Thursday, 20 April 2017

author photo
Suku Anak Dalam (SAD) yang berada di Sungai Dahan, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, atau yang dikenal dengan Kubu Kilis , seperti masih menjadi objek seksi untuk ajang mencari muka, terutama bagi para pejabat di Kabupaten Tebo.

Hal ini terbukti, beberapa program dari Pemkab Tebo yang ditujukan ke warga SAD ini, belum mampu mengubah hidup maupun pola hidup mereka. Baik program pendidikan, pertanian, kesehatan maupun pemberdayaan. Padahal, program-program tersebut sangat dibutuhkan oleh warga SAD.

Di jaman Sukandar menjabat sebagai Bupati Tebo, Sukandar menginstruksikan agar para SKPD memperhatikan warga SAD. Saat itu juga para SKPD menjalin komunikasi sama para pendamping SAD. Salah satunya dilakukan oleh Kepala Dinas Dikbudpora Tebo yang saat ini menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tebo.

Saat itu, Kadis Dikbudpora Tebo dijabat oleh orang yang sama, yakni Zulkifli minta kepada pendamping agar mendata kelompok SAD yang ada di Tebo, baik yang berada di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) maupun SAD yang berada di kawasan TNBD. Tidak itu saja, Kadis juga minta jumlah tenaga pendidikan atau guru yang dibutuhkan untuk masing-masing kelompok SAD.


Para pendamping pun langsung merespon niat baik Kadis tersebut karena memang hal itu sudah lama dinantikan. Para pendamping langsung memverifikasi data kelompok dan berapa jumlah guru yang dibutuhkan untuk mengajar kelompok SAD. Hasil verifikasi data tersebut langsung diserahkan ke Dinas Dikbudpora Tebo. Sayang, hingga saat ini tidak satupun ada penambahan guru untuk warga SAD.


Tahun 2016, atas desakan pendamping, Dinas Dikbudpora Tebo membangun Sekolah Alam yang saat ini dinamakan Pondok Belajar Pelita Kita. Sayangnya, Dinas Dikbudpora yang saat ini berubah menjadi Disdikbud Tebo tidak melengkapinya dengan perangkat belajar seperti buku, pena, papan tulis, alat peraga dan lain sebagainya. Bahkan, boleh dikatakanbelum ada bantuan sedikit pun dari Disdikbud Tebo untuk serana dan prasarana pendidikan SAD.

Alhasil, sampai sekarang pun Pondok Belajar tersebut belum bisa dimanfaatkan sebagai mana mestinya.

Hal ini pun menjadi tanda tanya besar di benak penulis, program pendidikan untuk kelompok SAD apakah benar-benar untuk memajukan pendidikan SAD, atau hanya menjadi objek cari muka pejabat? (red) 

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement