Thursday, 12 January 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Di Indonesia, negeri kita tercinta ini kini tengah di hebohkan dengan berita bohong atau hoax yang bersumber dari media sosial. Bila kita cek beranda di akun sosial kita terutama facebook, maka akan berseliweran berita-berita yang heboh dan mengejutkan. Baik itu dari media massa maupun akun-akun media sosial lainnya.

Dengan tak terkendalinya berita-berita di medsos tadi maka sekarang berdirilah komunitas-komunitas anti hoax. Ada punya yang menamakan diri cyber hoax atau hoax buster dan lain-lain. komunitas-komunitas ini konsisten menolak berita-berita hoax yang ada di media sosial. Mereka beramai-ramai mengumpulkan dukungan di setiap kota.

Dilihat sekilas memang komunitas anti berita bohong atau hoax sangat positif bagi kesehatan medsos di tanah air. Tidak bisa dipungkiri lagi masyarakat kita bahkan dunia telah menjadikan medsos sebagai kebutuhan primer ke empat setelah sandang, pangan dan papan. Hampir rata-rata orang memiliki medsos.

Tak bisa dielak, kini medsos sudah menjadi sumber berita utama bagi masyarakat. Terbukti oplah koran dan media cetak lainnya sudah menurun drastis. Peminat televisipun hampir sama. Masyarakat lebih suka membuka medsos, membaca berita online atau menonton youtube. Karena disini sumua ada.

Kerja-kerja membuat dan mengabarkan berita adalah kerja jurnalistik. Baik itu datang dari media professional, media independen maupun orang perorangan. Itulah yang dinamkan citizen journalism atau jurnalisme warga. Masyarakat baik berkelompok maupun sendiri-sendiri berhak mengabarkan sesuatu kejadian yang ia rasa penting untuk di kabarkan.

Tentunya hal ini dilakukan dengan tanggung jawab. Tanggung jawab adalah tiang pembatas antara jurnalisme dan yang bukan.
Penulis mengakui banyak media Independen yang tidak bertanggung jawab di dunia maya sana. Membuat berita yang cenderung menghasut dan mengadu domba. Akan tetapi penulis tidak sepakat jika hoax hanya di kategorikan dalam hal-hal yang demikian saja. Hoax tetaplah hoax. Apapun bentuknya. Baik dari media independen maupun profesional.

Media profesional juga memiliki potensi hoax yang sama. Potensi mengadu domba dan menghasut. Bedanya hanya kehalusan tutur bahasa dan bersembunyi dibalik celah prinsip kebenaran dalam jurnalisme. Apa itu kebenaran dalam jurnalisme.

Kebarnaran dalam jurnalisme tidaklah sesederhana yang kita ketahui selama ini tentang arti kebenaran. Kebenaran dalam jurnalisme adalah kebenaran yang berkembang. Benar hari ini belum tentu benar esok hari. Itulah kebenaran dalam jurnalisme. Membingungkan? Sebenarnya tidak. Kebenaran dalam jurnalisme lebih diambil dari fakta hasil wawancara, pidato, konferensi pers atau kutipan. Meski itu diambil sepotong-potong, setengah-setengah, dipelintir dan dipermaikan, tetaplah itu sebuah kebenaran menurut jurnalisme.

Sebagai contoh, baru-baru ini Johan Budi selaku juru bicara kepresidenan dalam sebuah talk show di salah satu televisi nasional mengatakan bahwa berita yang mengatakan presiden mempertanyakan kenaikan tarif penerimaan Negara bukan pajak (PNPB) tidak pernah terjadi.

Menurut Johan presiden tidak pernah menyatakan hal tersebut. Padahal berita tersebut ramai diberitakan oleh media profesional. Ada unsur hoax disana. Lagi-lagi media profesional dengan gampangnya akan membuat berita sekali lagi yang terkait yang berisi bantahan berita pertama tersebut. Itulah alur kebenaran dalam jurnalisme yaitu kebenaran yang berkelanjutan.

Hal tersebut tidak bisa disalahkan karena kerja jurnalistik adalah mencatat informasi dari narasumber, termasuk hasil wawancara atau konferensi pers. Itulah yang dipegang para jurnalis dan pengusaha media sebagai kebenaran. Jika yang di kutip oleh media itu salah, maka akan dikalrifikasi dan diberitakan lagi sebagai lanjutan atau jawaban atas berita yang pertama. Maka munculah kebenaran baru.

Apakah berita yang lalu salah karena ada klarifikasi? Mungkin salah, tapi tidak bagi jurnalisme. Berita yang lalu benar menurut waktu yang lalu itu. Yang sekarang juga benar sesuai dengan fakta yang sekarang beritu menurut jurnalisme. Ini lah yang menjadikan media profesional unggul di banding media independen. Yaitu kebenaran jurnalisme.
Disinilah letak cacatnya.

Kebenaran dalam jurnalisme yang telah penulis jelaskan diatas sifatnya semu, dan bukanlah kebenaran yang hakiki. Jadi fokus kita dalam menanggapi fenomena hoax ini adalah meberikan pendidikan dan literasi media bagi masyarakat yang mencakup keseluruhan hoax. Baik itu media independen maupun profesional. Masyarakat harus mengerti bahwa media itu tidak netral. Mereka akan berdiri disalah satu pihak.

Idealnya media dalam hubungannya sebagai naungan jurnalisme berdiri di antara masyarakat dan menyuarakan jeritan hati masyarakat. Media sekarang? Jauh panggang dari api. Tak perlu dijelaskan, sebagian masyarakat sudah paham. Pada dasarnya sumua media sama. Baik itu independen maupun yang profesional itu suka memprovokasi. Apa mau dikata, salah satu prinsip berita dalam suatu media adalah “bad news is a good news”. Berita buruk adalah sesuatu yang bagus untuk di beritakan.

Hal ini berhubungan dengan rating pembaca atau pemirsa.
Terus terang saja, penulis sangat bingung dengan fenomena ini. Siapakah yang harus di literasi, apakah yang harus di literasi. Semua sama. Media yang pada masa lampau adalah sebuah alat perjungan kemerdekaan, kini sudah berubah menjadi alat politik, alat kekuasaan, alat memprovokasi dan adu domba demi keuntungan sebuah kelompok atau individu.

Penulis berharap pada komunitas cyber hoax, hoax buster, atau apaun namanya bisa memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai media massa dan hoax secara menyeluruh. Tidak sekedar pada media-media independen saja akan tetapi juga pada media-media profesional yang memihak pada pihak-pihak tertentu, kelompok tertentu maupun individu terntentu. Hoax tetaplah hoax apapun itu, darimanapun sumbernya itu. Wallahu’alam.

Penulis Ahmad Jumadil

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement