Wednesday, 9 November 2016

author photo
PORTALTEBO.com- Demo 4 November yang lalu menjadi babak baru gerakan yang mengatasnamakan agama di indonesia. Demo yang bertujuan untuk menuntut agar calon gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Cahaya purnama atau Ahok diadili karna dianggap menistakan agama awalnya berlangsung damai akan tetapi berakhir dengan kericuhan.

Dalam tulisan ini, saya tidak membahas tentang apakah ahok benar atau salah dan apakah gerakan demo ini benar atau salah, akan tetapi yang akan saya bahas tentang kelompok islam yang moderat dan kelompok islam yang radikal, dimana dalam gerakan 4 November ini sangat jelas wujud dan posisi dari kedua kelompok ini.

NU dan Muhammadiyah berada pada kelompok moderat yang tidak ikut serta dalam aksi sedangkan FPI dan HTI menjadi panglima dalam gerakan tersebut.

Terlepas dari apakah istilah itu berkonotasi negatif, pejoratif maupun positif terdapat dua istilah yang menggambarkan sikap pengelompokan umat islam indonesia kedalam dua kelompok atau istilah mainstream, yakni islam moderat dan islam radikal atau ekstrimis.

Di indonesia misalnya tidak semua umat islam indonesia menerima trikotomi kategorisnya Clifford Geertz yakni Islam santri, priyayi dan abangan.

Sebagian dari kelompok radikal adalah mereka yang sama sekali menolak pengelompokan itu,  biasanya salah satu argumentasi penolakan ini bahwa bagi mereka islam hanya satu, pengelompokan umat islam dianggap tidak lebih dari sekadar kepentingan non muslim dan para orientalis saja untuk memecah belah umat islam.

Kelompok ini cenderung mengabaikan adanya organisasi, gerakan atau kelompok islam yang secara ideologis maupun sosiologis menyatakan bahwa islam mereka berbeda dari varian islam lainnya, mereka menganggap versi islam merekalah yang benar, sedangkan islam lainnya salah dan tidak diterima disisi tuhan.

Sebagian dari kelompok ini bahkan tidak sampai disitu saja, mereka merasa berkewajiban untuk meluruskan kelompok yang tidak sefaham dengan mereka, bahkan sebagian dari kelompok ini siap untuk menghalalkan segala cara termasuk kekerasan.

Kelompok moderat adalah mereka yang dapat menerima pengelompokan seperti diatas. Dus, adanya istilah islam radikal dan islam moderat tidak mengganggu keislaman mereka. Hanya saja kelompok ini tidak sepenuhnya sependapat tentang kriteria kelompok tertentu, misalnya kriteria islam moderat.

Bagi sebagian mereka karakter utama muslim moderat adalah mereka yang bersedia bekerjasama dengan barat atau non muslim, atas dasar itulah mengapa kelompok radikal atau ekstrimis menjadikan barat dan non muslim sebagai musuh.

Secara historis sesungguhnya istilah muslim atau islam moderat, fundamentalis, radikal dan sejenisnya sudah muncul dalam kajian islam sejak lama, namun istilah islam moderat versus islam radikal atau ekstrimis dan jihadis yang berkembang saat ini muncul setelah tragedi pengeboman WTC di New York tahun 2001, Baik masyarakat muslim atau masyarakat barat terpecah dalam melihat, menilai serta menuduh siapa pelaku tindakan keji yang membunuh hampir tiga ribu warga sipil itu.

Jika dihubungkan dengan indonesia maka jelas siapa kelompok kelompok yang penulis maksud. Kelompok radikal di indonesia sudah bermetamorfosis menjadi islam transnasional dimana mereka bukan lagi menjadi teroris akan tetapi ingin berbuat makar dengan mengusung visi khilafah islamiyah.

Ini tentu merupakan ancaman terbesar indonesia saat ini karna mengancam keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa. Maka dari itu kita segenap bangsa dan rakyat indonesia harus waspada, jangan sampai negeri kita seperti timur tengah yang porak poranda akibat perang berkepanjangan.

NKRI harga mati jika kita tetap ingin hidup dengan aman damai, Gemah Ripah Loh Jinawi, Thoyyibatun Warabbun Ghafur. Wallahua'lam.

Penulis adalah Sahabat Afrioga Felmi, Ketua Umum PKC PMII Jambi, dan juga Pengurus PP GP Ansor.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement