Thursday, 23 February 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Aksi massa Gerakan Masyarakat Tebo Bersatu atau GMTB yang kemarin berakhir ricuh disayangkan sejumlah pihak.  Pasalnya, aksi yang awalnya digadang sebagai aksi damai menolak hasil Pilkada Tebo yang bertepatan dengan sidang pleno rekapitulasi suara KPUD tersebut, berubah menjadi kericuhan akibat massa aksi yang emosi kemudian menjadi anarkis.

“Sangat menyayangkan kenapa hal itu bisa terjadi, politik inikan tujuannya bagaimana untuk membangun masa depan, bagamana menciptakan suasana yang lebih baik, damai, dan apa yang menjadi cita-cita rakyat bisa kemudian dicapai, kalau ada yang melakukan anarkisme itu sudah keluar dari tujuan utama makanya sangat disayangkan kenapa itu bisa terjadi” ujar Ahmad Azari, Ketua Seknas Tani Jokowi, Provinsi Jambi.

Dalam kontek berdemokrasi inikan, lanjut Azari, semua orang tidak sekedar menyampaikan tapi juga harus mendengarkan dan mematuhi aturan. Sebab, kalau kita tidak beraturan maka kekacauan akan terus terjadi dan apapun alasannya tentu tidak boleh dibiarkan.

“Ketika misalnya ada temuan pelanggaran dalam Pilkada, hal itukan sudah ada mekanismenya, Silahkan dilapor kepihak Panwas atau ke Polisi dan saya yakin hal tesebut pasti ditindaklanjuti, sebab, mereka yang kemarin dilapangan itu biasanya untuk menjaga keamanan saja” imbuh Azari.

“Saran saya baiknya kedua belah pihak melakukan rekonsiliasi untuk mencari solusi karena menang kalah inikan proses politik dan demokrasi, kalau tidak mau berdemokrasi ya tidak usah ikut Pilkada” pungkas Azari.

Hal senada disampaikan oleh Herry Simanjuntak yang juga dikenal aktivis buruh dan Penggiat 98,  Menurutnya, Pelaku aksi sebaiknya kembali pada tujuan awal.

“Yang perlu didalami apa yang menjadi kesepakatan awal sebelum aksi dilakukan, harus diteliti lagi apalagi mereka yang demo katanya ada juga pelaku sejarah pada periode yang lalu, jadi harusnya sudah sangat matang karena mereka pernah memenangkan proses pilkada dengan cara elegan,” ujar Juntak.

Ditambahkannya, Kalau memang suara mereka tidak didengar apapun pasti bisa terjadi, Tapi ketika mereka sudah dimediasi dan dipertemukan kemudian ada rasa tidak puas lalu anarkis yang dipicu oleh pemaksakan kehendak, berarti disitu sudah ada yang gak bener.

“Inikan konflik pilkada, harus dibedakan dengan aksi masa tani dan buruh sebab ini ada ruangnya, ada gugatan hukum dan segala macam jadi mau memaksakan kehendak bagaimanapun juga pasti akan repot”  tutup Herry.

Roy Benjamin Situmorang, Aktivis Pro Demokrasi Jambi juga memberikan pandangannya atas insiden kericuhan demontrasi yang dilakukan oleh GMTB kemarin siang.  Menurutnya, Polisi harus berani mengusut kasus ini dan membongkar siapa aktor dan penanggung jawab atas aksi.

“Kalo aksi damai harusnya berlangsung damai juga. Tapi ketika itu sudah ricuh, ada yang dirusak dan ada jatuh korban, itu namanya bukan aksi damai tapi kericuhan dan itu sudah identik dengan aksi tindak pidana, maka dari itu polisi harus berani mengusutnya” tegas Roy.

Sementara itu Kapolres Tebo AKBP Budi Rachmad, S.I.K., M.Si, melalui Wakapolres Kompol Ali Sadikin pagi ini (23/2/2017) ketika di konfirmasi menerangkan, Bahwa pihaknya sudah mengantongi beberapa nama termasuk pemilik mobil dan sopir yang menabrak aparat sewaktu unjuk rasa kemarin.

“Sopir atau pemilik mobil itu dari warga Muaro Tabir, kondisi anggota yang luka saat ini masih dirawat dan kasus ini akan ditindak secara hukum” tegas Wakapolres singkat. (tim) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement