Friday, 23 December 2016

author photo
Kelatahan Era Medsos

Oleh : Bahren Nurdin, SS., MA

Beberapa hari terkahir semua orang keranjingan menirukan bunyi klakson bis ‘telolet’.  Ada tidak ada bis yang lewat, semua seakan teriak “Om Telolet Om”. Dunia media social menjadi hiruk-pikuk dengan bunyi itu. Saling bersahutan satu sama lain. Tiba-tiba saja suara klakson bis yang biasa di dengar menjadi laur biasa dan fenomenal. Inilah fenomena ‘telolet’.

Saya menyebutnya ini sebuah kelatahan sosial di media sosial. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI versi Daring) mengartikan kata ‘Latah’:  1. menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2. berlaku seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi); 3. meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Dengan fenomena menirukan bunyi klakson bis ‘telolet’, agaknya definisi latah nomor 1 pas untuk diambil. Artinya, masyarakat media social saat ini sedang ‘sakit saraf.’

Penulis sekelas Robert L. Winzeler bahkan pernah menulis  “Latah in South-East Asia: the History and Ethnography of a Culture-Bound Syndrome”.  Menariknya, Robert menyatakan bahwa ‘penyakit’ ini hanya dimiliki oleh penduduk Asia, terutama Asia Tenggara. Orang Barat tidak memiliki syndrome ini. Jika begitu kelatahan ‘telolet’ sungguh sangat luar biasa karena boleh jadi akan menghancurkan teori Robert ini sebab orang Barat saat ini juga sudah ikut-ikutan latah ‘om telolet om’.

Latah ‘telolet’ manjadi sangat masif ketika beberapa DJ dunia berkicau ‘Om Telolet Om’ di media social mereka. Beberapa berita online merilis nama-nama Disc Jokey (DJ) dunia yang ikut-ikutan latah ‘Om Telolet Om’ di antaranya DJ Snale, Yellow Claw, Marshmello, Zedd, dan The Chainsmokers. Tidak tanggung-tanggung twitan para artis dunia ini menyebar seantaro dunia karena mereka mimiliki jutaan pengikut (followers). Jadilah ‘om telolet om’ tranding topic yang mendunia.

Terlepas dari ‘kelatahan’ social yang terjadi, paling tidak saya bisa memberikan catatan mengenai fenomena ini. Pertama, orang Indonesia kaya kreativitas.  Di seluruh dunia suara klakson kendaraan bermotor telah memiliki standar sendiri. Dengan standar ini maka klakson akan mengeluarkan suara yang sama. Agaknya inilah yang mendorong kreativitas orang Indonesia untuk membuat sesuatu yang berbeda. Hasilnya ‘telolet’. Kreativitas semacam ini sesungguhnya tidak hanya terjadi pada suara klakson tapi juga bisa ditemui pada dinding bak truk. Kita akan menemukan berbagai gambar dan tulisan yang penuh kreativitas. Suatu saat nanti akan ada bak truk yang menjadi tranding topic dunia.

Kedua, budaya klakson. Jika anda pernah berkunjung ke beberapa Negara maju baik di Asia maupun di Eropa, agak susah mendengar suara klakson. Di Negara-negara tersebut, membunyikan klakson merupakan ketabuan. Klakson merupakan cara terakhir untuk memberikan peringatan kepada pengguna jalan lainnya. Namun di negeri ini, klakson menjadi budaya yang ‘memekakkan’.

Ketiga, strategi marketing. Jangan salah, suara klakson yang mendunia tersebut sesungguhnya merupakan salah satu strategi marketing untuk menarik perhatian calon penumpang. Di Indonesia tidak semua penumpang bis naik di terminal. Sebagaian besar naik di pinggir jalan. Nah, untuk menarik perhatian calon penumpang yang sedang menunggu di pinggir jalan, perusahaan bis memodivikasi suara klokson yang khas dan menarik perhatian. Itulah mengapa tidak ada mobil pribadi yang menggunakan klakson ‘telolet’. Tapi agaknya tidak lama lagi travel ke dusun saya akan menggunakan klakson ‘telolet’, hehehe.

Inilah catatan saya melihat fenomena ‘om telolet om’ yang sedang booming saat ini. Apa pun itu, inilah fenomena media social. Inlah kelatahan para penduduk dunia maya. ‘Om telolet Om’….

[Pengamat Sosial Jambi WA: 085266859000]

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement