Thursday, 16 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada tahun 2010 yang lalu saya telah menulis artikel kecil yang berjudul “Jambi Menuju Kota Macet”. Artikel tersebut berangkat dari realita kehidupan msyarakat Kota Jambi. Pada masa itu kemacetan belum begitu terasa. Namun tanda-tandanya sudah muncul terutama pada jam-jam sibuk. Kemacetan mulai terjadi pada jam-jam tertentu di pusat-pusat keramaian seperti sekolah, perkantoran, dan mall. Tidak meleset, walaupun tidak separah Jakarta, saat ini kemacetan di Kota Jambi mulai menyumbang penyakit stress untuk penduduk Jambi.

Tidak perlu ditanya apa penyebabnya karena jawabannya sudah sangat klasik. Kendaraan bertambah pesat sementara pembangunan jalan raya berjalan lamban. Tidak seimbangnya antara pertumbuhan kendaraan dan pembangunan infrastruktur membuat kepadatan tidak bisa dielakkan. Usaha Pemkot untuk melebarkan beberapa ruas jalan Dalam Kota Jambi sudah sangat baik dan perlu diapresiasi. Namun agaknya hal ini bukan pula tawaran solusi jangka panjang.

Solusi jangka panjang itu adalah dengan mengatasi sumber kemacetan itu sendiri. Salah satu sumber utamanya adalah satu orang satu kendaraan (‘one man one vehicle’). Itu artinya, jika ada 100 orang keluar dari rumah maka akan ada 100 kendaraan yang harus ditampung oleh jalan. Maka, cara jitu mengatasi kemacetan adalah dengan menyediakan ‘satu kendaraan untuk 100 orang’. Itulah yang kita sebut dengan transportasi massa (mass transportation).

Dengan kondisi kota Jambi yang semakin padat saat ini, sudah saatnya Pemkot serius menyediakan transfrotasi massa. Ada dua angkutan masal yang mendesak untuk disediakan. Pertama, bis sekolah. Kemacetan yang terjadi khususnya di pagi hari disebabkan oleh anak-anak sekolah yang menggunakan sepeda motor dan banyaknya orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah. Bis sekolah adalah solusi tepat untuk mengatasi hal ini. Jika ada kendaraan masal yang mengangkut 1000 siswa setiap harinya, maka akan dapat mengurangi 1000 kendaraan menuju sekolah.

Ditambah lagi, sebahagian besar para siswa tidak dilengkapi dengan surat izin mengemudi (SIM). Dengan bis sekolah akan menurunkan angka pelanggaran lalu lintas oleh para siswa. Dari sisi keamanan, bis sekolah juga akan mengurangi kecelakaan lalu lintas para siswa yang kerap merenggut nyawa.

Kedua, bis umum. Saat ini angkutan umum di dalam kota masih menggunakan Angkot. Sudah saatnya diganti dengan bis dengan daya angkut yang lebih masif dan representatif. Banyak masyrakat tidak mau menggunakan Angkot karena rendahnya faktor keamanan dan kenyamanan. Angkot yang suka ugal-ugalan sering mengancam nyawa penumpang membuat orang ‘ogah’ naik angkot. Belum lagi kenyamanan yang masih jauh dari kata nyaman.

Jika Pemkot menyediakan angkutan Bis Kota yang aman dan nyaman, maka dengan sendirinya masyarakat akan lebih suka menggunakan kendaraan umum ketimbang membawa kendaraan pribadi. Dengan demikian beban jalan akan semakin berkurang dan kepadatan jalan raya dapat diurai.

Akhirnya, Pemkot Jambi tidak perlu basa basi lagi sebelum macet semakin menggila di kota kecil ini.  Sudah saatnya menyediakan angkutan umum yang masif dan kondusif. Yakinlah, tidak hanya macet yang dapat diatasi, namun banyak hal positif lainnya yang bisa diperoleh dengan adanya angkutan masal dalam Kota.  Sekarang! #BNODOC7416032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement