Saturday, 11 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Akhir-akhir ini beredar di kalangan dosen melalui media sosial artikel yang berjudul.  ‘Kerja Dosen dan Umur Pendek’. Artikel ini ditulis oleh seorang dosen dan Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Moch. Faried Cahyono. Sebenarnya artikel ini bukan baru ditulis tapi sudah dipublikasikan sejak tahun 2006 melalui blog pribadinya.  Bagi para dosen artikel ini cukup menarik perhatian karena menyangkut dengan keberlangsungan hidup mereka. Faried membangun sebuah hipotesa yang monohok bahwa “bekerja sebagai dosen di UGM di jaman kini, bisa jadi bukan pekerjaan yang sehat”. Jadi dosen (di UGM)  bisa cepat mati.

Hipotesa ini dibangun dengan melihat fakta-fakta yang ada. Tidak perlu melakukan penelitian yang canggih, dengan kasat mata bisa dihitung bahwa 4 tahun terakhir (2006) UGM telah kehilangan lebih dari 60 orang dosennya yang mati muda. Mereka meninggal dunia di bawah umur 60 tahun. Tentu saja, kejadian ini tidak mempertentangkan kehendak Allah. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa kematian itu di tangan Allah. Tapi, sebuah fenomena yang terjadi tidak ada salahnya pula menjadi bahan kajian dan renungan bagi ummat manusia. Fenomena dosen mati muda ini harus menjadi renungan bagi para dosen di tanah air.

Banyaknya dosen yang mati muda tidak hanya di UGM tapi dapat dipastikan juga terjadi di rata-rata perguruan tinggi Indonesia. Di tempat saya mengajar misalnya, IAIN STS Jambi, juga terjadi. Beberapa teman dosen seangkatan saya saja sudah banyak yang meninggal dunia di usia yang sangat produktif. Di saat begitu banyak karya dan pengabdiannya dibutuhkan oleh kampus. Di saat anak-anak masih kecil.

Sebegitu mengerikankah? Jika dilihat keseharian dosen, nampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka mengajar sebagaimana juga para tenaga pendidik lainnya seperti guru yang berada di kelas atau para ustad/ustazah di pesantren. Jika pun ada yang berbeda, itu pasti  melekatnya Tri Dharma Perguruan Tinggi pada dosen. Selain mengajar di kelas, mereka juga dibebankan untuk meneliti dan mengabdikan diri pada masyarakat. Itu pun nampaknya tidak ada yang sebegitu membahayakan. Lantas apa penyebabnya?

Melalui artikelnya, Faried sudah dengan baik merinci beberapa perkara yang disenyalir sebagai pemicu banyaknya dosen UGM yang mati muda. Dari persoalan ekonomi, gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, hingga dampak globalisasi pendidikan. Namun melalui artikel ini, sebagai dosen, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri (syukur-syukur bermanfaat bagi kawan-kawan dosen lain) akan beberapa hal penting dalam menjalankan profesi sebagai dosen.

Pertama, manajemen waktu. Jika ada dosen yang saking padatnya aktivitas hingga lupa waktu. Kedengarannya klise, namun begitulah faktanya. Hari-hari yang dilewati terkadang cenderung mengabaikan hal-hal penting dalam kehidupan seperti mengabaikan waktu makan, waktu istirahat, waktu bersama keluarga, waktu berolah raga, waktu berlibur, dan lain sebagainya. Yang paling sering terjadi adalah terabaikannya pola makan dan pola istirahat.

Sampai-sampai Faried  menyimpulkan bahwa para dosen ‘mulai memikirkan cara untuk tidak terlalu serius berpikir soal memperbaiki negara. Dosen sudah harus rajin berolah raga dan menjaga kesehatan dengan mengurangi kegiatan mengajar dan proyek yang terlalu banyak’. Kesannya himbauan ini terlalu ekstrim. Tapi memang sepantasnya untuk mulai diperhatikan. Itulah yang saya sebut dengan manajemen waktu. Tidak harus berhenti untuk berkontribusi melalui sumbangan pemikiran kaum intelektual, tapi mengatur waktu sebijak mungkin.

Kedua, manajemen stres. Bahasa awam sering kita mendengar ‘bekerja dengan otak itu lebih berat dari pada bekerja dengan otot’. Banyak faktor yang membuat para dosen ‘stres’ dalam kesehariannya. Tugas-tugas yang terhimpun di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ditambah dengan berbagai beban administratif seperti membuat laporan penelitian, menulis artikel almiah, laporan kinerja dosen, dan lain sebagainya membuat beberapa dosen cukup berada pada kondisi stres.

Maka dosen juga harus cerdas untuk mengelola semua beban itu sehingga tidak menimbulkan stres. Stres merupakan sikap mental. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk ‘berdamai’ dengan beban pikiran yang ada. Salah satu cara yang paling sering saya sampaikan di berbagai seminar adalah dengan menempa diri dengan merubah mindset. Berpikir positif dan selalu bersemangat. Jauhi diri dari sendera konflik-konflik hubungan kerja. Dengan cara ini pula dapat mengurangi rasa cemas dan khwatir yang membuat pikiran jadi tenang dan setrespun berkurang.

Akhirnya, kematian memang hak prerogatif Allah. Tapi ‘cara’ untuk menuju kematian itu sangat tergantung pada manusia itu sendiri. Alih-alih menyalahkan semua sistem yang ada, sistem terdekat yang harus dibenahi; diri sendiri. Jadi dosen cepat mati? Ketahuilah, apa pun profesi kita, kematian akan selalu mengintai. Bersiaplah! #BNODOC6911032017

*Akademisi di Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement