Sunday, 26 February 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Orang Melayu pasti sudah sangat paham dengan Seloko (seloka) yang berbunyi “Raja Alim Raja Disembah. Raja Lalim Raja Disanggah”. Istilah lain juga berbunyi “Raja Adil Raja Disembah. Raja Zalim Raja Disanggah”. Makna dan maksudnya sama. Menarik untuk mendiskusikan hal ini dalam konteks kepemimpinan (leadership) pada berbagai level kepemimpinan. Secara kontekstual, masyarakat saat ini sedang sibuk-sibuknya memberi perhatian penuh Pilkada, pergantian kabinet, bongkar pasang pejabat, dan lain-alin.

Semua sedang sibuk berbicara pemimpin. Mari kita pahami makna dari Seloko ini. ‘Raja Alim Raja Disembah” dapat dimaknai bahwa pemimpin yang menjunjung tinggi kebenaran akan dipatuhi oleh rakyatnya. Pada konteks ini, kata ‘alim’ tidak hanya mengandung arti orang yang berilmu (pintar dan cerdas) tetapi juga orang yang mematuhi perintah Tuhannya dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin.

Kata ‘disembah’ bukan pula berarti dia dipertuhankan. Dalam Islam orang dilarang menyembah orang lain. Salah satu misi kedatangan Islam ke muka bumi ini adalah untuk menghapuskan segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Tidak ada satu apa pun yang boleh disembah kecuali Allah subhanahuwata’ala. Maka ‘disembah’ pada konteks ini adalah dihormati dan dipatuhi.

Kata ‘lalim’ atau ‘zalim’ mengacu pada ‘jahatnya’ pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Artinya, raja (pemimpin) yang kepemimpinannya tidak berpihak pada kepentingan rakyatnya. Kekuasaan yang ada ditangannya dipergunakan untuk menindas dan memusuhi masyarakat (atau bawahannya) sendiri. Dia zalim (jahat) pada orang yang seharusnya ia lindungi dan ayomi.

Maka raja (pemimpin) semacam ini boleh untuk ‘disanggah’. Rakyat memiliki hak untuk melakukan perlawanan. Sehalus-halusnya perlawanan yang diberikan adalah dengan tidak mematuhi apa pun bentuk perintah dan program yang ia berikan. Pada konteks yang lebih besar, masyarakat akan melawan dengan menurunkan raja (pemimpin) tersebut dari tahtanya. Contohnya sudah banyak. Terlepas dari segala kontroversi kepemimpinan mereka, kita menemukan beberapa nama yang ‘dipaksa’ turun oleh rakyat mereka sendiri. Di Mesir kita mengenal Husni Mubarak, di Iraq kita mengenal Saddam Husein, di Filifina ada Ferdinand Macos, di Libya ada Muammar Khadafi, di Tunisia ada Ben Ali, dan masih banyak lagi.

Pada skop yang lebih kecil, lihat saja apa yang terjadi di daerah anda atau bahkan di kantor anda. Berapa banyak pemimpin yang dihormati dan berapa banyak pula pemimpin yang dicaci. Maka apa sesungguhnya yang akan membedakan mereka? Ada banyak faktor. Saya sampaikan beberapa dalam artikel terbatas ini.

Pertama, modeling alias ketauladanan. Pemimpin yang sukses adalah yang mampu menjadi model bagi rakyat yang ia pimpin. Saya rasa, inilah pula kunci sukses yang dimiliki oleh Nabi Muhammad sehingga Beliau tercatat sebagai pemimpin dunia terhebat dan belum terkalahkan. Beliau menjadi orang pertama yang melakukan segala sesuatu sebelum memerintahkannya kepada orang lain. Pemimpin yang menjadi panutan, tidak hanya bagi orang-orang yang menyukai Beliau, bahkan bagi lawan.

Tipe pemimpin yang semacam ini agaknya sudah langka di negeri ini. Banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinannya sudah tidak mampu lagi dijadikan model atau tauladan. Tentu dampaknya sangat buruk bagi lancarnya jalan sebuah organisasi. Ketika pemimpin sudah tidak didengar, maka semua tidak akan berjalan dengan baik. Bayangkan saja jika kapal tanpa nahoda. Atau nahoda yang tidak bisa mengendalikan kapalnya. Karam!

Kedua, pemberdayaan (empowering). Banyak yang juga salah memahami antara pemberdayaan dengan pemanfaatan. Pemberdayaan artinya menggali segala potensi yang dimiliki oleh orang-orang yang dipimpin (masyarakat) untuk mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin yang ‘alim’ akan menghargai segala potensi yang dimiliki oleh orang-orangnya untuk kemudian diberdayakan demi kepentingan bersama.

Berbeda dengan famantaatan yang cenderung eksploitatif. Tenaga orang dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Lebih lalim dan zalim lagi jika memanfaatkan orang lain (rakyat atau bawahannya) untuk kepentingan pribadi atau untuk ‘menjaga’ kekuasaannya. Dan hal ini juga sudah banyak terjadi di lingkungan kerja sehari-hari. Segala tipu muslihat dan intrik dilakukan demi mendapatkan atau mempertahankan jabatan tertentu. Maka muncullah pemimpin-pemimpin yang suka menjilat, maksiat, dan penghianat. Waspadalah!

Akhirnya, Raja alim pasti ‘disembah’. Pemimpin-pemimpin yang baik pasti akan dipatuhi oleh orang-orang yang ia pimpin. Dan sebaliknya, pemimpin-pemimpin yang jahat pasti akan mendapat perlawanan. Pilihannya ternyata ada pada diri pemimpin itu sendiri; dihormati atau dicaci. Silahkan pilih. #BNODOC56022017

*Akademisi dan Pengamat Sosial, tinggal di Jambi.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement