Wednesday, 23 November 2016

author photo
Masjid Sungai Keruh pada masa lampau 
1. Nama Desa Tercetus Akibat Perang Rajo Jambi dengan Rajo Palembang

Dari Kota Muara Tebo letak Desa Sungai Keruh ini yaitu sekitar dua puluh lima kilometer. Dan untuk sampai kesana dapat menggunakan hampir semua jenis kendaraan darat. Sebab Desa Sungai Keruh ini terbentang di Kecamatan Tebo Tengah dengan kondisi desa yang membelah oleh Jalan Lintas Tebo Bungo.

Desa yang saat ini sedang disebut-sebut sebagai kiblat sepak bola Kabupaten Tebo ini diperkirakan memiliki luas wilayah sekitar 3.400 hektare. Dan permukaan tanahnya berupa dataran dengan produktifitas sedang.

Penduduk di desa inipun sudah mencapai angka dua ribuan, namun sayangnya di desa ini belum ditemukan sarana lembaga pendidikan sekolah menengah atas (SMA), yang ada hanya Sekolah dasar (SD), atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan juga SMP. Meskipun demikian anak didesa setempat tetap termotivasi untuk mengecam dunia pendidikan meskipun harus keluar daerah.

Tidak jauh dari simpang ilir Desa Sungai Keruh ada sebuah dusun yang merupakan tempat berdiam perangkat desa dan pengurus adat. Sekitar tiga ratus meter dari simpang tersebut berdiri rumah panggung yang khas melayu jambi. Dan disalah satu rumah tersebut berdiamlah seorang Ketua Adat Desa yang bernama  Mustafa Kamal.

Pria kelahiran 1947 ini telah memiliki tiga orang anak, dan saat ini dirinya ditunjuk oleh masyarakat sebagai petua desa yang mengurusi soal adat istiadat. Meskipun cukup tua, Kamal terlihat masih semangat dan senang berkomunikasi dengan warga maupun pendatang yang menjumpainya.

Dirumahnya yang cukup tua, Kamal menuturkan berbagai kisah dan sejarah tentang tanah kelahirannya ini. Dimana dari cerita orangtua dan moyangnya yang disampaikan turun temurun. Kata ‘Sungai Keruh’ yang saat ini dinamakan kepada desa tersebut memiliki sejarah yang merupakan kebiasaan penduduk setempat.

Dimana desa yang dahulunya pada masa penjajahan Belanda adalah merupakan Ibu Kota Marga Petajin Ulu ini memiliki sekumpulan masyarakat yang hidup bermukim dengan pola mata pencaharian pertanian. Namun ditengah waktu berlalu, sekumpulan insan ini terpaksa harus melarikan diri hingga ke hulu Sungai Batanghari.

“Pado waktu itu, antaro Rajo Jambi dengan Rajo Palembang  terjadi perang. Akibat kejadian itu penduduk banyak ngungsi, termasuk penduduk desa kamiko. Pado umumnyo lari ngungsi hinggo limo kilometer dari desakokearah hulu sungai,” ujarnya Mustafa Kamal sambil menghisap rokoknya.

Karena banyaknya penduduk yang mengungsi maka di tempat persembunyian tersebut mereka berupaya bertahan hidup. Tentunya seperti layaknya kita saat ini mereka melakukan berbagai aktivitas kehidupan untuk memenuhi makan maupun minum.

Sehingga  penduduk yang bermukim di huluan tersebut menjadikan sungai sebagai sarana utama mereka dalam melanjutkan kehidupan. Dan pada suatu waktu pengungsi tersebut beramai-ramai mencuci beras disungai, sungai itupun menjadi keruh akibat aktivitas mereka.

Peristiwa itupun dijadikan penduduk sebagai nama desa, yaitu dengan sebutan ‘Desa Sungai Keruh’. Hingga kinipun nama desa tersebut tetap dipakai dan asal mulanya terus diceritakan para petua maupun orangtua kepada generasi mereka.

2. Perlawanan Tiga Panglima Terhadap Penjajahan Belanda

Desa Sungai Keruh yang dahulunya dijadikan sebagai Ibu Kota Marga Petajin Ulu, dari dahulu memang dikenal dengan type desa pertanian sawah (Dps) karena pada tahun 1989 sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pokok disektor pertanian sawah atau 36,87 persen dari jumlah penduduknya.

Selain itu, seperti yang dilakukan penduduk Desa Sungai Keruh pada saat ini yang tidak ketinggalan umumnya dahulu penduduk juga bergerak dalam bidang perkebunan karet, kopi dan kelapa disusul penduduk yang bergerak dalam mata pencaharian jasa dan perdagangan.

Namun meskipun demikian, sudah sejak awal bahwa penduduk Desa Sungai Keruh dikenal sebagai petani sawah kini justru terlihat puluhan hektar sawah yang terletak dibagian wilayah Dusun Gajah Mati tidak tersentuh oleh pekerjaan tangan para petani sawah. Hal tersebut terjadi dikarenakan sistem pengairan yang tidak optimal.

Adapaun status Desa Sungai Keruh ini juga pernah ditetapkan lagi dalam pembagian wilayah administrasi dalam penindak lanjutan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi Nomor 501 tahun 1988 pada tanggal 12 Desember 1988 yang berisikan tentang penyatuan dan penghapusan desa dalam propinsi tingkat I jambi.

Dimana dalam hal itu dikatakan telah disatukan antara Desa Simpang Sungai Keruh dengan Desa Sungai Keruh yang ditetapkan dengan sebutan nama Desa Sungai Keruh yang pusat penyelenggaraannya oleh pemerintah Desa Sungai Keruh. Dalam penyatuan tersbeut juga dibarengi dengan penyusunan organisasi pemerintahan, kepala urusan pembangunan dan kepala urusan umum, yang mana saat itu dibantu oleh empat kepala dusun dan terdiri dari enam RT.

Namun dibalik perkembangan yang secara tahap bertahap dilakukan penduduk dan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk Desa Sungai Keruh ini, banya hal yang tidak bisa dilupakan. Dimana dahulunya hidup beberapa tokoh yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan tanah kelahiran mereka ini.

Dimana mulanya sebagai Ibu Kota Marga Petajin Ulu, Desa Sungai Keruh pada masa waktu penjajahan Belanda. Masyarakat biasa maupun tokoh-tokoh desa tidak tinggal diam, mereka terus melakukan perlawanan untuk mengusir prajurit Belanda. Dimana perlawanan tersebut di koordinir oleh tiga panglima ternama.

Tidak asing lagi dikupung penduduk Desa Sungai Keruh, bahkan salah satu nama panglima tersbeut saat ini melekat pada nama lapangan sepak bola Palimo Usuh Desa Sungai Keruh. Dimana ketiga nama tersebut yaitu adalah  Panglimo Usuh, Panglimo Bontak, dan Panglimo Syawal.

Dikatakan Mustafa Kamal, karena ketiga panglimo tersebut melakukan perlawanan kepada Pemerintah Belanda. Maka oleh Belanda dengan politik penjajahannya Panglimo Usuh, dan Panglimo Bontak berhasil ditangkap dengan tipu daya. Kemudian kedua panglimo tersebut dibuang ke daerah Cilacap Jawa Tengah.

Sedangkan Panglimo Syawal terus melakukan perlawanan walaupun kedua temannya telah ditangkap dan dibuang. Namun dengan gagah perkasa tanpa patah arang serta merta semangat juang yang membara akhirnya Panglimo Syawal gugur sebagai kusuma bangsa.

“Setelah itu diceritakan turun temurun bahwa kedua panglimo yang ditangkap dan dibuang ke Cilacap Jawa Tengah tidak lagi terdengar kabarnya, dan Panglimo Syawal meskipun tanpa kedua temannya tetap melawan dan akhirnya gugur,” pungkasnya.

Peristiwa yang terjadi disekitar tahun 1916 inipun kini terus diceritakan warga kepada generasinya, bahkan tercantum dalam sebuah makalah Kepala Desa Sungai Keruh Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Daerah Tingkat II Bungo Tebo dengan judul Dinamika Pembangunan Masyarakat Desa Sungai Keruh.

3. Pasirah Terakhir Dilantik Pada Kemerdekaan Republik Indonesia

Bertitik tolak pada potensi desa dan permasalahan umum, dimana penduduk dahulu mendapat kesulitan untuk menggali sumber daya alam. Dan yang menjadi penyebab utamanya yaitu masih rendahnya tingkat kepadatan penduduk, serta minimnya sumber daya manusia dalam mengejar kesejahteraan masyarakat. Inipun hingga kini  terus menjadi  PR para pemimpin desa ini.

Tidak hanya itu, seperti yang ditulis Mustafa Kamal dalam Makalah Dinamika Pembangunan Desa Sungai Keruh pada tahun 1989 dimana ada permasalahan yang sangat penting. Dalam bidang pemerintahan dahulunya selain kendala perangkat desa yang pendidikannya minim, juga sarana prasarana yang tidak memadai kerap menjadi persoalan penghambat pembangunan.

Namun dibalik itu semua, Mustafa Kamal dan beberapa perangkat desa lainnya tetap terus berjuang membangun desa. Dimana upaya yang telah dilakukan yaitu mulai dari melakukan pembinaan organisasi lembaga-lembaga desa dan tidak lupt dari memfingsikannya  sesuai aturan yang berlaku seperti yang dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya.

Dan dari usaha yang dilakukan dari turun temurun dengan melahirkan pemikiran maupun lainnya, pada tahun 1989 desa ini akhirnya mencapai usahanya dengan telah dimilikinya RPJMD dan RPTD sebagai penjabaran untuk setiap tahunnya. Tidak hanya itu, bahkan upaya yang dicapai dalam bidang pemerintahan saat itu adalah berupa melengkapi sarana kerja pemerintah desa, pendataan berupa demografi, dan penerusdan pembangunan yang telah dilakukan sebelumnya.

Dibalik semua upaya dan usaha tersebut tentunya tidak terlepas dari semua jasa para tokoh maupun masyarakat yang telah ikut serta merta dalam membangun desa ini. Terutama mereka yang telah memimpin desa setempat pada masa-masa dahulu yang penuh dengan kesulitan. Dimana segala hal masih dalam keterbatasan, namun meskipun demikian sebagai beban dan amanah, segala sesuatu mereka lakukan dengan segala kemampuannya.

Seperti yang terjadi pada sebelum kemerdekaan Rebuplik Indonesia. Dimana Desa Sungai Keruh yang dahulunya menjadi Ibu Kota Marga Petajin Ulu ini memiliki enam pasirah dalam perjalanan pembangunan pada masa waktu itu. Dan wilayah yang menjadi kekuasaan Marga Petajin Ulu pada saat itu dalah dimulai dari arah hulu sampai ke Desa Sungai Alai dan kearah Hilir sampai ke Desa Ramaji saat saat ini.

Pertama sekali yang menjadi pasirah yaitu adalah dikenal dengan nama Pasirah Keriting, kemudian dilanjutkan Pasirah Satid, Pasirah H Majid, Pasirah Saleh, dan Pasirah H Abdul Hamid, serta yang terakhir Pasirah H Hasan yang dilantik bertepatan dengan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

“Pasirah terakhir waktu itu dilantik tahun 1945 bertepatan dengan kemerdekaan Negara kito ko, dan mulainyo ado kepalo desa (saat itu pemimpin desa disebut Lurah,red) yaitu pada tahun 1974,”ujar Mustafa Kamal.

4. Sungai Keruh Pernah Dipisah Menjadi Dua Wilayah

Tidak hanya tenaga, darahpun rela dikorbankan. Itulah yang dilakukan para leluhur maupun pendahulu di desa yang terletak dihiliran Kecamatan Tebo Tengah ini. Namun dibalik itu semua kini masyarakat dapat menghirup betapa segarnya angin kemerdekaan pada saat ini.

Beranjak dari perjuangan Tiga Panglimo yang terus melakukan perlawanan yang berakibat kepada kedua diantaranya harus mengalami pengasingan, dan gugur saat bertempur hingga sampai kepada tahap demi tahap estafet pembangunan yang dilakukan oleh enam pasirah. Akhirnya kini desa yang sempat dipecah menjadi dua ini kembali disatukan oleh pemerintah.

Kontras terlihat saat ini setidaknya masyarakat Desa Sungai Keruh telah memiliki berbagai pengetahuan dalam melanjutkan kehidupan dengan mengolah sumber daya alam disekitarnya. Dimana saat ini penghasilan perkebunan karet maupun sawit masih didapatkan secara kontinu dengan jumlah yang cukup memuaskan. Apalagi sudah ditemukan sebuah perusahaan yang beridiri dan menyerap banyak tenaga kerja.

Namun dibalik itu semua. Suka berubah menjadi duka dan lara, dimana musibah besar melanda dan membuat puluhan bahkan ratusan penduduk harus mengungsi. Tepatnya pada tahun 1955 di Daerah Jambi terjadi musibah bencana banjir yang besar. Hal itu membuat sarana prasarana mulai dari rumah penduduk, persawahan dan perladangan  serta jalan-jalan yang menghubungkan dari dan ke Muara Bungo atau Jambi tenggelam rata oleh air.

Akibat bencana besar itu semua pembangunan dan hasil usaha masyarakat menjadi rusak. Dan pemerintah pun untuk melakukan bantuan kepada korban sempat terkendala akibat kekurangan bahan. Dimana bantuan yang disediakan tidak mencukupi. Maka pada akhirnya entah bagaimana untuk memudahkan, Sungai Keruh akhirnya dibagi menjadi dua desa.

“Akibat itu desa ini dibagi menjadi dua.  Yaitu dengan nama Desa Simpang Sungai Keruh dan Desa Sungai Keruh,” ujar Kamal.

Lagi-lagi, dengan tidak putus asa pemerintah dan masyarakat usai mengalami musibah banjir ini kembali melakukan berbagai usaha untuk membangun desa. Seperti yang ditulis Mustafa Kamal saat menjabat pada tahun 1986 hingga 1987 sebagai Kepala Desa setempat bahwa untuk melakukan pembangunan mereka membuat Rencana Pembangunan Tahunan Desa (RPTD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Dan saat itu yang diupayakan adalah pembangunan disektor perekonomian dengan merencanakan pembuatan jalan lingkar, roil dan jembatan serta rehabilitasi jalan desa sepanjang 5,5 Kilometer. Bahkan pembangunan saluran air sawah dan pagar pekaranagan yang dikerjakan bergotong royong.

Tidak hanya itu, sektor Sosial Budaya pun berhasil dicapai dengan berhasilnya melakukan pembangunan tiga buah langgar atau musholla dengan ukuran 10 X 10 Meter yang berlokasi di tiga dusun. Dna dana yang digunakan saat itu adalah sebesar Rp 15 Juta. Bidang pendidikan juga dibenahi dengan melakukan rehab madrasah,  kemudian untuk keamanan yaitu dengan melakukan pembangunan pos kamling.

Dan diluar dugaan. Ditengah-tengah roda kehidupan pada masa itu, Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya desa yang tadinya dibagi menjadi dua desa ini akhirnya disatukan kembali. Yang mana sebagai tindak lanjut surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi Nomor 501 Tahun 1988 Tanggal 12 Desember 1988 yang menyatakan penghapusan dan penyatuan desa dalam Propinsi Daerah Tingkat I Propinsi Jambi, maka Desa Simpang Sungai Keruh dan Desa Sungai Keruh  menjadi satu desa dengan nama Sungai Keruh hingga kini.

Terjadinya hal tersebut, sebagai motivasi dan dengan semangat yang besar akhirnya pembangunan yang telah dilaksanakan seluruh warga Desa Sungai Keruh menjadi perhatian semua publik. Bahkan pada tahun 1989 desa ini terpilih menjadi juara dalam perlombaan Desa Tingkat Propinsi.

5. Menjadi Kiblat Sepak Bola, Bahkan Jadi Desa Terbaik Di Propinsi Jambi

Ditengah derasnya arus problematika di tubuh PSSI saat ini sedikitpun tampaknya tidak membuat patah arang masyarakat Desa Sungai Keruh untuk terus berkarya dan meningkatkan sumber daya manusianya dalam menyelami kancah dunia persepakbolaan. Hal itupun dibuktikan dengan telah berhasilnya Sungai Keruh menelurkan pemain muda yang mampu mewakili Propinsi diajang Nasional.

Dengan keberhasilan Nazaruddin(14), Syargawi(14), Muhammad Trisno(14) membawa nama Tebo ke ajang Propinsi sekaligus bertarung di ajang nasional dalam membela kesebelasan Propinsi Jambi hingga telah datangnya tokoh wasit terbaik Indonesia, Jimmy Napitupulu ke desa ini. Kini menjadi tonikum dan motivasi yang besar bagi masyarakat setempat untuk terus mendorong dan mendukung eksistensi pesepakbolaan di Sungai Keruh.

Tidak dapat dipungkiri, Hamdi sebagai wakil bupati Tebo pun mengakui hal tersebut. Dimana PSSI pun yang tadinya sempat dikarateker juga mengakui bahwa Sungai Keruh adalah bentuk nyata kiblat sepak bola saat ini. Disana telah telah terbentuk proses pembinaan yang terus dilakukan secara kontinu. Dan meskipun sempat mengalami kekurangan, tapi dengan semangat kini hampir tujuh puluh pelajar terus melakukan latihan rutin setiap minggu.

Bahkan sempat tercetus bahwa dengan telah adanya kondisional pelajar yang tekun mengikuti latihan di lapangan Panglimo Usuh setiap minggunya, meskipun dengan sarana dan prasarana sealakadarnya saja masyarakat setempat memiliki cita-cita besar untuk mewujudkan latihan rutin tersebut menjadi sekolah sepak bola.

Secara khusus persepakbolaan di Sungai Keruh kini menjadi salah satu sarana yang maksimal dalam mempromosikan keberadaan mereka, dan setiap usaha maupun prestasi yang diukir menjadi langkah awal menuju kejayaan dan kesuksesan yang jauh lebih memuaskan kedepannya, namun disadari hal itu juga akan sulit untuk dicapai dengan tanpa adanya dukungan semua pihak maupun finansial yang memadai.

Jauh memandang kebelakang, ternyata tidak hanya hal itu saja yang berhasil dilakukan masyarakat setempat. Melainkan pada tahun 1989/1990 desa ini juga menjadi desa terbaik di tingkat Propinsi Jambi. Bukan karena bangunan yang megah, bukan karena ramai, dan juga bukan karena sebuah kegiatan besar yang berlimpah ruah dananya. Tapi karena keberhasilan pembangunan desanya.

Hal itu diraih karena Sungai Keruh pada masa itu telah memiliki program pembangunan yang mantap dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengha Desa (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Tahunan Desa (RPTD). Dan program pembangunan itu mereka bentuk dari hasil musyawarah warga masyarakat lewat LKMD dan lembaga fungsional lainnya.

Pembangunan yang dilakukan pun tidak hanya sebatas fisik saja, tapi pemberdayaan sumber daya manusia juga menjadi target utama. Dan itu dilakukan melalui lembaga kemanan masyarakat desa (LKMD) yang telah mampu meenyusun perencanaan, pelaksanaan, dan menggerakkan peran aktif seluruh masyarakat dalam merealisasikan program pembangunan desa.

Bahkan Tim Penggerak PKK Desa Sungai Keruh yang berisikan ibu-ibu telah berhasil saat itu melaksanakan intruksi meneteri dalam negeri nomor 10 tahun 1980 tentang pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan terlaksananya sepuluh program berupa Program Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila, Program Gotong Royong, Program Sandang,  Program Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga, Program Pangan, Pendidikan dan Ketermapilan, Kesehatan, menegmbangkan kehidupan berkoperasi, dan Lingkungan hidup serta program perencaan sehat.

Adapun pada saat itu telah terbentuk Lembaga Gotong Royong yang diberi nama Dasawisma dengan jumlah anggota tujuh puluh orang, dan Arisan sebanyak tiga puluh orang, serta Jimpitan sebanyak empat puluh orang. Sedangkan koperasi yang ada yaitu hanya satu dengan keberadaannya yang aktif dalam bentuk jenis kredit simpan pinjam.

Tidak hanya itu, yang menjadi faktor pendukung keberhasilan pembangunan desa ini yaitu dikarenakan adanya keterbukaan para pemimpin dan sifat kegotongroyongan yang tinggi dari masyarakat yang telah dapat di wujudkan secara nyata, sehingga segenap warga masyarakat ikut merasa memiliki dan bertanggungjawab.

Dan kebersamaan inipun maka keberhasilan Desa Sungai Keruh tercapai dalam melaksanakan pembangunan desa. Diantaranya yaitu telah terpilih sebagai juara lomba P2W-KSS, dan juga telah pernah dinilai oleh tim prasyamsah pusat sebafai gambaran situasi desa dengan keberhasilannya didalam daerah tingkat I Propinsi Jambi dan tepatnya pada tahun 1989/1990 Desa Sungai Keruh telah terpilih sebagai juara pertama perlombaan desa tingkat Propinsi Daerah Tingkat I Jambi.

6. Surga Disungai Keruh, Ada Tanah Layak Konsumsi

Dari sekian banyak keunikan yang di miliki oleh Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung ini, tidak terlewatkan Desa Sungai Keruh yang hingga kini masih menyimpan berbagai budaya maupun hal-hal yang menarik. Bahkan bukti kekuasaan tuhan pun dalam menghendaki segala hal di pertunjukkannya kepada masyarakat desa yang dulunya sebagai pusat Kota Marga Petajin Ulu ini.

Disatu sisi tanah saat ini sulit didapatkan karena harganya yang sangat mahal, tidak berbeda bagi para pengerajin batu-bata. Dimana keberadaan tanah mereka anggap sebagai emas yang harus dikerjakan dan dijadikan bahan pokokbangunan, sehingga dari pekerjaan tersebut mereka mendapatkan uang dalam memeuhi kebutuhan hidup.

Berbeda dengan Sungai Keruh. Sepintas didengar seolah-olah seperti surga saja. Sebab hingga kini masyarakat setempat masih menikmati keberadaan tanah yang bisa dimakan dan tanah tersebut kini disebut sebagai ‘tanah ampo’. Entah apa mulanya maka diberikan nama sedemikian. Namun pastinya tanah ini dapat dikonsumsi layaknya makanan berupa dodol atau jenang yang kerap kita temukan pada hari lebaran.

Tidak jarang para ibu hamil di desa setempat kerap ngidam makan tanah ampo ini, dan tanpa susah payah sang suami mereka dapat memenuhi permintaan tersebut. Sampai saat ini dikatakan warga setempat bahwa tanah tersebut memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu adalah sebagai obat mencret.

“Tanah Ampo ini memiliki warna yang unik, dan rasanyapun ada sekitar tiga macam,” ujar Kamal.

Tidak ubah seperti dodol, tanah tersbeut memiliki warna putih kecoklatan. Persis seperti dodol yang setengah matang. Namun bedanya tanah tersebut tidak lengket. Bahkan rasanya yang tiga macam tersebut mengandung rasa manis dan lemak.

“Bedanya rasa tanah itu tergantung kita mengambil yang mana, dan warnanya ada yang putih kecoklatan terang dan ada juga yang agak putih kecoklatan gelap. Anehnya tanah ini tidak pernah habis jika diambil,” terangnya.

Ajaib, setiap kali warga mengekuk (ambil,red) tanah tersebut. Meskipun dilakukan oleh banyak orang tapi tanah ampo sama sekali tidak habis. Melainkan justru akan timbul dengan sendirinya secara perlahan-lahan. Dan tidak jarang warga kerap mengambil hingga berbaskom-baskom.

Banyak cara mereka untuk menikmati tanah ampo ini. Ada yang sengaja memanasakannya diatas tungku hingga berhari-hari, dan tanah tersebut akan kering denmgan sendirinya. Serta mengeluarkan bau wangi yang sangat nikmat. Dan adapula yang menikmatinya dengan caradiiris dan dijemur hingga kering dibawah terik matahari.

“Tanah itu dimakan sambil nonton atau ngobrol dirumah enak nian. Apalagi pakai kopi. Gurih dan lemak nian rasanya,” ujarnya.

Dan segelintir kisah dari cerita asal mula tanah ini, dikatakan Kamal bahwa konon seorang rajo diwilayah setmpat sengaja ingin membuat dodol. Namun Rajo dari Palembang dating menyerang kediaman tersebut. Dan pada saat itu juga banyak dodol yang tumpah. Dan tanah Ampo ini diduga adalah merupakan dodol-dodol yang tumpah tersebut.

“Letak tanah Ampo ini di dekat Sungai Ulek. Tidak jauh dari Bukit Serpih. Tepatnya di seberang Sungai Batanghari bertepatan dengan Sungai Petepatan,” ujar Kamal terkagum-kagum.(*)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement