Thursday, 2 March 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya ingin sedikit mengulang apa yang telah saya sampaikan pada artikel “Karena Miskin Saya Harus Kuliah” bahwa kuliah itu bukan persoalan kaya atau miskin. Kunci utamanya adalah keyakinan diri yang kemudian menimbulkan semangat membara. Semangat inilah kemudian disebut tekad yang akan menjadi senjata untuk menghadapi segala halangan dan rintangan.

Ya, saya menyebut dunia perkuliahan itu ibarat ‘medan juang’. Bertempur melawan segala ‘lawan’ baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Di medan ‘perang’ inilah segala ketangguhan dan ketahanan diuji. Kekuatan fisik dan non fisik dipertarungkan. Strategi dan taktik diperlukan. Kerja keras, keringat, dan air mata dihibahkan. Itulah mengapa ada yang pulang membawa kemenangan dengan medali selembar ijazah plus air mata bahagia kedua orang tua, sanak saudara. Dan, tidak sedikit pula yang pulang dengan tangan kosong alias gagal (drop out) plus air mata kecewa seisi dunia.

Untuk menghadapi semua aral yang melintang dibutuhkan motivasi untuk mencapai kesuksesan itu. Motivasi berprestasi (achievement Motivation) diartikan sebagai kesuksesan setelah didahului oleh suatu usaha. Prestasi merupakan dorongan untuk mengatasi kendala, melaksanakan kekuatan, dan berjuang untuk melakukan sesuatu yang sulit sebaik dan secepat mungkin (Alhadza, 2003). Kerja keras!

Kuliah dalam kondisi kemampuan ekonomi orang tua yang tidak begitu baik adalah tantangan tersendiri. Namun demikian, harus disepakati, minimal dengan diri sendiri, bahwa ‘kemiskinan tidak boleh dijadikan kambing hitam untuk tidak kuliah’. Maka, bukan ‘kambing hitamnya’ yang dicari tapi solusinya yang harus ditemukan.

Berikut ini saya tawarkan paling tidak tiga jurus kuliah ‘gratis’ tanpa biaya orang tua. Dalam beberapa seminar motivasi pendidikan tips ini saya beri judul “Kuliah Tuntas, Orang Tua Tidak Diperas”. Tips ini juga berlaku tidak hanya untuk mahasiswa yang tidak dapat kiriman dari orang tua tapi juga bagi yang tidak mau ‘memeras’ orang tuanya setiap bulan. Bahasa lainnya ‘pengemis intelektual’. Mengaku intelektual tapi tiap bulan ‘ngemis’ (minta duit) ke orang tua. Bahkan lebih sadis lagi ‘memeras’ dengan ancaman. Bahasa lainnya lagi ‘teroris intelektual’. Mengaku intelektual tapi tiap bulan membuat orang tuanya merasa ‘terancam’. Siapa lagi yang bisa membuat orang lain merasa terancam selain teroris? Hehe.

Jurus pertama, Bapak Angkat. Bapak Angkat itu adalah bahasa lain dari majikan. Tinggal dengan orang yang bersedia membiaya kuliah kita sambil menjadi asisten rumah tangga di rumahnya. Artinya, kita menempatkan diri sebagai pembantu di rumah tersebut. Harus bersedia mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang dibebankan kepada kita seperti mencuci mobil setiap pagi, mengantar dan jemput anak sekolah, mengantar anak les, menyapu halaman, dll.

Ada pantun Melayu yang berbunyi, Kalau pandai berkain panjang // Lebih elok dari kain sarung // Kalau pandai berinduk semang // Lebih elok dari ibu kandung. Maka almarhum ayah saya berpesan: “Nak, jika suatu saat hidup berinduk semang, tidur paling belakang, bangun paling dulu, makan paling akhir”. Pesan ini saya pegang erat.

Bagaimana cara mendapatkan Bapak Angkat? Datanglah kepada orang-orang yang dipercaya di lingkungan tempat tinggal atau kampus untuk mendapatkan referensi  orang-orang yang bersedia menjadi bapak angkat. Usahakan tempat tinggal Bapak Angkat tidak begitu jauh dari kampus. Carilah bapak angkat yang kaya atau hidup berkecukupan tapi ‘low profile’. Si kaya yang memiliki nurani untuk membantu orang lain dengan tulus. Gali informasi tentang calon Bapak Angkat sebanyak mungkin dari orang-orang yang dapat dipercaya.

Syarat mutlak tinggal menumpang dengan orang lain adalah sopan, ringan tangan, dan rendah hati. Kerjakan sesuatu sebelum diminta (disuruh). Tidur malam paling belakang (setelah memastikan semua pintu sudah terkunci) dan bangun pagi sebelum anggota keluarga bangun (membuka pintu dan jendela dan mengerjakan pekerjaan lain seperti mencuci mobil, membersihkan garasi, dll). Berkomunikasi dengan baik kepada seluruh anggota keluarga termasuk keluarga besar yang tidak tinggal di rumah tersebut. Jangan pernah meminta imbalan terhadap apa pun yang dikerjakan. Ikhlas dan  selalu ceria. Jangan pernah mengeluh.

Akhirnya, mudahkah tinggal dengan orang? Tidak mudah. Tapi ingat, ini akan terasa mudah jika kita tahu pasti tujuan yang hendak dicapai. Itulah perjuangan. Pilihannya sederhana, mau sakit empat tahun selama kuliah, atau sakit sepanjang hidup?  Bersambung… (2 jurus lainnya). #BNODOC6002032017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan tinggal di Jambi

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement