Thursday, 6 October 2016

author photo
Petani yang tergabung dalam KUD Olak Gedong Melako Intan (OGMI) saat melakukan aksi demo di PT PAH terkait bagi hasil 
PORTALTEBO.com - Menurut penilaian Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Tebo, bagi hasil terhadap petani mitra perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Persada Alam Hijau (PAH) yang sahamnya dibeli oleh PT Golden Plantation (Goll Tbk), belum bisa dilakukan. Alasannya, karena kurangnya perawatan kebun kelapa sawit oleh pihak perusahaan sehingga menyebabkan  masa panen terlambat.

"Karena tidak dirawat makanya masa panen terlambat. Dari hasil penilaian kebun yang kita lakukan beberapa waktu lalu ditemukan kondisi kelapa sawit masih banyak semak belukar, sehingga PT PAH memang layak disebut perkebunan kelapa sawit dengan tipe kelas C," tutur Supadi, kepala Disbun kepada sejumlah wartawan.

Dia mengatakan terkait hal tersebut pihak Disbun tebo sudah melakukan koordinasi dengan PT PAH. "Kita sudah koordinasi, penjelasan dari pihak perusahaan kurangnya perawatan kebun tersebut karena divisit anggaran," sebutnya.

Pernyataan Kadisbun Tebo tersebut dianggap petani mengada- ada dan terkesan membela pihak perusahaan.

"Pembagian hasil kebun sawit masyarakat yang rata- rata sudah berusia 7 tahun tersebut bukan tak sesuai, tapi belum ada sama sekali, kalau tidak sesuai berarti petani mitra PT PAH yang jumlahnya kurang lebih 950 orang tersebut masih menerima hasil, faktanya hasil itu tidak diterima sama sekali," tegas Baihaki, salah satu petani, Kamis (6/10/2016).

"Yang diterima masing- masing petani sebesar 16 ribu per hektar itu dana talangan alias pinjaman bukan pembagian hasil, jadi tolong Kadisbun jangan mengada- ada, kalau seperti ini, nampak jelas kalau Kadisbun bela perusahaan," ujarnya.

Dikatakannya bahwa soal keterlambatan panen seperti yang dikatakan Kadisbun Tebo itu tidak benar, karena sejak tahun 2011 PT PAH sudah panen, meskipun saat itu masih buah kastrasi tapi TBS sawit tersebut sudah dijual alias dijadikan uang dan juga sudah disepakati akan diberikan kepada masing- masing petani saat usia kelapa sawit berumur 49 bulan (Tahun 2013, red).

"Sampai kini belum ada realisasinya, sedangkan semua petani sudah tahu kalau hasil panen TBS sawit PT PAH sejak awal tahun 2013 per harinya minimal 4 truk atau sedikitnya 20 ton per hari dan itu terus berlangsung hingga hari ini," terang Baihaki.

"Jadi apa dasar disbun tebo mengatakan kalau masa panen PT PAH terlambat? Saya minta  Kadisbun Tebo jangan asal bunyi," tegasnya.

"Kalaupun memang kebun itu tidak dirawat artinya itu kelalaian perusahaan bukan kesalahan petani, kenapa mesti petani yang jadi korban. Untuk  masalah divisit anggaran dan apapun alasannya itu bukan urusan kami. Yang terpenting keluarkan apa yang menjadi haknya petani sesuai perjanjian awal," tandasnya. (p07) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement