Monday, 27 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Berulang kali saya menegaskan dalam berbagai seminar dan sosialisasi melawan narkoba bahwa persoalan narkoba tidak hanya menyangkut pelanggaran hukum. Akan tetapi merupakan persoalan mindset (pola pikir) dan lifestyle (gaya hidup). Hipotesa yang dibangun, jika seseorang memiliki pola pikir dan pola hidup yang benar, maka tidak akan pernah mau menyentuh narkoba. Jadi, penyalahgunaan narkoba itu hilirnya, atau hanya akibat. Hulu atau penyebabnya adalah pola pikir dan pola hidup yang salah.

Saya mencoba mengamati pola kehidupan para siswa dan pemuda saat ini khususnya yang ada di desa-desa dan sedikit membandingkan dengan apa yang terjadi pada masa lalu. Sudah terjadi pergeseran yang lauar biasa. Sayangnya, pergerseran ini cenderung negatif. Dulu, para pemuda atau anak-anak sekolah disibukkan dengan melakukan banyak hal. Pagi-pagi sudah berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau mendayung sepeda. Pulang sekolah melanjutkan sekolah sore di madrasah. Sore hari menjelang magrib menghabiskan waktu berolah raga seperti main bola kaki, bola volley, badminton, dll. Ketika Magrib menjelma, mereka berbondong-bondong menuju masjid dan musolla dilanjutkan belajar mengaji Al-Quran.

Rutinitas yang padat seperti ini membuat para siswa dan pemuda nyaris tidak punya waktu untuk konkow-konkow ‘kosong’. Hal ini yang sudah tidak lagi terjadi saat ini. Beberapa hari lalu saya berkesempatan untuk berada di desa dan menemukan fakta-fakta mengejutkan. Miris melihat anak-anak usia sekolah kebut-kebutan sepeda motor di jalan raya. Nongkrong di pinggir jalan hingga larut malam. Anak usia sekolah menengah pertama (SMP) sudah merokok dan bahkan akrab dengan minuman keras. Mengejutkan, sebagian besar dari mereka sudah kecanduan narkoba, yang paling ringan ‘ngelem’.

Maka salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membina para generasi harapan bangsa ini adalah dengan kembali menata pola hidup mereka. Ada beberapa hal yang memungkinkan untuk dimulai. Pertama, sibukkan mereka dengan kegiatan olah raga. Ini juga menjadi perhatian saya selama berada di desa. Fasilitas-fasilitas olah raga untuk anak-anak muda ini ternyata sudah tidak lagi tersedia. Lapangan bola kaki sudah menjadi padang ilalang. Lapangan voli jadi padang rumput. Lapangan badminton sudah ‘lenyap’. Hampir semua fasilitas oleh raga (tradisional) di desa sudah tidak ada.

Sudah saatnya perhatian semua pihak mengarah kepada perbaikan fasilitas-fasilitas ini. Yakinlah dampaknya akan sangat besar jika kita mampu ‘menarik’ mereka kembali ke lapangan olah raga.  Jika mereka telah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan berolah raga pada siang hari, dengan sendirinya pada malam hari mereka kelelahan dan menikmati malam di rumah masing-masing bersama keluarga.

Olah raga juga membuat tubuh segar dan sehat. Kita sudah tahu bahwa ‘di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (Mens sana in corpore sano)’. Para pecandu narkoba itu sakit tubuh dan rusak jiwa. Jadi, untuk menghindari anak-anak muda ini terjerat narkoba harus diolah fisik mereka sehingga sehat dan kuat. Berbagai jenis olah raga yang mereka suka sudah harus disediakan dan dibina  bersama-sama.

Saya rasa, dana desa yang saat ini tersedia sudah harus diarahkan semaksimal mungkin  untuk pembinaan dan pemberdayaan sumberdaya manusia. Ingatlah, pembanguan apa pun tidak akan berjalan atau bahkan tidak ada gunanya jika generasi muda bangsa ini bergelimang narkoba. Tidak mungkin estapet pembangunan bangsa ini deserahkan kepada orang-orang mabuk tuak dan penggila narkoba. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Jangan serahkan seratus persen kepada pemerintah sebab yang merasakan langsung dampaknya adalah masyarakat sendiri. Hidupkan gotong royong, pererat tali silaturrahmi dan kekerabatan antar sesama. Bahu membahu menghadapi musuh bangsa ini; narkoba.

Akhirnya, untuk menghindari anak-anak muda desa dari pengaruh narkoba, harus merubah pola hidup mereka dengan mengembalikan mereka ke lapangan olah raga. Fasilitas olah raga dan berbagai kegiatan penggalian potensi prestasi seperti turnamen harus digalakkan. Sibukkan mereka dengan proses menggapai prestasi. Semua pihak harus peduli. (bersambung). #BNODOC8527032017

*Akademisi dan Trainer TOT P4GN BNN Provinsi Jambi.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement