Sunday, 12 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya sedang berada di Pekanbaru. Untuk kepentingan sesuatu saya singgah di sebuah minimarket modern berinisial “Indo”. Para pengunjung memang agak lebih ramai di toko itu. Kali ini saya dikagetkan dengan pemandangan yang tidak biasa. Baru pertama saya menemukan minimarket waralaba ini menyediakan jualan yang tidak lazim.  Toko ini menjual siomai, ayam goreng (fried chicken), rujak, berbagai minuman panas dan dingin, mi instant siap saji dan buah-buahan segar. Di dalamnya disedikan beberapa meja makan untuk pengunjung menikmati menu yang dipesan.

Saya rasa ini merupakan konsep baru. Mereka menyatukan penjualan ‘kering’ dan ‘basah’. Jika selama ini kasirnya hanya melakukan pemindaian (scanner) terhadap kede barang (barcode) yang konsumen beli, sekarang mereka juga bertindak sebagai pedagang siomai, ayam goreng siap saji, mengiris buah-buahan untuk dijadikan rujak, dan meracik minuman panas dan dingin, dan lain-lain. Konsumen pun dapat menikmati makanan yang dipesan di dalam toko yang dingin dan nyaman.

Konsep pasar modern yang serba ada telah memberi kemudahan kepada pembeli. Mereka seakan menjawab seluruh kebutuhan konsemen dengan mudah, nyaman dan bersih. Mereka berhasil memindahkan isi dompet konsumen ke laci kasir dengan senyuman. Konsumen ‘diperas’ dengan mengucapkan terima kasih. Itulah hebatnya, sudah ‘diperas’ masih ngucapin terima kasih pula.

Bagaimana dengan toko-toko tradisional? Tidak menutup mata, toko-toko tradisional mulai ditinggalkan konsumen alias tertinggal. Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang lebih memilih belanja di toko modern ketimbang di toko-toko tradisional.

Pertama, kenyamanan berbelanja. Toko modern menyuguhkan tempat belanja yang nyaman dan bersih. Barang-barang jualan terpelihara dengan baik. Coba bandingkan dengan toko-toto tradisional yang sering kali kita membeli barang yang penuh dengan debu. Sudahlah tokonya berdebu tidak nyaman, barang-brang yang dibeli pun tidak pernah dibersihkan.

Kedua, keterbukaan harga. Saya pernah melakukan percobaan kecil-kecilan. Saya membeli sebotol minuman dingin. Hari pertama saya ‘ngegembel’. Pakaian butut, celana pendek, sandal jepit, naik motor. Harga minum yang dijual Rp. X. Hari berikutnya saya datang ke toko yang sama membeli minuman yang sama dengan sedikit merubah penampilan, saya memakai kemeja rapi, bersepatu dan naik motor. Ternyata harga   harga minuman sudah berubah lebih mahal lima ratus rupiah dari hari sebelumnya. Hari selanjutnya, sepulang dari kampus dengan pakaian kantor dan mengendari mobil ternyata beda harganya lebih mahal seribu rupiah dibanding hari pertama.

Sementara di toko modern tidak berlaku pembedaan harga untuk konsumen. Konsumen diperlakukan sama dengan harga yang sama. Harga sudah dipampang di dekat barang sehingga konsumen pun bisa menghitung sendiri isi dompet dengan barang yang akan dibeli. Keputusan ada sepenuhnya di tangan anda sebagai konsumen. Jika ada duit silakan beli, jika tidak cukup dilihat-lihat saja. Fair!

Ketiga, kualitas barang dan layanan. Sering kali kita dapati barang-barang yang sudah kadaluarsa (expired) yang tersedia di toko-toko tradisional. Boleh jadi tidak disengaja. Di toko modern pun sering terjadi namun relatif lebih terkontrol karena perputaran jual beli  barang yang tinggi. Belum lagi bicara layanan, toko tradisional sering kali melayani konsumen dengan tidak baik. Penjual lebih suka cemberut ketimbang senyum tulus melayani pembelinya. Sementara toko modern menempatkan kualitas pelayanan konsumen di urutan pertama.

Saya sangat setuju dengan himbauan untuk berbelanja di toko-toko tradisional untuk membantu para pedagang kecil. Tapi apakah konsumen harus mengabaikan kepuasan berbelanja mereka? Maka, jika demikian sesungguhnya bukan minimarket modern yang harus dihadang tapi toko-toko tradisional yang mesti didorong untuk memiliki kualitas yang sama.  Jika ditanya konsumen, pastilah mereka akan memilih tempat berbelanja yang nyaman, bersih dan perlakuan harga yang terbuka.

Akhirnya, tulisan ini tidak dalam rangka mengagungkan minimarket modern tapi mencoba memberi gambaran kepada toko-toko tradisional untuk berpacu memberi layanan dan kualitas barang yang baik kepada konsumen. Saya sangat yakin para pedagang tradisional pun bisa ‘membunuh’ toko-toko modern itu jika mampu menyediakan layanan yang sama bahkan lebih baik. Maka dari itu, jika tidak berbenah diri, jangan marah kalau  pada akhirnya toko-toko tradisional semakin ditinggalkan. #BNODOC7012032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement