Saturday, 28 January 2017

author photo
Oleh: Bahren Nurdin, MA

Membangkit Batang Terendam. Jika tidak silap, bermula dari perhelatan Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi, Gubernur Jambi menghimbau seluruh masyarakat Jambi membangkitkan kembali budaya Jambi yang salah satunya adalah pemakaian LACAK. Lacak adalah kain penutup kepala yang didesign sedemikian rupa, khas Melayu Jambi. Bentuknya unik dan menarik. Gubernur pun saat ini dalam keseharian menjalankan tugasnya selalu mengenakan tutup kepala ini. Dalam beberapa kesempatan beliau menghimbau semua instansi baik instansi pemerintahan maupun swasta untuk mewajibkan para staf dan karyawannya menggunakan lacak. Tidak hanya di Kota Jambi tapi di seantero tanah Melayu ‘Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ ini.

Sebenarnya bentuk ikat kepala ini juga tidak terlalu asing bagi masyarakat Jambi. Ikat kepala ini selalu dipakai oleh mempelai laki-laki saat pesta perkawinan. Baju adat Melayu Jambi yang ‘benar-benar’ asli Jambi dapat dipastikan mengenakan ini. Saya beri tanda kutif ‘benar-benar’ karena sudah banyak Baju Adat yang telah dimodivikasi; bercampur baur.

Gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh Gubernur Jambi membuahkan hasil signifikans. Orang-orang Jambi saat ini mulai ‘demam’ Lacak. Pesanan pun mulai meningkat kepada pengrajin. Pas dengan keinginan Pak Gubernur. Dengan masifnya pemakaian Lacak dan Tengkuluk (tutup kepala khas Jambi untuk wanita) akan berdampak tumbuhnya ekonomi kreatif di Jambi. Memang seharusnya demikian. Semua lini harus bersinergi sesuai peran dan fungsi masing-masing. Akademikisi dengan kajiannya. Pengrajin dengan kreatifitasnya. Pedagang dengan jualannya. Perbankan dengan bantuan pembiayaannya. Pemerintah dengan aturan-aturannya. Masyarakat dengan kebanggaannya. Dan seterusnya.

Tanjak atau Lacak
Sejak ‘booming’ nya ikat kepala yang dipakai Gubernur ke mana-mana, masyarakat Jambi mulai bertanya-tanya “namanya apa?”. Ada yang menyebutnya TANJAK dan sebagian pula memanggilnya LACAK. Saya mencoba menelusuri beberapa dokumen yang tersedia, namun sayang belum saya temukan naskah akademik yang membahas masalah ini. Belum ada kajian sejarah secara mendalam tentang keberadaan LACAK atau TANJAK ini, khususnya yang benar-benar milik Melayu Jambi. Saya menemukan beberapa foto tua yang menunjukkan orang-orang tua di Jambi sudah lama menggunakan ikat kepala ini. Ikat kepala ini memang milik Melayu Jambi. Bukti sejarah ada. Tapi kajian akademisnya belum ditemukan.

Jadi, sampai artikel ini saya tulis, secara pribadi saya juga sedang menghimpun informasi akademis yang bisa kita pertanggungjawabkan. Berharap pula, kepada semua pihak terus menggali dan memberi informasi juga sosialisasi sehingga masyarakat tidak hanya bangga memakainya tapi juga bangga dengan pengetahuan tentang yang ia pakai.

Kita juga tidak berharap, masyarakat terjebak dengan euphoria semata. Maksud saya, ‘pakai orang pakai awak. Yang orang pakai awak dak tau’. Artinya, masyarakat harus kita beri pengetahuan sejarah, jenis, fungsi, warna, dan lain-lain. Sehingga mereka tidak buta sejarah. Hal ini juga sekaligus memberi tantangan bagi kaum akademisi di Jambi. Kampus-kampus besar di Jambi untuk melakukan kajian-kajian serius.

Di negeri Seberang, Malaysia, jenis ikat kepala ini disebut Tanjak. Tanjak memiliki begitu banyak jenis dan kekhasan (sesuai daerah). Beberapa diantaranya, Tanjak Lang Melayang,  Tanjak Laksamana Terengganu, Tanjak Temalong Budu, Tanjak Dagang Sakit di Rantau, Tanjak Sebang Selat, Tanjak Pari Mudik, Tanjak Lang Patah Sayap, Tanjak Pucuk Pisang Patah, Tanjak Sekelongsong Bunga, Tanjak Kacang Sehelai Daun, Tanjak Laksamana Johor-Riau, Tanjak Tebing Laksamana, Tanjak Tebing Runtuh, dan Tanjak Budis Tak Balik (sumber: saudagar-tekua.blogspot.co.id). Ternyata kaya sekali. Mana Lacak Jambi?

Sudah Saatnya
Beberapa waktu lalu, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Provinsi Jambi yang ke 60, saya menulis artikel dengan judul “60 Tahun Masih Gamang; Sebuah Refleksi Nilai-Nilai Budaya)”. Sebagai budak Jambi saya sangat merasakan kegamangan identitas budaya Melayu Jambi. Pertanyaanya ‘Yang mana Melayu Jambi itu?’ belum sepenuhnya terjawab. Melayu Jambi seakan tidak memiliki identitas budaya yang mampu menjadi pembeda dengan Melayu di dunia. Masih galau!

Kesedaran ini agaknya mulai tumbuh. Saya secara pribadi sangat mengapresiasi apa yang sedang dilikukan oleh Gubernur Jambi yang gencar mensosialisasikan pemakaian busana khas daerah. Sudah saatnya orang Jambi bangga dengan busana budayanya sendiri. Dimulai dari pemakian LACAK / TANJAK ini, berharap pula beberapa busana khas lainnya akan kembali hidup di tengah masyarakat. ‘Batangnya tak lagi terendam. Lah timbul, jok!

Kita punya! Kita memiliki! Tapi selama ini kita terlalu asyik membanggakan punya orang lain. Kini tibalah masanya kita harus bangga dengan punyo kito dewek. Maka dari itu, kenalilah sejarahmu dewek, lup! #BN27012017 (WA 085266859000)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement