Monday, 27 February 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Diberitakan oleh berbagai surat kabar di Jambi bahwa Satuan Resesrse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kota Jata Jambi menangkap tujuh orang mahasiswa yang sedang berpesta narkotika jenis ganja di sebuah Distro. Mengejutkan? Rasanya sudah tidak lagi mencengangkan. Bahkan, Badan Nartkotika Nasional (BNN) pernah merilis data bahwa 22 persen pengguna narkotika adalah berstatus pelajar dan mahasiswa (netralnews.com). Jumlah yang tidak sedikit menuju kehancuran bangsa.

Di sisi lain, ada harapan yang sangat besar kepada mereka sebagai penerus estapet pembangunan bangsa ini. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang terdidik. Selalu berpikir logis dan matang. Di tangan mereka lah kemudian kepemimpinan bangsa ini diserahkan pada masanya nanti.

Apa jadinya jika kemudian bangsa dan Negara ini diwarisi oleh para penikmat narkotika? Perangkap Narkoba memang selalu saja menganga di mana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja. Siapa pun di negeri ini selalu dalam bahaya. Dari kalangan elit sampai kaum awam. Dari yang tua hingga anak-anak. Rasanya tidak ada  lagi yang benar-benar tidak dalam ancaman dan bahaya.

Perangkap Narkoba dari hari  ke hari semakin canggih. Modus peredarannya pun semakin bervariasi dan massif. Para petugas secara maksimal terus melakukan upaya demi upaya memerangi peredaran barang haram berbagai jenis ini. Namun tetap saja, peredarannya semakin meraja lela.

Sebagai salah satu pemateri yang dipercaya oleh BNN Provinsi Jambi, dalam berbagai kesempatan saya selalu tegaskan bahwa persoalan narkoba tidak bisa lepas dari persoalan mindset atau pola pikir. Dr. Robert Brooks mendefinisikan mindset sebagai “the assumptions and expectations we have for ourselves and others.  These attitudes guide our behavior and influence our responses to daily events”. Artinya, asumsi-asumsi dan harapan yang ada pada pikirian kitalah yang sangat mempengaruhi segala tindak tanduk kita dalam keseharian.

 Hipotesanya sederhana, jika seseorang memiliki cara pikir (mindset) yang benar maka benarlah perilakunya. Dan sebaliknya, jika seseroang memiliki pola pikir yang tidak sehat, maka segala kejahatan akan mudah merasuk ke dalam kehidupannya.

Terjeratnya kaum intelektual seperti mahasiswa ke dalam pusaran narkoba bukan karena mereka tidak berilmu pengetahuan. Mereka sangat tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi kehidupan. Mereka juga paham bahwa berurusan dengan narkoba akan menjadi mala petaka yang mengerikan. Mereka mengerti bahwa setiap saat jeruji dan hukuman mati menanti. Mereka sangat tahu itu, tapi karena mereka tidak bisa ‘melawan’ diri dan pikiran mereka sendiri, akhirnya terjurumus.

Jadi, sesungguhnya perangkap awal narkoba itu adalah diri sendiri. Narkoba tidak semata persoalan hukum. Penjara terbukti tidak efektif menimbulkan efek jera bagi praktisi narkoba. Tidak jarang kita mendengar berta bahwa banyak diantara mereka yang keluar dari penjara malah tambah meraja lela. Naik kelas.

Sekali lagi, yang harus kita benahi adalah cara pikir anak bangsa ini. Para generasi muda dan mahasiswa harus terus dibina mental spiritual mereka. Jangan sampai mereka seperti robot yang cerdas tapi gersang nilai-nilai. Kecerdasan yang tidak dilandasi pola berpikir, mental, spiritual yang kuat akan mudah tergelincir dalam berbagai bentuk kerjahatan, terutama narkoba.

Perangkap selanjutnya adalah pergaulan. Mahasiswa adalah sekolompok anak muda yang memiliki pergaulan yang bebas. Nyaris tidak ada yang bisa membatasi pergaulan mereka dalam keseharian. Mereka boleh bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Mereka memiliki independensi yang tinggi dalam kebebasan menggunakan 24 jam waktu yang mereka miliki. Inilah yang terkadang menjadi perangkap bagi mereka.

Tidak ada yang salah untuk bergaul dengan siapa saja. Tapi salah-salah mencari teman untuk bergaul bisa terjerumus dalam kejahatan narkoba. Sebagian besar kasus narkoba di kalangan pelajar mahasiswa sudah dapat dipastikan awalnya coba-coba karena ditawarin oleh teman mereka sendiri. Maka penting juga bagi mahasiswa untuk memperhatikan teman bergaulnya jika tidak mau masuk ke dalam perangkap kejahatan.

Akhirnya, siapa saja, termasuk mahasiswa, saat ini berada dalam bahaya besar perangkap narkoba. Jika tidak waspada, kapan saja bisa terperangkap dan menjadi korban. Maka, kewaspadaan dimulai dari diri sendiri. Miliki cara berpikiri (mindset) dan gaya hidup yang sehat. Hindari pergaulan yang kira-kira dapat membawa diri ke jurang kehancuran. Waspadalah! #BNODOC57022017

*Akademisi dan Trainer TOT Pemberdayaan Bidang P4GN BNN Provinsi Jambi.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement