjadi secara temporer, yang terjadi dengan kata-kata "kadang-kadang", dan melihat sesuatu yang menyenangkan sebagai sesuatu yang permanen atau tetap.

Akhirnya, boleh jadi semua orang ‘tersesat’. Maka, yang membedakannya adalah cara pandang atau mindset masing-masing. Ada yang terpuruk, dan ada pula yang menikmati indahnya ‘tersesat’. #BNODOC13011052017

*Akademisi dan Praktisi Mind-Setting Programmer Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement