Friday, 31 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Dari arah Kota Jambi, anda akan melewati jembatan panjang melintasi Sungai Batang Hari. Hanya beberapa puluh meter saja, anda disambut dengan tulisan yang begitu indah dan artistik “SELAMAT DATANG DI KOTA TEBO”. Kurangi kecepatan kendaraan anda karena banyak tamu dari luar daerah yang berhenti hanya sekedar untuk mengabadikan kehadiran mereka dengan ber-swafoto ria di ‘tugu selamat datang’ tersebut. Tepat di sampingnya terdapat persimpangan dan ‘traffic light’, ambil jalan ke arah kanan, dan itulah yang disebut ‘Jalan Padang Lamo’.

Saatnya anda merasakan kenyamanan berkendaraan melintas di jalan ini. Lebar jalan lebih dari 12 meter dan memiliki kualitas yang sangat baik. Inilah jalan raya yang telah mematuhi perintah Undang-Undang No. 22 Tahun 2009. Jalan ini diklasifikasikan sebagai Jalan provinsi. Menurut undang-undang ini, Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota, atau antar ibu kota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.

Sekali lagi, standar dan kualitas jalan ini terjamin. Jenis aspal hotmix yang digunakan pun adalah yang terbaik yaitu jenis ATB (Asphalt Traeted Base) dengan tebal minimum 5 cm yang biasa digunakan sebagai lapis permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas berat atau tinggi. Persis terasa melintas di landasan pacu pesawat terbang. Mulus.

Melintasi jalan yang bagus seperti ini, jangan pula anda  khawatir mengantuk karena di  sebelah kanan jalan, mata anda akan dimanjakan oleh Sungai Batang hari yang ‘meliuk-liuk’ menakjubkan. Lebih-lebih jika anda melintas di malam hari, lampu-lampu di desa seberang sungai bagai gemintang gemerlip indah.

Jika anda lelah, di sepanjang jalan ini telah disediakan tempat-tempat peristirahatan (rest area) yang dilengkapi berbagai fasilitas, dari pom bensin hinga restoran dan hotel berbintang. Masyarakat desanya makmur karena hasil tani dan perkebunan dapat langsung dijual dengan harga tinggi. Pabrik-pabrik pun sudah bermunculan. Dengan infrasturktur jalan yang bagus ini pula, investor dari seluruh dunia berlomba menanamkan modal.

Begitu juga angkutan barang antar provinsi, seperti dari Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara melintas di jalan ini. Jalan yang bagus dan jarak tempuh yang singkat menjadi alasan utama bagi mereka. Jangan khawatir ada kendaraan melebihi muatan karena di beberapa titik sudah ada pos timbangan yang sangat ketat. Satu kilo gram saja melebihi tonase yang telah ditentukan, maka sopir akan mendapat sanksi tegas dari petugas. Tidak ada pungli disepanjang jalan ini. Petugas jalan raya pun siaga 24 jam dan siap memberi bantuan kepada pengguna jalan jika terjadi kerusakan dan kecelakaan.

Semenjak jalan ini menemukan ‘takdirnya’, perekonomian dan kehidupan masyarakat desa mengalami kemajuan drastis. Lebih-lebih beberapa pabrik turunan CPO dan Karet telah banyak berdiri. Harga hasil pertanian dan perkebunan mereka meroket berkali lipat karena langsung bisa dijual ke pabrik ‘di sebelah rumah’. Minyak sayur, mentega, alat kosmetik, ban mobil, dan lain-lain dibeli sangat murah. Itulah salah satu keuntungan berdirinya pabrik-pabrik tersebut. Tidak ada pengangguran di kabupaten ini kerena semua tenaga kerja terserap dengan baik. Masyarakat sejahtera.

Ternyata memang kuncinya adalah infrastruktur jalan. Jika pemerintah serius membenahi infrastruktur jalan, maka perekonomian masyarakat akan berkembang dengan sendirinya. Ekonomi tumbuh, masyarakat makmur.

Upss.., tunggu dulu, ternyata itu semua baru impian dan cita-cita.

Untuk saat ini, masyarakat Tebo, khususnya yang berada di sepanjang Jalan Padang Lamo masihlah tetap termarjinalkan, terpinggirkan, dan terabaikan. Merasa menumpang di negeri sendiri. Mereka 'dipaksa' menikmati kondisi jalan yang jauh dari apa yang tergambarkan di atas. Merintih mereka melewati tanah leluhur mereka sendiri.

Menangis mereka mengarungi lobang-lobang besar menganga di sepanjang jalan itu. Entah berapa banyak nyawa yang melayang. Busuk dan tak berharga hasil tani yang dinanti berbulan-bulan sebelum sampai pada pembeli. Menetes air mata melihat perjuangan anak-anak sekolah melewati lumpur-lumpur bagai bubur. Teriak mereka sampai ke langit meminta perhatian pemerintah, tapi pemimpin mereka bungkam!

Itulah riwayatmu kini, wahai Padang Lamo! Entah sampai kapan kau akan bangkit dan berbenah. Mudah-mudahan tidak sampai bertemu ‘lebaran kuda’.  Peringatan, jangan sampai masyarakat marah dan murka kepada pemimpin yang obral janji tanpa ditepati! #BNODOC8931032017

*Budak Tebo.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement