Sunday, 18 December 2016

author photo
Dalam pilkada serentak tahun 2017 di Provinsi Jambi penulis teringat dengan kisah fenomenal yang pernah terjadi di Yunani yaitu Perang Troya. Orang Yunani kuno mempercayai Perang Troya sebagai peristiwa sejarah yang terjadi pada abad ke-13 atau 12 SM serta meyakini bahwa Troya terletak di Turki modern di dekat Dardanelles. Sehingga tidak dipungkiri Perang Troya merupakan salah satu mitologi Yunani dan diceritakan di banyak karya sastra Yunani.

Dikisahkan bahwa Perang Troya bermula dari perselisihan antara Dewi Athena, Hera, dan Aphrodite. Setelah itu Paris, melemparkan sebuah apel emas yang disebut Apel Perselisihan yang bertuliskan "untuk yang tercantik". Sehingga, Zeus mengirim para dewi itu kepada Paris dan menentukan bahwa Aphrodite sebagai "yang tercantik" serta berhak memperoleh apel itu. Namun, Aphrodite malah memberikan apel tersebut kepada Helene yang merupakan istri Raja Sparta. Karena ia sangat mencintai Paris begitupun dengan Paris. Paris pun melarikan diri bersama Helen (istri dari raja Spartan) ke Troya.

Raja Sparta pun marah, sehingga perang tidak dapat dihindarkan. Perang terjadi selama 10 tahun sampai akhirnya Troya dikatakan berhasil dikuasai Yunani. Namun ada strategi yang jenius, Raja Sparta/Yunani membangun sebuah kuda kayu ("Kuda Troya") yang sangat besar dengan perut berongga sehingga orang dapat bersembunyi didalamnya. Yunani meyakinkan bahwa itu merupakan penawaran damai sebagai hadiah untuk musuh. "Kuda Troya" kemudian diterima dengan senang hati dan dibawa kedalam kota pertahanan musuh.

Pada saat malam tiba, tentara Yunani yang bersembunyi di dalam perut Kuda lalu turun dan menyelinap ke rumah-rumah. Lalu, mereka melakukan pembantaian (kecuali sebagian perempuan dan anak-anak yang dijadikan budak) dan menghancurkan Trojan tanpa ampun.

Nah, strateginya menarik bukan? tidak dipungkiri dalam Pilkada Serentak di Provinsi Jambi strategi Kuda Troya dipakai namun tidak seekstrim Perang Troya. Karena penulis tinggal di Kabupaten Tebo maka penulis lebih membahas terkait Kuda Troya di Pilkada Tebo. Selain itu, para calon kepala daerah di pilkada tahun 2011 pernah satu Visi dan Misi yang kita kenal Suka-Hamdi namun harus bercerai di pilkada 2017. Disamping itu, dengan cerainya incumbent pada pilkada 2017 tim mereka pun ikut bercerai dan saling mengintip strategi satu sama lain tidak mengherankan Pilkada Tebo menjadi perhatian khusus.

Sebaliknya, strategi pilkada 2011 apabila terus dipakai maka mudah sekali dibaca lawan. Untuk itu, mereka perlu mengembangkan strategi baru. Selain itu, para cakada juga diuntungkan dengan beberapa hal contoh pasangan nomor urut satu diuntungkan karena Masyarakat mengharapkan pemimpin yang lahir dari Kabupaten Tebo, Inginkan Perubahan, dan kekecewaan pemimpin terdahulu.

Sementara itu, Pasangan nomor urut 2 diuntungkan dengan statusnya Incumbent, Berasal dari wilayah yang basis suaranya terbesar, memiliki wakil dari aliran batang hari. Lalu kita melanjutkan ke kaitannya Kuda Troya? Ini kronologinya, bukan hal baru apabila masing - masing tim membuat hadiah dengan mengutus seseorang untuk masuk dalam tim inti lawan guna mengintip strategi lawan. Setelah mereka mengetahuinya lalu mereka memberitahukan kepada tim yang ia bela terutama mencari kesalahan lawan dan isu walaupun belum dinyatakan kebenaranya.

Nah disini kita selaku masyarakat harus jeli memahami kejadian ini, jangan mudah terpancing isu dan berita yang menyudutkan para kandidat. Kita harus lebih fokus ke Visi Misi dan Program Unggulan kandidat karena apabila menjadi kepala daerah yang kita tuntut adalah realisasinya. Lalu masihkah anda percaya dengan tim anda?

Penulis : Slamat Setya Budi
Sekretaris REPELITA (Relawan Pejuang Lintas Kecamatan)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement