Wednesday, 30 November 2016

author photo
PORTALTEBO.com - Keluhan kelompok Suku Anak Dalam (SAD) Sungai Dahan, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, langsung ditanggapi oleh Pemkab Tebo. Melalui Dinas Sosnakertran Tebo, Pemkab Tebo memberikan bantuan 50 paket sembako kepada 50 KK SAD Sungai Dahan.

"Ada 50 KK (SAD) disana, jadi masing-masing KK mendapat 1 paket. Selasa (29/11/2016) kemarin kita serahkan, "ujar Alfi Rinaldi dikonfirmasi PORTALTEBO.com sebelum rapat paripurna di kantor DPRD Tebo, Rabu (30/11/2016).

Bantuan tersebut, lanjut Alfi, langsung diserahkan kepada warga SAD di lokasi pemukiman SAD Sungai Dahan. "Kita serahkan sesuai permintaan dan arahan dari pendamping mereka," kata dia.

"Semoga bantuan sembako itu bermanfaat bagi warga SAD," tukasnya.

Penyerahan paket sembako ini dibenarkan oleh Ahmad Firdaus pendampingan SAD di Tebo. "Iya, kemarin saya langsung yang mendapingi penyerahan bantuan paket sembakonya,"ucap Fir sapaan akrab Ahmad Firdaus.

"Bantuan paket sembako itu memang sangat diharapkan. Mereka (SAD) sangat terima kasih kepada Pemkab Tebo yang telah memperhatikan dan membantu mereka,"tuntasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, semenjak adalah larangan membuka lahan dengan cara di bakar, Suku Anak Dalam (SAD) Sungai Dahan, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, tidak bisa bertanam padi. Pasalnya, mereka (SAD) tidak berani membersihkan lahan sawah mereka untuk di tanam padi.

"Mereka kan biasanya membersihkan lahan dengan dibakar. Senjak dilarangan, mereka tidak berani membersihkan lahannya. Jadi mereka tidak bisa bertanam padi lagi, "kata Ahmad Firdaus pendampingan SAD di Tebo, Selasa (22/11/2016).

Dikatakan Fir sapaan sehari-hari Ahmad Firdaus, saat ini lahan sawah warga SAD sudah ditumbuhi ilalang dan tanaman liar. Sementara, mereka hanya tahu cara membersihkan lahan tersebut dengan cara dibakar.

"Kalau tidak dibakar, ya ndak bisa dibersihkan. Kalaupun dibersihkan tampa dibakar, yan palingan semampu mereka. Itu pun tidak sampai 1 ha, "jelasnya.

"Kalau di bakar kan sisa pembakaran bisa tuk penyubur tanah penganti pupuk. Dari tahun-tahun kemarin juga mereka seperti itu (membersihkan lahan dengan cara dibakar)," kata Fir lagi.

Karena tidak bisa bertanam padi, lanjut Fir, saat ini pun warga SAD terancam kelaparan. Pasalnya, beras atau padi hasil panen tahun kemarin sudah habis.

Atas kondisi itu pun, Fir mengaku sangat mengganggu program pendampingannya terhadap warga SAD. Pasalnya, saat ini warga SAD dampingannya itu harus berjuang menahan lapar.

"Jujur, kemarin-kemarin pendampingan sudah mulai nyaman. Mereka (SAD) sudah mau menetap dan sudah mau diarahkan. Tapi sekarang mulai resah kembali karena urusan perut (makan), "beber Fir sambil mengatakan, untuk bisa bertahan hidup warga SAD saat ini terpaksa makan gadum (makanan dengan bahan baku ubi racun).

Untuk itu, Fir minta kepada Pemkab Tebo melalui intansi terkait agar memperhatikan kondisi SAD Sungai Dahan dengan cara memberikan bantuan sembako menjelang mereka bisa kembali bertanam padi.

"Kalau sudah menyangkut urusan perut, tidak bisa ditunda. Sebaiknya mereka harus segera diberi bantuan. Jangan sampai nanti mereka seperti dulu, kembali liar dan tidak mau menetap, "katanya mengakhiri. (p08)


This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement