Saturday, 10 December 2016

author photo
PORTALTEBO.com- Pada umumnya di Indonesia kebanyakan orang menyebut namanya “sepeda ontel” ada juga yang menyebutnya “sepeda jengki”, tapi kalau dikampung saya lebih sering dipanggil “karita gedang”. Apapun itu namanya yang jelas tujuannya sama.

Masih abadi dalam pikiran saya bagaimana perjalanan sejarah yang telah dirintis oleh sepeda ini. Bagaimana sepak terjang perjuangannya diera perjuangan dalam hidup. Apa-apa saja hasil karyanya yang masih ada sampai kini.

Ya, ini adalah sepeda bapak saya (Saidina Ali Alm), Dengan sepeda ini dulu beliau mencari nafkah untuk menghidupi kami sekeluarga. Dulu, waktu itu diera 80an sampai 90an dia mengayuh sepeda ini hampir setiap hari yang jarak tempuhnya sangat jauh belasan kilo meter. Dengan dinamika perjalanan bermacam-macam.

Jalan lintas sumatera 1 km, lalu melanjutkan dengan jalan tanah berbatu lebih kurang 9 km, yang ketika hujan turun jalanan akan licin, kalu panas akan berdebu apabila mobil-mobil perusahaan lalu lalang. Lalu dilanjutkan dengan jalan tanah kecil yang mendaki menurun dengah hutan, menuju kebun karet untuk dipotong (sadap) kira –kira 3 KM.

Sepeda ontel (karita gedang) ini tidak hanya kesatu arah untuk menyadap karet saja, tapi juga digunakan oleh beliau kesemua keperluan, keladang padi (ba umo) ditempat lain yang cukup jauh juga jaraknya, sehingga sepeda ini multipungsi. Mengangkut hasil panen padi untuk dibawa kekampung, untuk narik getah (membawa karet) yang sudah dipanen (mangkit), ojek andalan mak dan keluarga kemanapun saja.

Yang paling saya ingat waktu itu, bapak membuat tempat duduk untuk anak-anak didepannya, dan itulah tempat duduk saya sebagai saksi sejarah hidup ini dimulai. Saya saksikan sendiri bila hujan kami kehujanan, bila panas kami kepanasan. Panas dan hujan itu sudah biasa, hutan tropis dengan dua musim ini sudah bersahabat kok.

Yang paling tidak kami suka itu apabila jalan tanah berbatu saat cuaca panas, dimana mobil-mobil perusahaan lalu lalang yang mengakibatkan debu sepanjang perjalanan, saking kabutnya, jalanan sampai tak terlihat dan sekujur tubuh menguning karenanya, terkadang jiwa ini berontak, subhanallah..!!! tapi apa kata bapak saya, “sabar nak, tutup mulut, tutup muko, debu banyak nian. Tapi jangan tidua, jalan kito masih jauh. Pegang stang karita ko, awas jatuh”.

Saya kecil laksana perangko di amplop, atau kata –kata indah dan bijak dipembuka surat, hehehe. Saking setianya saya, hampir saya tidak pernah absen kemanapun bapak pergi. Begitu susahnya medan, begitu keras dan beratnya perkerjaan, ajaibnya tak ada satu patah kata atau keluhanpun yang keluar dari bibir bapak. Pertanyaanya, Adakah “Super Hero” yang lebih hebat dalam layar kaca dibandingkan lelaki ini? Ntahlah.

Tak terasa waktu berjalan begitu singkat, puluhan tahun silampun telah berlalu. Berkat kerja kerasnya bersama sepeda ontel ini, bapak mampu membangun rumah gubuk untuk kami tinggal, mampu membeli perlengkapan keluarga seadanya.

Luar biasanya lagi ditengah-tengah hidup pas-pasan waktu itu, berkat sepeda ontel ini bapak mampu menyekolahkan anak-anaknya bahkan sampai sarjana. Ayunda saya (Nurul Qolbi Alm), kakanda saya (Ahmad Fadli Alm) mampu menyelesaikan S1 di IAIN Imam Bonjol Padang (saat ini UIN). Waktu itu loh, di era krisis moneter melanda, masa masa paceklik melilit, dan saat saat kemiskinan menjadi teman akrab keluarga kami.

Terima kasih sepeda ontel, saya banyak belajar bersamamu bagaimana mengais rezeki, bersahabat dengan alam sekitar. Perjalanan yang luarbiasa dan mengesankan.

Terima kasih bapak, bersamamu saya belajar kepahitan hidup, gigihnya perjuangan. Belajar akan pengorbanan yang tulus, dan setia dalam tanggung jawab. Engkau sosok lelaki hebat, meskipun telah tiada saya pastikan engkau tidak akan pernah tergantikan.

Terima kasih atas rentetan-rentetan sejarah telah engkau ukir. Kini kami telah tumbuh besar sesuai dengan harapan-harapan mu dulu. Kami tahu perjuanganmu belum selesai, regenerasi itu telah engkau titipkan kepada kami. Lalu wanita terbaik mu ini (Mak Solehah) akan selalu kami jaga serta bahagia. Dan engkaupun sepertinya tidak akan pernah mati, karena darah mu mengalir deras ditubuh ini...

Semoga Bermanfaat, Wasssalam...
Tanjung, 10 Desember 2016

Penulis, Arsanur Rahman, S.Pd.I, M.Pd.
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement