Thursday, 19 January 2017

author photo
PORTALTEBO.com - Disni saya tidak akan menjelaskan demokrasi secara konferehensif, tapi lebih kepada bagaimana pandangan islam terhadap demokrasi dalam pentas politik di Indonesia secara interpretatif. Penting kiranya untuk dibahas karena demi menghadapi pesta demokrasi serentak (Pilkada) yang tidak lama lagi dalam hitungan bulan dan hari.

Melihat proses penerapan demokrasi di Indonesia dalam konteks sepak terjang politik akhir-akhir ini. Tentu sangat menyedihkan memang bila demokrasi (Politik) dikorelasikan dalam pandangan islam yang rahmtan lil’alamin. Secara realitatif dan indikatif bahwa proses politik kita telah rusak dan menyimpang.

Bagaimana tidak, beberapa tahun terakhir dengan kasat mata kita saksikan bersama bahwa proses demokrasi (politik) telah merusak semua sendi-sendi ditengah masyarakat. Merusak moralitas (akhlak), menyimpang nilai akidah (ajaran), dan telah melunturkan kebudayaan (kultur). Secara sederhana saja, mahasiswa yang seharus menjadi aktor terbaik dalam penerapan politik pendidikan dengan suara kebenaran (idealisme) mereka malah membelot kepolitik praktis. Para-para tokoh agama yang seharusnya menyampaikan tausiyah agamanya alih-alih menjual sorban dan kopiah dalam kontes kepentingan kelompok. Para-para tokoh masyarakat (nini mamak) yang memegang undang dengan teliti, memegang adat dengan pusako, yang becap bak ikan catuo, nan bagaris ikan piyul, telah terjun payung dalam gelanggang politik champagne.

Sehingga hasil dari buah karyanya itu, lahirlah para wakil-wakil rakyat yang makar, para-para penguasa yang zolim. Korupsi, kolusi, nepotisme dimana-mana, keadilan dan kejujuran hanya menjadi sebuah slogan klise yang telah usang. Rakyat terpecah belah, kesatuan dan persatuan pun memudar.

Politik dalam Islam (bagi yang muslim) tidak dapat berbuat sekehendak hatinya. Islam menolak dengan tegas mengenai politik yang menghalalkan segala cara. Terlebih apabila mementingkan individu atau kelompok. Sedangkan islam dalam berpolitik tidak sekedar mengurusi atau mengendalikan rakyat saja, tetapi mengemban kebajikan untuk seluruh rakyatnya.

Begitu juga dalam rumusan demokrasi, yaitu suatu ideologi atau cara hidup (way of life) yang menekankan pada nilai individu yang menjunjung tinggi nilai tanggung jawab, saling menghormati, toleransi dan kebersamaan. Ini bermakna bahwa kandungan dan nilai-nilai yang hendak diperjuangkan oleh demokrasi merupakan gejala kemanusiaan secara universal. (Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam)

Melihat dinamika ini, mau kemana lagi kita akan bercermin? Akankah para pemuda pemudi dan masyarakat awam bersolek didepan cermin yang kabur? Atau sama-sama menjadi wayang dalam drama kehancuran?

Apakah kita memang terlupa atau pura-pura lupa, tapi bagi saya ini bukan lupa atau berpura-pura, tapi lebih kepada keinginan untuk melupakan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Islam semestinya menjadi sebagai panduan dalam kehidupan kita. Islam tidak saja dipandang sebagai akidah, tapi juga akhlak, tingkah laku, perasaan, keluarga dan masyarakat. Islam memiliki ciri dan sipat-sipat tertentu yang menggambarkan kehidupan secara keseluruhan. Islam sebagai agama yang mengatur hidup seperti makan, minum, tidur, hingga jihad dan urusan bernegara termasuk proses demokrasi dalam konteks politik.

Proses demokrasi ini telah diterapkan oleh Nabi Muhahammad SAW dimasa itu. Salah satu contoh dapat dikemukakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi masalah strategi perang dan diplomasi dengan musuh, tergambar jelas bagaimana beliau menyelesaikan masalah sosial politik yang sedang dihadapi dan beliau selalu aspiratif dan dapat mentolerir adanya perbedaan diantara para sahabat, tidak terkecuali berhadapan dengan musuh. Sedangkan mekanisme pengambilan keputusan terkadang beliau mengikuti mayoritas meskipun tidak sejalan dengan pendapatnya.

Artinya Islam juga sangat objektif dalam membahas tentang persoalan demokrasi. Karena unutk mencapai sebuah peradaban, tentu prinsip-prinsip demokrasi terkandung didalamnya secara ekspelisit.

Saya akan coba jelaskan disini prinsip-prinsip dasar demokrasi dalam islam . Pertama Kebebasan, kebebasan yang diberikan pada manusia dapat menyelamatkan diri dalam bentuk tekanan, paksaan, penjajahan dan segala macamnya. Selain itu menjadikan manusia sebagai pemimpin dalam kehidupan ini, sementara disaat yang sama juga sebagai hamba Tuhan.

Dasar kebebasan dalam Islam adalah keimanan, dalam artian kebebasan merupakan nilai dan nikmat yang diberikan Allah kepada setiap manusia.

“Tidak ada Paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya sudah jelas jalan yang benar dari yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S. 2;256)

Kebebasan merupakan nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia, pada dasarnya dapat ditemukan pada semua agama yang berlandaskan tauhid. Kebebasan seperti ini setiap manusia merupakan hak umum bagi setiap manusia, sehinga tidak ada perbedaan antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Ketika Allah membebankan kebebasan kepada manusia, ini disebabkan karena manusia membutuhkan untuk bangkit dengan segala konsekuensi yang ditempatkan kepadanya yaitu ada pertanggung jawaban amal perbuatannya.

Kedua persamaan, ajaran Islam telah menetapkan prinsip yang tidak membedakan siapapun dalam mentaati peraturan Undang-undang tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain.

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. (Q.S. 49:13)

Ajaran Islam menunjukkan bahwa seluruh umat manusia yang terdiri atas berbagai suku bangsa, ras, dan warna kulit adalah sama, tidak ada beda dari segi kemanusiaan. Semua manusia diciptakan dari asal kejadian yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak terdapat perbedaan jenis kelamin, ras, dan kedudukan sosial.

Ismail Raji Al Faruqi dan Ali Abd Al Wahid hampir berpendapat yang sama prinsip persamaan dalam Islam, pada dasarnya bertujuan agar setiap orang atau sekelompok orang menemukan harkat dan martabat kemanusiaannya dan dapat mengembangkan prestasinya dengan wajar dan layak. Sifat persamaan juga akan menimbulkan sifat saling tolong-menolong dan sifat kepedulian sosial dalam ruang lingkupn yang luas. Kehidupan mereka ditentukan oleh persaudaraan, persamaan, dan keadilan bukan oleh otoritas yang sewenang-wenang.

Ketiga Penghormatan Terhadap Martabat Manusia, prinsip ini berhubungan dengan keadilan sedangkan keadilan merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai aspek kehidupan, baik individual, keluarga, dan masyarakat. Yusuf Al Qurtubi menjelaskan bahwa keadlian adalah memberikan sesuatu kepada yang berhak, baik secara pribadi maupun kelompok atau dengan nilai apapun tanpa melebihi atau mengurangi sehingga tidak ada yang merasa dicurigai atau diselewengkan haknya oleh orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan add. Janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesuangguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. 5:8)

Nah berarti keadilan mengandung pengertian pertimbangan atau keadaan seimbang, keadlian mengandung persamaan tetapi bukan persamaan mutlak terhadap semua orang dalam artian yang sempit. Dan keadilan dalam perhatian hak-hak pribadi, dan memberikan haknya karena dia mempunyai hak tersebut.

Bila dihubungkan dengan prinsip kehormatan terhadap martabat orang lain adalah keadilan dalam perhatian kepada hak-hak pribadi, dan keadilan ini merupakan suatu masalah pokok dalam menerapkan prinsip demokrasi didalam semua aspek kehidupan.

Akhirnya penulis berharap kita semua kembali menujunjung tinggi nilai-nilai agama dalam berproses demokrasi. Hingga lahirlah para-para wakil rakyat yang baik dan benar, lahirlah para penguasa yang jujur dan adil. Yang tau erang dengan gedang, yang di tau di agak dengan di agih, yang tau batimbang samo berat yang tau babagi samo banyak, serto pulo yang arif nan bijaksano.

Akankah harapan-harapan ini tercapai??? semoga saja.

Penulis, Arsanur Rahman, S.Pd.I, M.Pd

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement