Sunday, 26 February 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Puluhan pejabat di Provinsi Jambi baru saja diberhentikan dari jabatannya. Paling tidak ada 9 pejabat eselon II, 20 orang pejabat eselon III dan 86 orang pejabat eselon IV yang dilantik oleh Wakil Gubernur Jambi tanggal 23 Februari 2017 lalu. Pada tulisan kali ini saya tidak menyoroti yang baru dilantik. Kepada mereka, saya ucapkan selamat bekerja dan semoga dapat memberikan yang terbaik untuk masyarakat Jambi, amin.

Saya ingin membahas para pejabat yang baru saja kehilangan jabatan. Hal ini menarik untuk disoroti karena banyak sekali para mantan pejabat yang kemudian kehilangan semangat kerja dan bahkan berhenti berkarya. Artinya, setelah kehilangan jabatan banyak diantara mereka yang ‘ogah-ogahan’ bekerja. Mereka tidak lagi memiliki semangat kerja seperti mereka masih memiliki jabatan. Bahkan, ada juga yang stress. Tidak semua, tapi terjadi.

Banyak diantara mereka yang tidak memahami sepenuhnya bahwa jabatan yang diemban pada saatnya pasti akan dipertukarkan kepada orang lain. Jabatan itu amanah yang tidak kekal.  Orang lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan jabatan tersebut. Kesadaran inilah yang terkadang hilang dan ketika jabatan itu hilang dari dirinya, mereka merasa dunia seakan-akan sudah ‘kiamat’.

Hal ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, post power syndrome (penyakit kehilangan kekuasaan). Penyakit ini adalah penyakit yang paling banyak menyerang para pejabat yang di-nonjobkan’. Banyak diantara mereka yang tidak siap. Jika selama ini memiliki kekuasaan untuk ‘menguasai’ orang lain, tiba-tiba kekuasaan itu hilang dan kehilangan tenaga tak berdaya. Dalam kondisi seperti ini biasanya mereka merasakan dirinya ‘tidak dianggap’ dan tak berguna.

Jika selama ini bisa memberikan perintah kepada orang lain, tiba-tiba tidak ada lagi orang yang mau menuruti perintahnya. Bahkan, tidak jarang dia kemudian yang diperintah oleh orang yang selama ini dia perintah. Pasti banyak yang tidak siap mental. Tapi itulah dinamika organisasi. Dalam dunia kepemimpinan kita sudah mengenal istilah ‘siap diperintah dan siap memberi perintah’, siap dipimpin dan siap memimpin’.

Mudah memang untuk diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan di lapangan. Faktanya, manusia lebih suka memerintah dari pada diperintah. Maka dari itu, hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam akan tugas dan fungsinya sebagai abdi negara. Dia kemudian tidak menjadikan jabatan satu-satunya cara untuk memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Kedua, kinerja.  Apa yang dikerjakan selama ia menjabat sangat sangat menentukan sikapnya ketika tidak lagi menjabat. Jika selama menjabat ia benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga memiliki kinerja yang baik pula, maka ketika jabatan itu tidak lagi pada dirinya, dia tidak akan merasa kecewa. Selama menjabat ia sudah memberikan segala kemampuan yang ia miliki untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, maka tidak ada rasa patah semangat ketika tidak menjabat.

Namun jika selama ia menjabat hidupnya dipenuhi intrik dan minus prestasi, maka ia akan menjadikan jabatan itu satu-satunya penentu kualitas dirinya. Dia hanya bisa menggunakan jabatan sebagai satu-satunya ‘senjata’ untuk menguasai orang lain.  Maka ketika jabatan itu hilang, ia akan kehilangan kekuatan dan lemah tak berdaya (hopeless). Tidak jarang, orang yang selama ini menjadi ‘bawahannya’ akan berubah menjadi musuh.

Ketiga, hubungan kerja (human relation). Jika selama ia menjabat memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, baik bawahannya maupun atasannya, maka ketika jabatan direnggut dari tangannya, ia tidak akan meresa sedih. Dia tidak serta merta kehilangan kehormatan dari orang-orang yang pernah dipimpinnya. Dia tidak kehilangan wibawa dan karisma. Dia tetap dihormati walau sudah tidak lagi memegang jabatan.

Hal ini akan berbeda jika hubungan antar manusia yang selama ia menjabat tidak dijaga dengan baik, maka ketika tidak lagi menjabat ia akan menjadi manusia ‘aneh’. Orang-orang tiba-tiba tidak menyukainya. Orang tiba-tiba menjauh, kehilangan simpati, dan cenderung membenci. Mantan pejabat semacam inilah sering ‘stres’ ketika kehilangan jabatan.

Akhirnya, hal-hal tersebut di atas bisa terjadi terhadap siapa saja. Namun perlu diingat bahwa pengabdian pada negeri ini tidak harus jadi pejabat. Jabatan hanyalah amanah yang sangat dinamis. Kepada para mantan pejabat yang baru saja ‘dipinggirkan’ tidak perlu sedih dan tetaplah berkarya. Jika ada sikap selama menjabat yang tidak baik pada orang lain, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Ingat, tidak menjabat bukan berarti berhenti berkarya untuk bangsa. Jangan Stress! #BNODOC55022017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Provinsi Jambi.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement