Wednesday, 1 February 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Mudah-mudahan tidak ada aral melintang dan kehendak sesuai dengan rencana, lima belas hari lagi bersama-sama beberapa provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia, masyarakat di tiga kabupaten; Muaro Jambi, Sarolangun, dan Tebo, akan menuju bilik suara. Bilik penentu pemimpin mereka masing-masing. Mereka di tiga kabupaten ini pun sekarang rajin ‘belajar’ berhitung. Orang Tebo dan Sarolangun ‘hanya’ bisa menghitung sampai angka dua; satu, dua, satu dua bolak balik. Orang Muaro Jambi sedikit lebih banyak angkanya, 1 2 3 dan 4. Silahkan pilih karena itu hak anda. Angka mana pun yang anda pilih, itulah sebuah pilihan.  Dipilih…dipilih… dipilih!

Moto hidup yang saya tulis di skripsi waktu S1 adalah “Life is a Matter of Making Choices” (Hidup itu Pilihan). Setiap detik dari waktu yang kita lewati pasti dihadapkan dengan pilihan. Hal sekecil apa pun pasti kita disuruh memilih. Coba lihat baik-baik, untuk mandi saja kita harus menentukan pilihan, mandi sekarang atau nanti ya? Apa lagi anak kos, hehe.

Jika begitu, urusan pilih memilih adalah hukum alam. Memang hidup ini harus memilih. Yang menjadi persoalan adalah dampak dari sebuah pilihan itu. Memilih memang tidak membutuhkan waktu lama, tapi dampaknya yang akan berlangsung panjang. Coba anda bayangkan, saya yakin anda hanya butuh waktu dua detik untuk mengatakan ‘aku akan menikahimu’ kepada pasangan hidup anda. Gara-gara yang dua detik itulah anda hidup bersamanya sampai saat ini. Segala suka dan derita yang anda lewati sekarang dalah dampak keputusan anda yang dua detik tersebut. Dahsyat! Ternyata, dampaknya sangat panjang, bahkan sampai akhirat anda pertanggungjawabkan.

Jika begitu, bukan waktu memilihnya yang perlu kita perhatikan, tapi mengapa anda menentukan pilihan itu yang perlu dipersoalkan. Anda butuh alasan! Begitu jugalah dalam momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017 ini. Persoalannya, bukan waktu yang lima menit di dalam bilik suara, tapi mempertimbangkan dampak dari ‘tusukan’ anda di bilik sempit itu. Tusukan anda mungkin ‘lembut’, tapi dampaknya bisa saja ‘keras’.

Maka dari itu, membuat pilihan itu bukan pula perkara yang gampang. Memilih itu seni. Pemilih yang cerdas membutuhkan kecerdasan dalam memilih. Kecerdasan tidak ada kaitannya dengan ‘amplop’. Jadi dapat dipastikan, tidak ada korelasi antara pemilih cerdas dengan menentukan isi amplop yang diterima. Jika masih ada yang mencoba menghubungkan antara kecerdasan memilih dengan ‘amplop’ maka segitulah ‘harga’ diri dan martabat anda. Gak cerdas!

Lantas apa yang dapat dilakukan untuk menjadi pemilih cerdas dan mencerdaskan? Saya menawarkan beberapa hal berikut ini. Pertama, sucikan pikiran. Dalam mengambil sebuah keputusan sangat perlu ketenangan. Syarat utama untuk mencapai ketenangan tersebut adalah membersihkan hati. Bagaimana mungkin bisa tenang jika hati masih dipenuhi hal-hal negatif seperti kebencian, kemarahan, dendam, sinis, sentiment, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Hati yang berpenyakit pasti akan berdampak pada prilaku yang tidak baik.

Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang mendamaikan hatinya sendiri sebelum mendamaikan hati orang lain. Pemilih yang cerdas memiliki hati yang suci. Perbedaan dalam pilihan politik tidak menjadikan hatinya ‘korengan’. Perbedaan itu sebuah keniscayaan. Maka pemilih cerdas menjadikan perbedaan sebagai kekayaan yang membuat hatinya bersemi bagai kebun bunga. Hatinya damai dalam irama hiruk pikuk perbedaan. ‘Jagalah hati, jangan kau kotori!’, kata Aa’.

Kedua, pertimbangkan dampak atau hasil dari pilihan anda. Itu artinya anda harus futuristic. Melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Jika saya memilih ini, maka dampaknya kira-kira akan itu. Jika saya memilih itu, maka akan begini. Memang tidak ada yang pasti, tapi paling tidak kita sudah menghitung-hitung dampak yang ditimbulkan dari pilihan yang kita berikan.

Dengan cara ini anda akan terhindar dari segala godaan ‘syaitan’ yang terkutuk. Saya beri tanda kutif ‘syaitan’-nya karena memiliki banyak makna; syaitan nian dan syaitan jadi-jadian. Yang jadi-jadian itu, kepalanya hitam tapi godaannya lebih dahsyat dari syaitan yang sebenarnya; segala cara. Pemilih cerdas, dia tahu dengan pasti dampak yang diperoleh dari coblosan yang dilakukannya. ‘Syaitan’ tak berkutik.

Ketiga, bertanggung jawab dengan pilihan anda. Sudah jelas awak dewek yang milih, malah orang lain yang disalahkan. Pemilih cerdas adalah orang-orang yang bertanggung jawab dengan pilihannya. Ingat, tidak semua pilihan akan berbuah manis seperti yang sudah anda perkirakan. Bisa saja, hitungan anda meleset. Ketika itu terjadi, maka hal terbaik adalah mempertanggung jawabkannya dengan menerima kenyataan yang ada dan berusaha memperbaiki diri untuk masa yang akan datang. Hal terburuk adalah dengan menyalahkan orang lain.

Akhirnya, tidak lama lagi akan tiba masanya anda akan memilih pemimpin anda sendiri. Pemilih cerdas akan menghasilkan pemimpin berkualitas. Semoga. #BN31022017 (wa085266859000)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement