Sunday, 19 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Judul di atas adalah buku yang ditulis oleh H. Sjofjan Hasan yang baru saja diluncurkan. Jika tidak ada aral melintang akan dibedah hari ini (18/03/2017) di Aula STIE Muhammadiyah Jambi. Pada bagian pengantar, Prof. Rozali Abdullah, SH menukilkan sebuah kalimat yang menggugah selera pembaca, “bangsa yang besar ini harus dikelola dengan sebaik mungkin oleh jiwa-jiwa yang baik”. Jiwa-jiwa yang baik ini pulalah agaknya rumusan yang dimaksud oleh Sjofjan Hasan sebagai konsepsi dasar ‘negarawan’.

Dengan begitu apakah politikus tidak baik? Penulis buku ini tidak mengatakan begitu. Namun kencenderungan yang terjadi di tengah masyarakat adalah ‘berbeda dengan politikus yang berpikir pragmatis dan berorientasi menang dan kalah, seorang negarawan menggunakan politik sebagai alat wujud kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan atau kelompok’. Jadi letak perbedaanya ada pada orientasi dan tujuan yang hendak dicapai.

Buku ini menjadi menarik diperbincangkan karena konsepsi yang dibangun oleh penulis di atas realita dan ‘fakta-fakta’ sosial politik kemasyarakatan yang berkembang saat ini. Pemilihan umum, pada level mana pun, telah banyak menguras energi bangsa yang terkadang hanya menghasilkan para pemimpin-pemimpin yang berorienatasi pada ‘menang’ atau ‘kalah’.

Pada pemilihan kepala daerah misalnya, kita sering melihat penandatanganan fakta integritas ‘siap kalah’ dan ‘siap menang’, tapi tidak ada pernyataan yang siap ‘menjadi negarawan’. Tentu saja, orientasi ‘menang’ dan ‘kalah’ sangat pragmatis. Apa yang ‘saya’ dan ‘kelompok saya’ dapatkan. Persoalan untuk mendapatkannya harus mengabaikan hak-hak orang lain atau bahkan merugikan negara  bukan menjadi masalah. Satu titik yang hendak dicapai cuma satu, ‘menang’!

Maka dari itu, Sjofjan Hasan menyuguhkan perenungan kembali terhadap para pemimpin bangsa ini. Ditawarkannya “seharusnyalah, sipapun yang terpilih menjadi pemimpin di negeri ini perlu membaca kembali dan merenungkan falsafah bangsa Pancasila dan memahami makna apa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Kita berharap pemimpin nasional yang terpilih memiliki karakter negarawan”. Ini tawaran yang sangat baik tentunya. Dengan perenungan dan pemahaman inilah kemudian para pemimpin bangsa akan mampu menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Sehingga mereka “siap merasa sedih, senang, menderita/susah bersama rakyat”.

Masih adakah para negarawan itu?
Tidak ada sekolah atau univeristas yang mengeluarkan ijazah sebagai negarawan atau pun politikus. Maka jika begitu, titel negarawan dan politikus itu bukan disematkan oleh sebuah institusi pendidikan tetapi oleh setiap hati anak bangsa di negeri ini. Univeristasnya adalah universitas masyarakat semesta. Yang menandatangani ijzahnya adalah jiwa-jiwa yang hidup di bumi pertiwi.

Tentu sebagai anak bangsa yang cinta tanah airnya harus berani mengatakan masih banyak para negarawan yang memperjuangkan nasip bangsa ini. Namun sayang, dengan kenegarawannya pula, orang-orang ini tenggelam dalam hiruk pikuk pencitraan para pemimpin-pemimpin yang rakus dan haus jabatan. Namun, pepatah kuno mengatakan ‘emas walaupun di dalam lumpur, ia pasti berkilau jua’.

Karena label negarawan itu sepenuhnya disematkan oleh masyarakat, maka masyarakatlah yang harus jitu melihat dan menilainya. Dalam buku ini pula, Sjofjan Hasan telah mewanti-wanti masyarakat Indonesia untuk tidak terjebak dengan ‘rekayasa kesan’ (politik pencitraan). Tegas dikatakannya “seharusnya kita lebih cerdas; jangan sampai  terjebak dengan orang-orang yang pintar merekayasa pencitraan”.

Akhirnya, label ‘negarawan’ atau ‘politikus’ adalah ‘tanda jasa’ yang disematkan oleh hati rakyat. Teriak pun seseorang sampai ke langit mengatakan bahwa dirinya adalah negarawan tapi jika perilaku kepemimpinannya  tidak untuk kepentingan bangsa ini, maka masyarakat tidak akan pernah menyebutnya negarawan. Dan sebaliknya, tidak perlu merekayasa kesan apa pun, jika itu tulus untuk bangsa ini, masyarakat juga akan mengetahui semua jasa baik itu.

Kesimpulan akhirnya, jika anda tidak mau disebut ‘politikus’ maka jadilah ‘negarawan’!
Selamat kepada penulis atas hadirnya buku ini. Semoga memberi pencerahan kepada masyarakat Indonesia. Amin.  #BNODOC7618032017

*Akademisi dan Pengamat sosial Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement