Monday, 6 March 2017

author photo
Oleh : Bahren Nurdin, MA

Artikel ini diawali dengan menyitir ayat Al-Quran Surah Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Benarkah kita sudah memahami ayat tersebut? Nyatanya, paragraf di atas dilewatkan begitu saja. Banyak orang merasa sudah hafal ayat ini karena sudah sangat sering mendengarnya. Boleh dikatakan ayat paling populer tentang bencana di muka bumi ini. Saking populernya, masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Mendengarkan tapi tidak memahami.

Saya bukan ahli tafsir. Tapi untuk memahami satu ayat ini agaknya tidak harus menjadi pakar tafsir. Ayatnya sangat lugas dan tegas. Siapa perusak bumi ini? Tangan manusia!

Anda manusia? Anda punya tangan? Mari sejenak lihat kedua tangan anda dan mulailah bertanya “wahai tangan, kerusakan apa yang telah kau perbuat terhadap bumi ini?”. Jawablah dengan jujur. Ternyata, memang  tangan anda sendirilah yang selama ini telah merusak bumi ini. Mungkin anda akan membantah bahwa anda tidak melakukan ‘illegal logging’, tidak membakar lahan dan hutan, tidak melakukan penambangan emas illegal, tidak meracun ikan di sungai, dan lain sebagainya. Rasanya tidak melakukan itu. Jadi tangan anda tidak merusak?

Coba lihat lebih teliti lagi. Berapa kali memegang remot AC dalam sehari? Berapa banyak tisu yang dihabiskan? Berapa banyak kantong plastik (asoy) yang digunakan untuk belanjaan dari pasar atau mall? Berapa lama knalpot kendaraan anda mengotori udara setiap hari? Sadarkah anda bahwa kegiatan-kegiatan ini adalah bagian dari kegiatan perusakan bumi? Contoh sederhana. Tisu itu kertas. Kertas terbuat dari kayu. Kayu diambil dari hutan. Artinya, semakin boros anda menggunakan tisu, semakin banyak hutan yang terancam. Hutan ditebang, banjir tak dapat dihadang.

Anda pejabat? Coba lihat tangan anda sekali lagi. Cobalah bertanya, dokumen apa yang telah anda tanda tangani sehingga berkontribusi merusak bumi ini? Sudahkan izin-izin yang anda tanda tangani itu sesuai peruntukannya? Atau jangan-jangan tanda tangan andalah yang telah membuat bulldozer-bulldozer perusahaan dengan leluasa menguliti bumi ini. Tanda tangan andalah yang telah memberi kebebasan para cukong mengeruk isi bumi. Tanda tangan andalah yang meruntuhkan gunung berisi emas itu. Silahkan lanjutkan sendiri petanyaan lainnya!

Ternyata, sudah tidak bisa mengelak lagi. Benar adanya bahwa tangan-tangan kitalah yang telah merusak bumi ini dengan kadarnya masing-masing. Jika sekarang datang bencana alam dalam berbagai bentuk, sebenarnya harus dijadikan momentum untuk memeriksa diri (muhasabah). Bencana alam ternyata salah satu bentuk ‘alarm’ dari Allah untuk mengingatkan manusia di muka bumi atas apa yang telah ia perbuat.

Banjir, longsor, topan, puting beliung, dan lain sebagainya hanyalah bentuk nyata dari hukum kausalitas (sebab akibat) yang Allah perlihatkan. Bukan hukuman, tapi ‘supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka’. Tujuannya juga sangat sederhanya yaitu ‘agar mereka kembali (ke jalan yang benar)'.

Agaknya hal ini yang perlu kita perhatikan. Sudahkan bencana-bencana ini mengoreksi kita untuk kembali ke jalan yang benar? Apa itu ‘jalan yang benar’? Pertama, menumbuhkan kesadaran personal bahwa ternyata masing-masing kita baik langsung maupun tidak langsung telah berkontribusi aktif membuat kerusakan di muka bumi ini. Maka setiap orang sudah seharusnya melakukan koreksi diri dan memperbaiki gaya hidup yang ramah bumi. Tidak perlu melakukan sesuatu yang ‘wah’ dan besar, tapi dengan melakukan hal-hal kecil seperti menghemat tisu, mengurangi penggunaan kantong plastik, menghindari polusi asap kendaran, membuang sampah pada tempatnya,  sudah akan sangat baik bagi kesehatan bumi ini.

Kedua, tangan-tangan ‘sakti’ pembuat kebijakan harus betul-betul mempertanggungjawabkan setiap coretan tanda tangan yang diberikan. Izin-izin yang dikeluarkan kepada perusahaan-perusahaan yang berpotensi merusak bumi harus dikaji ulang. Mengeluarkan izin kepada mereka yang ternyata penjarah isi bumi ini, itu artinya anda telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Bumi ini milik Allah. Jika anda merusaknya, suatu saat nanti akan Allah minta pertanggungjawabannya.

Akhirnya, jangan salahkan Tuhan. Ternyata, kita sendirilah yang menciptakan bencana itu. Namun demikian, bencana alam yang terjadi di mana-mana saat ini harus direspon dengan cepat. Semua institusi yang sudah ditunjuk negara untuk menanganinya harus bekerja maksimal sehingga tidak menelan banyak nyawa. Akan tetapi, saatnya kita harus terus mengedukasi masyarakat untuk membangun kesadaran bahwa bencana itu sesungguhnya adalah akibat ulah tangannya sendiri. Dengan kesadaran inilah kemudian orang merubah pola pikir dan pola hidupnya. #BNODOC6305032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Provisi Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement