Saturday, 15 April 2017

author photo
Foto sumber internet 
Jika dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dapodik (Data Pokok Pendidikan) namanya, sedangkan EMIS (Education Management Information System) atau SIMPATIKA adalah sebutan khusus bagi lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Kementrian Agama. Hanya saja walau berbeda nama namun tetap memiliki satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan sistem pendataan riil skala nasional yang terpadu sebagai sumber informasi utama pendidikan di Indonesia.

Dengan munculnya istilah kekinian terkait pendataan serba-serbi internal lembaga pendidikan tersebut, tanpa terasa dunia pendidikan hari ini telah melangkah jauh dalam hal sistem pendataan dan informasi pendidikan, terlebih selain mengharuskan sekolah menggunakan maha karya teknologi, juga harus mampu memahami sistem informasi website. Bahkan seiring dengan kemajuan inipun sekolah harus memiliki operator yang dapat diandalkan dalam menjalankan tugasnya.

Pada bagian ini tentunya seorang operator menjadi komponen penting dalam sistem pendataan dan informasi pendidikan yang terintegrasi pada Data Pokok Pendidikan maupun Education Management Information System, dan tentunya tugas operator sekolah yang biasa disebut "Ops" ini tidak bisa dipandang sebelah mata akan tugas dan tanggung jawabnya.

Namun sayangnya, tidak jarang operator sekolah kerap menjadi sasaran emosi para guru, sebab satu-satunya orang yang menjadi sasaran emosi para guru yang tidak cair uang sertifikasinya tidak lain dan tidak bukan adalah operator sekolah. Karena itulah operator sekolah selain harus mampu menjalankan tugasnya, juga harus berbekal mental yang kuat, karena beban terberat seorang operator sekolah ialah beban mental.

Tidak hanya itu, permasalahan lain yang kerap dihadapi ialah soal jaringan internet yang masih belum merata, bahkan juga terkadang tidak semua perangkat keras sesuai dengan perangkat lunak sistem pendataan informasi berbasis aplikasi dan online. Sehingga operator sekolah harus memutar otak untuk menyelesaikan tugasnya, bahkan terkadang harus mencari waktu yang tepat untuk mendapatkan akses ke server.

Namun meskipun demikian persoalan yang dihadapi oleh operator sekolah, pekerjaan ini terlihat cukup menggoda dan diminati, karena sejak diluncurkannya program ini maka berarti Kemendikbud dan Kemenag telah melahirkan pekerjaan baru. Hanya saja secara umum kita belum mengetahui bagaimana kedepan nasib para operator sekolah ini, khususnya bagi mereka yang masih berstatus honorer. Dan tentunya ini menjadi pengharapan para sang "Ops", sebab mereka tahu bahwa pekerjaan mereka sangatlah penting bagi jalannya sistem lembaga atau sekolah, dan mereka layak mendapatkan harapan yang lebih baik.

Disamping itu, melihat sisi pekerjaan dan tanggung jawab yang diemban para operator sekolah ini, belakangan mulai beken di media sosial bahwa "operator sekolah adalah jantung sekolah". Mungkin istilah ini cukup menjadi pelega bagi para operator sekolah, setidaknya menjadi motivasi bagi mereka untuk tetap maksimal dalam bertugas. Tapi soal sebutan ini jika dicermati bahwa operator sekolah adalah jantung sekolah merupakan kalimat yang layak, karena tanpa adanya operator maka dipastikan sistem pendataan dan informasi akan mengalami hambatan, pada akhirnya program, bahkan dana sekolah maupun insentif bagi tenaga pendidik ikut serta mengalami kendala.

Begitu pula dengan sebutan bahwa operator sekolah yang secara kinerjanya dielu-elukan "ibarat pahlawan perjuangan kemerdekaan". Munculnya kalimat ini karena sebagian orang menilai bahwa sistem pendataan dan informasi yang menggunakan sistem Dapodik, EMIS atau SIMPATIKA ini telah berhasil menyelamatkan uang negara. Dimana sistem yang diluncurkan pemerintah ini secara langsung mampu mengakses data setiap sekolah secara detail, bahkan juga mampu memotong jalur birokrasi administrasi dari sekolah maupun dinas atau lembaga daerah terkait. Sehingga cikal bakal kecurangan-kecurangan, manipulasi data, pembengkakan jumlah Peserta Didik, pelaporan BSM yang fiktif, laporan palsu dari penerima sertifikasi dan lain sebagainya mampu kikis oleh Aplikasi tersebut.

Jika apa yang menjadi anggapan diatas adalah nyata dari keberhasilan sistem pendataan dan informasi pendidikan terkini, tentunya ini adalah merupakan terobosan pemerintah yang sukses. Namun tidak terlepas semua keberhasilan tersebut adalah merupakan jasa para operator sekolah yang katanya "Jantung Sekolah", yang katanya "Ibarat Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan", namun ironisnya mereka masih sering disebut sebagai "Pahlawan Yang Belum Dianggap".

Sebutan Pahlawan yang belum dianggap? atau pahlawan tidak dianggap? inipun banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun yang terpenting disini bukan soal kepahlawanan, tapi saat ini juru kunci data dan informasi sekolah ini diduga masih menerima upah yang masih belum sepadan dengan beban dan tanggungjawabnya. Padahal hidup mati sekolah sangat bergantung pada tangan operator sekolah, karena tidak sedikit lembaga pendidikan tidak mendapatkan saluran dana dari APBN maupun APBD akibat sistem pendataan yang tidak baik. Sementara disisi lain tanggungjawab operator sekolah bukan hanya mengenai IT atau sofware dari dinas atau kementerian, tapi pekerjaan administrasi lain, bahkan sangat berkaitan sekali dengan keuangan sekolah maupun insentif tenaga pendidik, mulai dari tunjangan fungsional, tunjangan profesi guru atau sertifikasi, tapi lagi-lagi upah yang mereka terima diduga masih terlihat belum sesuai dengan apa yang menjadi tanggungjawab mereka.

Dan pada akhirnya dengan sejumlah opini maupun penilaian diatas serta beban mental yang harus ditanggung para operator sekolah, mungkin sudah saat saatnya bagi mereka untuk mendapatkan upah yang layak serta pembinaan yang lebih maksimal, sehingga dengan tingkat kesejahteraan yang baik, diharapkan kinerja para operator sekolah semakin maksimal dalam memberikan data dan informasi yang akurat, terpadu, dan baik dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan Indonesia.(timredaksi)
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement