Saturday, 15 October 2016

author photo
Orang Rimba dan Gubernur Jambi 

Dengan hormat,
Bersama ini besar harapan semoga kita semua sehat dan selalu dalam Lindungan Allah SWT,  Amin!

Pak Gubernur,
Kemarin Bpk baru ditemui perwakilan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dari Kelompok Terap, Bukit 12, Kec. Bathin XXIV, Kab. Batanghari, yang di fasilitasi Pak Robert-Warsi, untuk menyampaikan masalah terkait pengusiran Kelompok tersebut dari HTI PT. Wana Perintis. Sekalipun sama kita ketahui sebelumnya kasus ini sudah di sikapi oleh Kementrian LHK RI, Kemensos RI, atas laporan Pak Robert yang kala itu mengangkat issu Mati Kelaparan, Sakit, dan sebagainya terhadap kelompok ini yang pada tahun 2000 menjadi salah satu kelompok yang wilayahnya menjadi areal perluasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), dari yang sebelumnya 28 ribu menjadi 60 ribu hektar (berkat) dorongan Warsi dengan semangat untuk mejamin sosial, ekonomi, dan budaya Orang Rimba yang ada di Bukit 12.

Pak Gubernur, Sambutan bapak terhadap perwakilan Orang Rimba bersama Pak Robert-Warsi tentu sebuah sikap yang sangat baik selaku Kepala Daerah yang peduli terhadap masyarakat dan pembangunan, termasuk tanggapan bapak atas masalah tersebut dan kenyataan seperti inilah yang harusnya dilakukan, terjalin, dikuatkan dan dipertahankan.

Namun, Dalam kesempatan ini saya bermohon ijin untuk menyampaikan apa yang saya tau tentang Orang Rimba di Bukit 12 yang mungkin saja diperlukan sebagai alas-rujuk dalam menentukan kebijakan terkait Orang Rimba sbb ;

Pertama, yaitu tentang laporan resmi Komnasham tahun 2007 yang merekomendasi kepada kepala daerah di Sarolangun, di Tebo dan di Batanghari,  Pemerintah Provinsi dan Pusat, Balai TNBD, dan seluruh kelompok Orang Rimba yang ada di Bukit 12.

Dalam laporan tersebut secara eksplisit, lugas dan tegas menyampaikan, Bahwa wilayah Bukit 12 yang pada tahun 2000 menjadi taman nasional itu harus mengakomodir kebutuhan-kebutuhan dasar Orang Rimba, menjamin sosial budaya dan ekonomi mereka, memberikan rasa aman, damai, adil dan sebagainya.

Kedua, wilayah bukit 12 yang diperluas menjadi TNBD 60 ribu hektar adalah wilayah yang terdiri dari banyak kelompok yang mecakup kampung-kampung konsentrasi Orang Rimba di sungai Terap, Sungai Makekal, Kejasung Kecil, Kejasung Besar, Air Hitam dan Sungkai, yang secara administrasi adalah wilayah pertemuan 3 kabupaten yaitu Sarolangun, Tebo dan Batanghari, yang secara keadatan mendasari hamparan “Pangkal waris tanah garo, ujung waris tanah serengam, air hitam tempat bejenang” yang hingga kini sistem sosial-budayanya dipimpin oleh 10 Tumenggung yang secara faktual sudah beradaptasi dengan pola sosial umum masyarakat di sekitarnya.

Ketiga, Perluasan areal bukit 12 dari yang sebelumnya 28 ribu ha menjadi 60 ribu tersebut, Sesungguhnya, Seharusnya, hari ini sudah memberikan kesejahteraan dan menjamin kehidupan 3000 jiwa Orang rimba yang ada di Bukit 12. Karena wilayah konsentrasi utama mereka sudah terlepas dan terbebas dari hegemoni eksploitasi HTI, Pertambangan, Perkebunan, dan lain sebagainya yang selama ini dianggap Pak Robert Warsi ancaman bagi kehidupan Orang Rimba di Bukit 12.

Namun, semangat awal TNBD untuk Orang Rimba yang dikukuhkan oleh Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) di tahun 2001 tersebut, Seolah-olah tidak memberikan manfaat nyata dalam melindungi, menghormati, kehidupan orang rimba yang ada disana. Hal ini begitu tampak dari dorongan Pak Robert yang terlalu nafsu ingin terus memperluas area kehidupan mereka, area konservasi, dengan tak henti-hentinya mengekploitasi, mendoktrinasi, menunggangi Orang Rimba yang ada di Bukit 12 dengan berbagai issu seperti mati kelaparan, sakit-sakitan, yang paska itu justru dibantah oleh mereka sendiri.

Pak Gubernur yang saya hormati, jika pola tersebut terus menerus terjadi, ditelan mentah-mentah oleh pemangku kebijakan di negeri ini maka yang terjadi justru penistaan terhadap semangat awal dibentuknya TNBD, Penistaan terhadap Almarhum Gusdur yang pada saat itu Presiden RI, Bapak Bangsa, yang sudah memberikan 60 ribu hektar untuk menjamin kehidupan Orang Rimba di Bukit 12, Penistaan terhadap semangat kemandirikan Orang Rimba yang sudah hidup nyaman dan aman di Bukit 12, dan Penistaan terhadap keharmonisan hubungan Orang Rimba dengan Masyarakat desa di sekitarnya.

Karena akan mengadu domba sesama kelompok orang Rimba, akan mengadu domba orang rimba dengan masyarakat desa, akan mengadu domba orang rimba dengan kepentingan investasi, akan mengadu domba kalangan investor dengan pemerintah, akan mengadu domba Indonesia dengan  internasional, yang sejatinya akan meluluh-lantak sistem yang sudah terbangun baik di jambi menjadi sebuah kekacauan luar biasa dan berkepanjangan. Lalu, Siapa yang menarik untung?

Keempat, Alangkah baiknya jika Bapak bisa mengumpulkan dan bertemu dengan seluruh perwakilan Orang Rimba yang ada di Bukit 12 untuk mengenal, melihat, dan mendengarkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi di Bukit12 dan apa harapan-harapan mereka.

Begitu juga dengan Pak Robert Warsi, selaku orang yang telah mengawal secara intens kelompok Terap selama 18 tahun, Silahkan disampaikan kemajuan macam apa yang sudah dicapai terhadap kelompok tersebut secara jujur dan terbuka.

Demikianlah surat ini saya sampaikan, mohon maaf jika ada kata-kata kurang bekenan, mohon perhatian poin pertama dan ketiga, atas waktu dan kesempatan saya ucapkan terima kasih.

Salam
Willy Azan

Orang Biasa

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement