Wednesday, 3 May 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Beliau adalah tokoh pelopor Pendidikan Nasional Indonesia. Rasanya tidak ada anak negeri ini yang tidak mengenal dirinya melalui perjuangan, ide dan pemikirannya tentang dunia pendidikan. Hidupnya dihibahkan untuk urusan pendidikan. Salah satu karya terbesarnya adalah lembaga pendidikan Taman Siswa. Pernah juga menjadi Menteri Pendidikan (Menteri Pengajaran) pada masa kabinet pertama Republik Indonesia.  Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari  Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Tentu bukan hanya prestasi-prestasi akademik ini yang membuat dirinya begitu berarti bagi dunia pendidikan bangsa Indonesia, namun pemikiran, konsep dan cita-citanyalah yang menjadikan dirinya tetap dikenang sepanjang masa. Keberaniannya untuk melakukan perlawanan terhadap sistem pendidikan Kolonial Belanda yang diskriminatif merupakan suatu ‘karya besar’ yang mungkin tidak lagi ditemukan pada insan pendidikan hari ini. Di masa itu, Belanda hanya memperuntukkan pendidikan bagi segelintir orang kaya atau ‘darah biru’. Si misikin tersingkirkan.

Perlawanan semacam ini tentunya memerlukan ‘nyali’ besar dengan konsep dan cita-cita yang mulia. Resiko yang akan diterima dari penentangan terhadap penjajahan sudah sangat jelas; diasingkan atau bahkan dibunuh. Itulah yang kemudian beliau alami hingga kemudian ‘dikirim’ ke Belanda. Tentu bukan untuk pelesiran atau studi banding, tapi dibuang dan diasingkan atas perlawanan yang ia lakukan terhadap penguasa.

 Pertanyaannya untuk hari ini, masihkah pendidikan kita terjajah? Masih adakah orang-orang hebat yang mampu melawan penjajahan itu, sehebat Pak  Soewardi? Inilah agaknya yang menjadi tugas kita bersama. Harus kita akui bahwa dunia pendidikan kita belum benar-benar keluar dari segala bentuk penjajahan. Dalam cara dan situasi yang berbeda, diskriminasi seperti yang dilakukan oleh para penjajah Belanda masih berlaku. Memang tidak ‘kasat mata’, tapi ketika SPP di perguruan tinggi membubung tinggi, apakah itu bukan bagian dari diskriminasi? Dengan cara itu sama saja menyingkirkan kaum proletar untuk tidak mendapatkan pendidikan maksimal!

Siapa yang berani menyatakan angkat senjata pada para penjajah macam ini? Kita memang merindukan sosok Pak  Soewardi yang berani melawan penindasan. Memang tidak mudah karena para penindas saat ini adalah bangsa sendiri (sistem). Belanda jadi-jadian!

Kita juga kehilangan roh filosofi dasar pendidikan yang telah ditanamkan oleh beliau yaitu ‘ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’. Lihat saja berita-berita yang muncul hari-hari terakhir ini. Dosen berani mencabuli mahasiswinya. Guru mesum dengan murid sendiri. Bahkan lebih miris mendengar guru ngaji melampiaskan syahwat kepada santrinya sendiri. Mana yang disebut ‘tulada’ itu? Teladan dan contoh mana yang mana dapat ditiru?

Jauh-jauh hari beliau telah menanamkan nilai yang sangat berharga bagi insan pendidik negeri ini. Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.  Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan dan Arahan. Di mana pun berada harus mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain. Itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Bukan tidak ada, tapi memang sudah sulit kita mencari sosok-sosok hebat seperti beliau. Pendidik kita telah banyak ‘diracuni’ kehidupan modern yang cenderung hedon, pragmatis dan materialistic. Keikhlasan dalam memberi ilmu sudah mulai tergerus oleh nilai-nilai ekonomis yang bengis dan amis. Orientasi pendirian sekolah-sekolah swasta tidak lagi sama seperti beliau mendirikan Taman Siswa. Taman kanak-kanak pun saat ini sudah harus menghitung angka berjuta-juta. Mahal!

Sungguh, dimana sosok dan nilai-nilai yang telah beliau tamankan? Sungguh-sungguh dirindukan. Jika hari ini beliau melihat anak-anak sekolah merayakan kelulusan dengan corat-coret baju seragam, pastilah beliau bersedih karena tidak terbayangkan betapa rapuhnya mental kaum terdidik negerinya. Hari kelahirannya diperingati setiap tahun, tapi nilai-nilai fondamental pendidikan yang ia tanamkan dibunuh setiap saat!

Selamat Ulang Tahun, Pak Dr. (HC) Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Kami sangat merindukanmu!  #BNODOC12203052017

*Akademisi dan Pengamat Pendidikan Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement