‘KAMBING HITAM’ PARTISIPASI

- 08:10:00
advertise here
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada seminar-seminar motivasi, untuk menggambarkan betapa pentingnya sebuah impian dan tujuan, saya membuat sebuah analogi jalan kaki. Saya bertanya, “Di tengah teriknya mata hari siang, maukah anda jalan kaki dari Mendalo ke Pasar Angso Duo (lebih kurang 20 KM)?”. Peserta seminar biasanya spontan menjab “Tidak!” dengan berbagai alasan. Alasan-alasan yang pasti muncul adalah capek, malas, letih, panas, gak kuat, takut sakit, dan seterusnya. Alasan yang logis dan dapat diterima.

Dengan kondisi yang sama, pertanyaannya saya tambahin, “Di tengah teriknya mata hari siang, maukah anda jalan kaki dari Mendalo ke Pasar Angso Duo (lebih kurang 20 KM)? Sesampai di sana anda langsung mendapatkan uang tunai satu milyar, rumah seharga tiga milyar, mobil mewah seharga satu milyar, umroh bersama keluarga tiga kali, dan…”. Belum selesai menyebutkan apa yang mereka dapatkan, biasanya semua peserta sudah berteriak “Mau!”.

Apa yang merubah ‘tidak’ menjadi ‘mau’ dalam kondisi yang sama? Itulah kekuatan impian dan tujuan. Ternyata tidak ada malas, capek, letih, panas takut sakit, dan semua kendala itu ketika seseorang tahu betul apa yang dia dapatkan dari apa yang ia lakukan. Tapi harus ingat, impian itu harus lebih besar dari segala kendala yang dihadapi.

Pada artikel ini, saya ingin mendiskusikan tingkat partisipasi masyarakat dalam melaksanakan hak suaranya pada perhelatan Pilkada 2017 ini. Ditengarai, ada beberapa daerah yang partisipasinya dirasa menurun disebabkan oleh hujan. Di Kabupaten Sarolangun, misalnya, Pj Bupati terang-terangan menegaskan hal ini, "Dari pantauan kami, partisipasi pemilih menurun jika dibandingkan pada Pilgub beberapa waktu lalu. Untuk Pilkada kali ini partisipasi pemilih diperkirakan hanya mencapai 70 persen. Karena tadi itu sampai jam 10.30 WIB di sini masih hujan. Mungkin inilah yang menjadi faktor utamanya"(imcnews.id).

Benarkah hujan menjadi faktor utamanya? Hal ini menjadi menarik ketika kita hubungkan dengan tingkat motivasi masyarakat dalam melihat pentingnya menyalurkan hak suara mereka. Jika dipasangkan dengan analogi di atas, masyarakat belum menemukan alasan yang kuat mengapa mereka harus menyalurkan hak suara mereka.

Artinya, kendala hujan jauh lebih besar atau lebih berat dari apa yang ingin mereka dapatkan. Karena dapat dipastikan, sebesar dan seberat apa pun halangan dan rintangan yang dihadapi, jika mereka memiliki motivasi yang besar pasti mereka akan lakukan. Jangankan hujan gerimis, badai dan petir pun akan mereka ‘lawan’ untuk sampai ke bilik suara.

Jika begitu, paradigmanya harus dirubah. Jangan ‘kambing hitamkan’ hujan. Bukan rintangannya yang harus diatasi tapi motivasi masyarakat akan pentingnya pemberian hak suara yang harus dipertinggi.

Alam adalah kehendak Allah. Siapa yang hendak melawan kehendak Allah? Ada yang bisa menahan hujan? Ada yang mampu menghentikan badai? Ada yang kuat mengeringkan banjir seketika? Rasanya, tidak. Sekali lagi, bukan alamnya yang harus dipersalahkan, tapi mental masyarakat yang harus kita benahi.

Pada konteks ini, tugas besar kita semua adalah menanamkan impian yang besar kepada Pilkada. Jikalah benar, turunya partisipasi yang disebabkan oleh hujan, maka tanda bahwa masyarakat belum memiliki asa yang besar terhadap Pilkada. Pilkada baru sebuah seremoni demokrasi. Singkat kata, tingkat kesadaran masyarakat belum terbangun karena mereka tidak mempunyai harapan kepada Pilkada. Mereka belum menemukan manfaat nyata terhadap pemberian suara yang mereka lakukan.

Lebih miris lagi, sebagian masyarakat telah apatis. Jamak kita dengar nada-nada sumbang melantun di tengah masyarakat, “Sudahlah, milih gak milih, nasip kita kan seperti inilah”. Apatisme semacam ini adalah ‘racun’ demokrasi yang menggerogoti.

Apa obatnya? Membangun impian dan harapan. Semua orang di negeri ini harus memiliki optimisme yang besar terhadap proses demokrasi bangsa yang sedang dijalani. Antar anak bangsa harus saling menguatkan dan momotivasi diri. Dengan cara inilah masyarakat akan memberikan partisipasinya dengan menghadapi segala aral yang melintang.

Akhirnya, pepatah lama berbunyi “muko buruk, cermin dipecah”. Cerminnya tidak salah dan jangan dipecah. Tidak baik. Memberikan memotivasi dan membangun optimisme masyarakat juga memperbesar harapan mereka akan pentingnya penyaluran hak suara jauh lebih bijak dari hanya ‘meng-kambighitam- kan’ hujan. Tugas siapa? KITA SEMUA. #BNODOA16022017

*Akademisi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.