PUNGUT HITUNG MENGHITUNG HARI

- 11:32:00
advertise here
Oleh : DONY YUSRA PEBRIANTO, SH., MH

Tahapan pungut hitung Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati serentak di 3 (tiga) Kabupaten dalam Provinsi Jambi yakni Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo tinggal menghitung hari. Isu-isu menarik kian bergulir, mulai dari obrolan warung kopi bahkan berujung saling lapor bukanlah hal yang tabu lagi. Politik, ya… terkadang begitu.

Perang Urat Syaraf Yang Kian Menegang

Bukan rahasia lagi bahwa dalam proses pilkada menghadirkan warna tersendiri dalam menghiasi proses demokrasi bangsa ini. Apalagi menjelang tahapan pungut hitung yang hanya tinggal menghitung hari yang dalam hal ini seyogyanya diselenggarakan pada Tanggal 15 Februari 2017 mendatang makin terlihat kepermukaan makin menegangnya urat syaraf.

perang urat syaraf saat ini tidak hanya sebatas media sosial belaka, bahkan sudah merambah di luar dari pada itu. Tentunya bukanlah hal baru bahwa menjelang pungut hitung terkadang sejuta intrik akan digunakan dan bahkan menjadi bagian dari strategi pemenangan. Mulai dari opini terbuka secara independent, pemanfaatan negatif campaign dan atau mengarah ke black campaign, dan bahkan tidak jarang mencuat permasalahan hukum yang terkadang tidak dapat dipungkiri merupakan bagian dari dinamika tersebut. Dan hebatnya lagi terkadang dinamika tersebut faktanya bak air dicencang tiada putus, ya……itulah permainan politik yang bahkan di dalam politik dikenal sebagai tidak ada musuh abadi, begitula sahabat yang abadi. 

Fenomena perang urat syaraf ini sudah sangat terlihat di permukaan, bahkan di salah satu Kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada justru permasalahan ini sudah berujung saling lapor ke Polda Jambi. Sekalipun terkadang dipungkiri ini bukanlah persoalan Pilkada, yang jelas permasalahan ini muncul dan mencuat di saat Pilkada. Agaknya terlalu susah untuk diyakni jika disebut ini bukanlah persoalan Pilkada.

Begitu juga dengan mencuatnya isu Korupsi masa lalu beberapa calon Kepala Daerah tersebut yang sempat mencuat juga ke permukaan. Semua permasalahan bisa diolah dan dikemas menjadi komoditi politik yang sangat menjanjikan, apalagi menjelang pungut hitung. Apalagi keberadaan media sosial saat ini semakin mempermudah akses distribusi komoditi politik tersebut untuk sampai bahkan ke tingkat bawah sekalipun dalam waktu yang sangat singkat.
Tidak hanya itu, tidak jarang pula suatu hal yang belum tentu kebenarannya juga dilemparkan ke publik. Sudah pasti pelempar isu di dalam Pilkada adalah orang yang sangat piawai dengan intrik-intrik tersebut. Bahkan dengan suatu hal yang hoax sama sakelipun bisa menjadi komoditi politik menggiurkan dengan kemampuan mengemasnya dengan strategi tertentu. Tidak jarang kontak fisik antar pendukung timbul yang terkadang bukan karena militansi, tetapi justru karena provokasi. Perang urat syaraf ini tentunya tidak dapat dihindari, inilah realita dan fakta yang terjadi hari ini di saat pungut hitung yang tinggal menghitung hari.

HITUNGAN HARI YANG SANGAT BERHARGA
Agaknya para kontestan harus sangat memahami pepatah di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai. Sekali lengah disitulah bahaya politik mengancam. Harus selalu mengintip senjata lawan, menyambangi amunisi lawan, menyiapkan benteng pertahanan, dan tidak jarang terkadang harus bermanuver. Begitulah politik, dominan berbicara trik, bahkan terkadang menggunakan intrik.

Keberadaan hasil survey menjelang pungut hitung tidak sedikit berujung realita, dalam artian hasil survey tersebut berbanding lurus dengan hasil pemungutan dan penghitungan suara. Namun tentunya harus selalu diingat, tidak sedikit pula hasil survey tersebut berbanding terbalik dengan realita lapangan pada hari pencoblosan suara, dan tidak sedikit pula orang yang mesti duduk bermenung sembari meratapi hasil yang tidak sesuai prediksi.

Tidak jarang para kontestan pilkada merasa jumawa dengan hasil survey yang menguntungkan. Yang harus disadari adalah hasil survey merupakan referensi prediksi pada saat dilakukan survey. Mesti dipahami bahwa politik itu sangatlah dinamis, dalam hitungan jam pilihan bisa berubah, pilkada bukan hanya persoalan selera, tapi banyak faktor yang mempengaruhinya. Andailah Pilkada mutlak persoalan selera, agaknya tidaklah sulit untuk menentukan Pemilih harus diberi makan apa, tentunya politik tidak segampang itu apalagi di ranah Pilkada.

Beberapa hari ke depan merupakan masa yang sangat penting untuk dijaga dan dikawal serta dimanfaatkan dengan baik oleh semua kontestan. Bahkan hal ini harus tetap dimanfaatkan menjelang masa kampanye ditutup, sekalipun justru pada faktanya sedetik sebelum pemilih memilih permainan terkadang masih tetap dimainkan karena luputnya pengawasan dari Pengawas Pemilu dan tidak jarang juga terkendala regulasi hukum yang terkadang memuluskan akal bulus.

Idealnya semestinya kontestan dan tim mampu memanfaatkan beberapa hari ke depan untuk menyuarakan kampanye dengan baik dan benar, bak pepatah kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua, kalaupun menyampaikan ajakan memilih, sampaikanlah dengan bahasa yang tepat, sekalipun politik terkadang begitu. Betapa tidak, seperti sudah menjadi suatu susnan agenda bahwa menjelang pungut hitung justru yang dikedepankan adalah permainan konflik, patut dicatat, justru laporan dugaan pelanggaran dalam Proses Pilkada banyak diterima oleh pengawas Pemilu justru di 15 hari menjelang pungut hitung dan 3 hari setelah pungut hitung. Ada apa? Bukankah tetap konsisten mendekati rakyat justru membuat komitmen memperjuangkan rakyat semakin jelas terlihat. Mungkin ada baiknya tetap konsisten menjalankan agenda kampanye sebagaimana sebelumnya, sebagaimana sosialisasi dahulu dilaksanakan. Patut dipastikan di hari-hari ke depan masyarakat akan susah lagi melihat calon pemimpinnya yang mau berbelanja di pasar rakyat, makan di warung emperan atau bahkan tidur di rumah warga, semua kembali tinggal kenangan jangan-jangan. 

KERJA KERAS MENANTI PENYELENGGARA
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dihadapkan dengan tanggung jawab besar ke depan. Bagi KPU mulai dari persiapan logistic dan distribusinya, apalagi sukses tidaknya penyelenggaraan pungut hitung tentunya dipangku oleh KPUD tanggung jawab tersebut selaku penyelenggara. Harapan masyarakat KPUD tetap dapat menjalankan amanah konstitusi dengan tetap mengedepankan tujuan demokrasi yang demokratis dan penyelenggaraan yang sesuai dengan azas-azas dan aturan hukum yang berlaku.

Begitu pula dengan Panwaslu dan jajaran yang mengemban tugas Negara yang sangat berat dalam mengawal “pesta” demokrasi ini, sekali lengah maka cacatlah produk demokrasi ini. Tentunya masyarakat menaruh harapan besar kepada Panwaslu untuk dapat memastikan demokratisnya proses demokrasi yang berlangsung ini.

Tulisan ini Penulis susun dengan beragam perasaan di hati, namun yang jelas Penulis mendoakan semoga beberapa hari ke depan Muaro Jambi, Sarolangun, dan Tebo selalu damai namun ramai dengan aroma demokrasi, dan segenap pihak yang terlibat senantiasa sehat walafiat termasuk rekan-rekan KPUD dan Panwaslu yang berjibaku mengemban amanah Negara untuk menjalankan dan mengawal demokrasi. 

*Penulis adalah Ketua Bidang Hukum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Jambi, serta Pengamat Hukum dan Politik.