Monday, 6 February 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) seakan menjadi momok baru bagi banyak pihak, dari sekolah hingga siswa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi daring) merumuskan kata momok sebagai ‘sesuatu yang menakutkan karena berbahaya, ganas, dan sebagainya’. Jika begitu, apa momok terbesar pelaksanaan UNBK tahun ini? Banyak!

Data yang dirilis oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyebutkan ada 220 SMA, 156 SMK, dan 335 SMP segeri maupun swasta, di luar MTs dan MA. Dari keseluruhan tersebut baru sekitar 101 sekolah yang menyatakan kesiapan menjadi penyelenggara UNBK. Yakni 29 SMP, 31 SMA, dan 41 SMK. Secara keseluruhan, prosentasenya masih relatif kecil. Sisanya masih menggunakan ‘gaya lama’; kertas dan pensil.

Ujian sendiri akan dilaksanakan pada 3-6 April 2017 untuk jenjang SMK dan untuk SMA/MA pada 10-13 April 2017. Untuk tingkat SMP/MTs, akan dilaksanakan sebanyak dua gelombang. Gelombang pertama pada 2-4 dan 15 Mei 2017. Sementara gelombang ke dua dilaksanakan pada 8-10 dan 16 Mei 2017.

Isu pelaksanaan UNBK ini sesungguhnya bukan pula baru. Sosialisasi sudah cukup lama dilakukan oleh kementerian pendidikan. Namun tetap saja banyak sekolah di berbagai provinsi tidak siap sepenuhnya. Berbagai kendala dijadikan ‘kambing hitam’ untuk tidak melaksanakan ujian ‘paperless’ ini. Secara garis besar, ada dua hal yang perlu dipersiapkan. Pertama, kesiapan infrastruktur atau kelengkapan fisik. Kedua, kesiapan siswa. Karena dua hal ini tidak dipersiapkan dengan matang maka kemudian menjadi momok yang menakutkan. Sekarang, siap tidak siap harus siap!

Kesiapan infrastruktur
Kelengkapan utama yang diperlukan dalam pelaksanaan UNBK ini adalah komputer dan server. Dua hal ini sangat vital. Artinya, jika dua hal ini tidak ada, maka tidak bisa dilaksanakan. Apakah setiap sekolah memiliki komputer?

Seharusnya punya. Bukankah setiap tahunnya selalu dianggarkan untuk kelengkapan sekolah? Jika isu pelaksanaan UNBK ini sudah sejak lama dihembuskan, seharusnya masing-masing sekolah sudah mempersiapkan diri dengan mengajukan kelengkapan ini kepada pemerintah. Jika sekolah tidak punya komputer, kemungkinan ada dua hal yang terjadi. Pertama, memang tidak dianggarkan dan sekolah selama ini tidak memiliki (laboratorium computer). Kedua, ada tapi tidak bagus alias rusak semua.

Fakta yang sering terjadi adalah yang kedua. Mustahil sampai saat ini ada sekolah yang tidak memiliki komputer. Tapi yang sering terjadi adalah pengadaan komputer berbasis proyek sehingga jangka pendek dan ‘asal ada’ juga cepat rusak. Inilah penyakit negeri ini. Semua jadi proyek; ‘money oriented’. Celakanya, ketika benar-benar dibutuhkan, semua harus memulai dari nol dan tentu saja proyek lagi! Makan tu proyek!

Kesiapan Siswa
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menyiapkan peserta didik untuk mengikuti jenis ujian ini. banyak media yang merilis bahwa sebahagian siswa masih banyak yang tidak tahu mengoprasikan computer alias gaptek (gagap tekhnologi). Saya rasa prosenstasenya sedikit sekali. Masing-masing sisa saat ini sudah sangat akrab dengan ponsel yang sebahagian besar sudah berabasi computer. Jika pun ada yang gaptek, kemungkinan siswa-siswa yang berada di pelosok desa. Dan itu pun rasanya sangat sedikit karena kemajuan teknologi saat ini sudah masuk sampai pelosok tanah air.

Kesiapan yang mendasar bagi siswa adalah persiapan mental mereka dalam menghadapi ujian itu senidiri. Sebagai tenaga pendidik di berbagai level perndidikan, dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, saya sangat memahami bahwa peserta didik kita sering dihantui oleh berbagai ujian baik yang bersifat lokal mau pun nasional. Ujian nasional semacam ini biasanya menjadi momok yang luar biasa. ‘Hantunya’ lebih besar dan menakutkan dari ujian itu sendiri.

Maka kesiapan mental mereka harus menjadi perhatian banyak pihak, dari sekolah, orang tua, hingga para siswa sendiri. Maka seyogyanya persoalan teknis ketidaksiapan perangkat ujian berupa komputer dan lain sebagainya tidak perlu pula mejadi beban para siswa. Tidak perlu mengganggu konsentrasi mereka. Mereka harus betul-betul fokus mempersiapkan diri untuk menjawab soal-soal yang diberikan. Siap lahir dan batin.

Siap secara mental ini memang sangat penting. Sering terjadi, ketidaksiapan mental siswa membuat mereka memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap ujian sehingga gagal memperoleh nilai terbaik yang mereka harapkan. Ujian semacam ini, tantangan terbesar adalah melawan diri sendiri.

Setiap tahun saya banyak terlibat dalam menyiapkan mental siswa untuk menghadapi ujian nasional di berbagai sekolah melalui seminar motivasi pendidikan. Fokus saya merubah mindset siswa terhadap ujian. Ujian itu hal biasa, bukan pula momok yang menyeramkan. Ketakutan mereka lebih besar dari kesulitan menjawab soal itu sendiri. Sebaliknya, ketika mental mereka siap maka segala potensi yang mereka miliki akan maksimal mereka keluarkan.

Terakhir, momok yang menakutkan itu ternyata bernama ‘ketidaksiapan’. UNBK menjadi momok karena banyak hal yang tidak dipersiapkan dengan baik. Maka dari itu, agar momok semacam ini tidak terus terjadi di dunia pendidikan kita, hendaklah masing-masing pihak betul-betul serius menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Pendidikan anak bangsa ini memang memerlukan keseriuasan kita semua. #BNODOC36022017.

*Akademisi tinggal di Jambi [WA085266859000]


This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement