Tuesday, 7 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Mungkin diantara kita masih sempat mendengarkan kisah-kisah heroik para penuntut ilmu zaman dahulu di negeri ini. Hanya untuk bersekolah ke ibu kota kabupaten atau ibu kota provinsi dibutuhkan perjuangan yang begitu berat. Jarak tempuh yang memakan waktu lama. Kondisi jalan yang tidak bagus. Kendaraan atau angkutan umum yang tidak mudah. Begitu juga dengan sulitnya berkomunikasi dengan anggota keluarga yang ditinggalkan. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak mendapat kabar berita. Menuntut ilmu di rantau orang bak pergi ke medan tempur.

Itu dulu. Sekarang zaman sudah berubah. Kemudahan demi kemudahan telah dapat dinikmati oleh generasi yang hidup di era ‘smartphone’ ini. Dengan infrastruktur jalan yang bagus, jarak tempuh dari satu daerah ke daerah lain sudah dapat ditempuh dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Kemudahan transportasi juga sudah dapat dinikmati baik darat, laut, maupun udara. Kemajuan komunikasi dan informasi juga telah memungkinkan orang untuk berinteraksi setiap saat dengan melintas batas ruang dan waktu.

Segala perubahan dan kemajuan ini ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi dunia pendidikan. Itulah yang saya sebut dengan pendidikan tanpa tapal batas. Artinya, dengan segala kemudahan yang tersedia, para penuntut ilmu dengan bebas menentukan pilihannya untuk menimba ilmu di mana saja tanpa menghiraukan jarak yang harus ditempuh.

Globalisasi Pendidikan
Apa yang saya maksud dengan globalisasi pendidikan adalah menempatkan dunia pendidikan tanpa batas-batas daerah dan bahka negara. Menempatkan dunia pendidikan dalam satu kawasan besar yaitu jagat raya tanpa sekat (borderless). Itu artinya, orang memungkinkan untuk memilih tempat menuntut ilmu di mana saja yang ia suka.

Menentukan tempat menuntut ilmu (sekolah atau kuliah) adalah sebuah pilihan. Maka masyarakat modern saat ini tidak lagi boleh terjebak dengan pemikiran ‘lebih baik’ dan ‘lebih buruk’. Ketika saya memutuskan untuk mendapatkan pendidikan magister  (S2) di Malaysia, itu bukan berarti serta merta Malaysia lebih baik dari Indonesia. Itu adalah pilihan saya dengan berbagai pertimbangan saya sendiri.

Yang harus digarisbawahi bahwa setiap negara atau setiap institusi pendidikan memiliki lebih dan kurang. Di bidang-bidang tertentu bisa saja suatu negera memiliki keunggulan tapi di bidang lain dia memiliki kelemahan. Maka lihat saja, orang Malaysia pun masih sangat banyak yang menuntut ilmu di Indonesia. Maka sudah saatnya masyarakat diajari berpikir global. Sudahi asumsi-asumsi negatif yang tidak produktif.

Begitu juga halnya pada tataran lokal dan nasional. Ketika banyak anak-anak muda Jambi tidak memilih kuliah di perguran tinggi ‘kampung’nya sendiri, itu bukan berarti perguruan tinggi di Jambi tidak bagus. Memilih kuliah keluar dari Jambi adalah pilihan. Lebih-lebih saat ini, dengan adanya sistem penerimaan mahasiswa secara nasional apa yang kita kenal dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sangat memungkinkan bagi anak-anak negeri ini untuk ‘uji nyali’ di kampung orang. Seluruh perguruan tinggi di negeri ini membuka kesempatan bagi siapa saja dari mana saja.

Pengalaman Baru
Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. Katakanlah kualitas perguruan tinggi yang ada di tempat tinggalnya sama dengan yang ada di luar, maka dengan memilih kuliah di luar dia akan mendapat pengalaman yang berbeda baru dan unik. Hidup merantau yang jauh dari orang tua dan sanak keluarga akan menciptakan kemandirian, percaya diri, kedewasaan, kebijaksanaan, belajar mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Pengalaman ini tentu akan sangat berkontribusi dan sangat penting bagi masa depan mereka kelak.

Dengan kuliah di luar pula, anak-anak muda negeri ini akan balajar banyak hal-hal baru. Mereka akan menemukan orang-orang baru, bahasa baru, adat isti adat baru, cara hidup dan pola pikir baru yang pada akhirnya akan memberi kekayaan pengalaman hidup bagi mereka. Dengan demikian pula mereka akan belajar tentang keragaman (diversity), menghormati dan mamahami orang lain, menghargai budaya orang lain, dan lain-lain.

Akhirnya, sudah saatnya kita keluar dari jebakan pemikiran ‘sesat’ tentang ‘bagus’ dan ‘tidak bagus’ suatu perguruan tinggi. Semua ada lebih dan kurangnya. Tampat kuliah hanyalah sebuah pilihan. Tidak lama lagi kita akan melihat anak-anak kota besar akan mencari tempat kuliah di pelosok-pelosok desa, dan anak-anak desa bebas ‘terbang’ ke mana mereka suka. Tapal batas itu sudah sirna! #BNODOC6507032017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan Provinsi Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement