Monday, 9 January 2017

author photo
Petani saat melakukan aksi penyegelan kantor PT PAH beberapa waktu lalu 
PORTALTEBO.com - Amsiridin, kepala dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Tebo yang baru saja dilantik oleh Bupati Tebo beberapa hari lalu, berjanji akan segera menuntaskan permasalahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Persada Alam Hijau (PAH), di Kelurahan Sungai Bengkal, kecamatan Tebo Ilir.

"Saya sudah dapat info kalau seluruh aktivitas PT.PAH diberhentikan sementara oleh petani karena mengingkari kesepakatan soal pembagian hasil yang molor tiga tahun," ujar Amsiridin, Senin (9/1/2017).

Dikatakannya, karena dirinya adalah orang baru dan belum begitu mengetahui dengan jelas duduk persoalannya, maka sebelum melangkah lebih jauh dia akan koordinasi dengan Peltu Sekda Tebo sekaligus Asisten II Setda Tebo yang membidangi ekonomi, keuangan dan pembangunan.

"Insyallah hari rabu (Besok, red) tim TP3K akan melakukan rapat dengan pihak perusahaan PT PAH untuk mencari jalan keluar permasalahan ini," tambahnya.

Dirinya berharap permasalahan ini bisa segera selesai, petani tidak rugi dan perusahaan bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. "Adanya kerjasama dengan perusahaan ini, saya berharap ekonomi masyarakat bisa terangkat," kata Kadis.

Ishak, salah satu petani yang menjadi koordinator aksi penyegelan kantor PT PAH pada Rabu (4/1/2017), saat dikonfirmasi menyambut niat baik Pemkab Tebo untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Dikatakannya bahwa kemarahan petani yang berujung pemberhentian (Penyegelan) kembali seluruh aktivitas PT PAH adalah akibat keputusan sejumlah oknum pengurus koperasi yang dianggap tidak sesuai tuntutan petani saat aksi penyegelan sebelumnya pada 19 Desember 2016.

"Yang dituntut petani adalah agar perusahaan segera mengeluarkan pembagian hasil, bukan menambah pinjaman atau talangan sebagaimana yang disepakati oknum pengurus koperasi dengan pihak perusahaan saat membuka segel dan portal yang dikunci oleh ratusan petani sebelumnnya," tambahnya.

Dia juga mengatakan, saat ini kelapa sawit yang dimitrakan petani saat ini sudah berusia rata- rata 8 tahun, sebagaimana perjanjian awal petani sudah harus menerima hasil saat kelapa sawit berusia 4,1 tahun (49 bulan, red).

"Herannya hingga kini petani hanya menerima pinjaman padahal hasil panen sawit perbulannya juga sudah diatas 3000 ton. Kami tidak mau terima apapun alasan pihak perusahaan untuk tidak mengeluarkan hasil karena jadwal bagi hasil ini sudah molor 3 tahun lebih,"kata dia.

"Seandainya ada sejumlah kebun yang semak atau tidak dirawat itu adalah salahnya perusahaan, jangan akibat kelalaian perusahaan kami sebagai petani yang dirugikan," tutur mantan pensiunan TNI ini.

"Berdasarkan kesepakatan yang dibuat bersama, penyegelan dan portal akan dibuka apabila petani sudah menerima pembagian hasil bukan pinjaman atau talangan," tegasnya.

"Kalau hanya kesepakatan soal jadwal bagi hasil dengan pihak perusahaan terus terang kami tidak percaya lagi, karena sudah dilakukan berulang- ulang bahkan sudah sejak tahun 2012 lalu, beritanya acaranya pun sudah banyak, bahkan saat itu pernah dihadiri kapolres tebo,tapi tetap juga diingkari oleh pihak perusahaan," katanya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya kemarahan petani yang bermitra dengan PT PAH kepada sejumlah oknum pengurus koperasi unit desa (KUD) Olak Gedong Melako Intan (OGMI) yang dianggap telah membuat keputusan diluar apa yang menjadi tuntutan ratusan petani saat aksi unjuk rasa pada 19 Desember 2016, yakni menuntut pembagian hasil sebagaimana perjanjian awal yang sudah disepakati.

Selanjutnya, pada Rabu (4/1/2017) ratusan petani kembali menghentikan seluruh aktivitas PT.PAH (Segel). Penyegelan ini adalah untuk kali kedua kalinya setelah penyegelan yang pertama dibuka oleh sejumlah oknum pengurus koperasi. (p07)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement