Saturday, 27 May 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya tidak sedang membicarakan ‘penguasa’ pada konteks sistem kenegaraan atau pemerintahan sebagaimana dipahami. Tapi  saya ingin mendiskusikannya pada level lebih kecil yaitu diri sendiri. Jika diri adalah sebuah ‘lembaga’ yang memiliki mekanisme kerja dalam beroperasi, maka dapat dipastikan ada pula sesuatu atau sistem yang menguasai dan menjadi penguasa atas diri tersebut. Itulah yang sering disebut dengan ‘mind’ atau alam pikiran (the power of mind).

‘Mind’ merupakan salah satu mekanisme kerja otak manusia yang berkuasa untuk menentukan respon atau mengendalikan diri. Saya berikan contoh yang sederhana.  Ada orang yang takut sekali dengan jarum suntik, kecoa, ular, cicak, atau bahkan semut. Ketakutan berlebihan ini kemudian disebut juga dengan fobia. Namun bagi sebagian orang, kondisi atau binatang-binatang ini sama sekali tidak menakut, biasa saja, bahkan ada yang disayang. Mengapa terjadi perbedaan ini?

Itulah salah satu contoh cara kerja ‘mind’ tersebut yaitu untuk menentukan mana yang harus ditakuti, disayangi  atau dibenci dan seterusnya. Dialah penguasanya. Maka sudah dapat dipastikan jika seseorang dapat menaklukkan ‘mind’-nya, maka ia bisa mengontrol atau menentukan jalan hidupnya.

Pada kondisi bulan ramadhan saat ini, tugas ‘mind’ ini sangat dominan. Ia akan menjadi penentu alam pikiran ntuk memutuskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh. Dia jugalah yang menentukan ‘kadar’ lapar yang dirasakan. Ada orang sedang berpuasa yang menunjukkan laparnya sampai tak berdaya, tapi ada pula yang tetap main bola atau kerja keras. Jika tidak percaya silahkan lakukan uji coba.

Coba saja anda persiapkan diri untuk puasa dengan persiapan yang sama, dari sahur sampai hal-hal lainnya sama. Tapi yang dibedakan adalah alam pikirannya. Hari ini settinglah ‘mind’ anda dengan perasaan lemas, lapar, haus, tak berdaya. Hasilnya, sepanjang hari anda pasti akan mengalami hal tersebut. Dengan kondisi yang sama, hari berikutnya anda pasang ‘mind’ yang segar, senang, bugar, ceria, tidak mengingat-ingat lapar, dan seterusnya, maka itulah yang anda alami.

Jika begitu, lapar itu bermula dari alam pikiran bukan dari perut. Perut ternyata hanya menerima perintah dari Sang Penguasa; mind. Jika sang penguasa bilang tidak lapar, maka perut akan tunduk dengan perintah itu dan pasti tidak lapar. Haus bukan berawal dari kerongkongan. Kerongkongan hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh 'mind'. Jadi apa pun yang terjadi pada fisik manusia, sesungguhnya adalah menjalankan perintah ‘mind’.

Maka dari itu, untuk menentukan jalan hidup manusia itu harus diawali dengan menaklukkan sang penguasi diri tersebut.  Celakanya, jika ‘mind’ ini tidak terkontrol atau tidak punya kuasa untuk mengendalikannya, maka ia akan menjadi liar, bahkan cenderung merusak. Itulah mengapa orang yang tidak bisa menguasai ‘mind’-nya akan rasa lapar, maka lapar akan membuat ia melakukan apa pun untuk memenuhi hasrat laparnya. Orang akhirnya akan melakukan segala sesuatu (baik dan buruk) akan sangat ditentukan bagaimana hubungan dirinya dan ‘mind’nya. Pilihannya cuma satu; menguasai atau dikuasai

Bulan suci Ramadan ini pulalah sesungguhnya cara terbaik untuk melatih menguasai dan menaklukkan ‘mind’- kita, khususnya melawan pikiran-pikiran negatif dan destruktif selama ini.

Akrhirnya, tantangan utama dalam puasa itu adalah menaklukkan ‘mind’ yang ada dalam setiap diri manusia. Jika seseorang gagal menaklukkannya maka ia akan ditaklukkan. Jika ia ditaklukkan maka dapat dipastikan seseorang itu akan bertekuk lutut menghamba pada segala bentuk perbuatan negatif yang juga akan bercampur baur dengan hawa nafsu dan godaan syaitan. #BNODOC14627052017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement